atomicessaysmipa (571)

AES#01 We've Escaped, Have You?

Salam sejahtera untuk semua.

Perkenalkan saya Budi, biasa dipanggil Aco. Beberapa waktu lalu saya diajak oleh Kak Andy, Rico, dan Kak Akham untuk ikut serta menulis di forum Keluarga Besar SMIPA.
Sebagai pembuka tulisan saya, saya ingin memperkenalkan diri lewat perjalanan terbentuknya Escape Tropical Bar di Sanggar Mitra, Baksil.

Sebelum Escape terbentuk, saya bekerja di Dejima Koohii, sebuah coffee shop yang didirikan sahabat2 saya. Dejima saat ini berlokasi di Kantor Perhutani di Jalan Cirebon, Bandung. Dejima adalah awal mula kesempatan di hidup saya mempelajari lebih dalam tentang kopi dan proses pengolahannya. Singkat cerita, time flies, 3 tahun saya menjadi bagian dari Dejima hingga akhirnya saya memutuskan untuk membangun Escape.

8945137468?profile=RESIZE_710x

 

Inisiasi Escape dimulai pada Juli 2020. Saat itu, sesaat setelah keluar dari Dejima, saya mengajak sahabat saya, Tian, untuk membentuk sebuah Juice Bar. Awalnya tidak sematang itu terkonsep, hanya sekedar jus jalanan dengan varian smoothies dan juice yang cukup menjawab kebutuhan refreshment marketnya. Seiring berjalannya proses, saya dan Tian menemukan satu per satu tantangannya, hingga akhirnya kami dipertemukan satu per satu savior-nya yang mana adalah sahabat2 saya dan Tian juga. Yang pertama adalah Edo, disusul Gani, dan lalu Lian.
Maka, per Agustus 2020 kami berlima, Saya, Tian, Edo, Gani, dan Lian, dengan berbagai keragaman pendapat dan suara, memutuskan dan berkomitmen untuk membangun Cafe dengan tema Tropical bernama Escape.

 


ESCAPE

A Bridge
Singkat cerita Escape terbentuk dengan visi misi dan doa yang menyebutkan adalah sebuah ruang sebagai wadah aspirasi bagi seluruh lapisan manusia. Lebih dalam dari sebuah coffee shop, kami percaya sebuah ruang yang mendukung dan kondusif dapat menstimulus ide, karya, inisiasi, suara dan opini, sehingga mampu menjembatani berbagai perbedaan perspektif.

Getaway
Kami percaya semua orang memiliki sisi kebaikan. Semua orang memiliki niat dan rencana mulia yang terkadang langkahnya dirasa sulit untuk diambil. Untuk berkeputusan mulai dari hal kecil seperti membangun pola hidup sehat, bangun pagi, mulai mendengar selain berpendapat, berani mengeluarkan suara, dsb., hingga memutuskan hal-hal besar seperti menikah, memulai usaha yang diyakini jalannya, dan langkah-langkah besar lainnya yang segala pertimbangan yang mengikutinya rasanya berat untuk mengambil keputusan tersebut. Escape di-desain untuk mendukung program individu dan kelompok yang positif lewat produk, atmosfer, dan program-program yang selalu kami godok dalam proses pengembangannya.

8945253081?profile=RESIZE_710x

Sekian perkenalan singkat dari saya. Semoga nilai-nilai yang saya coba untuk sampaikan lewat cerita singkat ini dapat teman-teman tangkap dan menjadi sepercik energi positif.

Read more…

AES#002 SIRSAK

Tadi pagi.
Ada tupai di atas pohon sirsak, diam mematung.
Ternyata, nona kucing piaraan tetangga ada di bawah dengan posisi siap menerkam.
Diam mematung maksudnya bukan bikin patung, diam bergeming maksudnya.

Bergeming.. ngiiiingg.... ngiiiiinggg..
Bukan juga, kalau begini tonggeret.
Krik.. krik.. Nah ini bergaring.
Bukannya jangkrik ya?

Mau dilanjut ceritanya atau garingannya sih?
Ceritanya!
Oke.
Lanjut ya..LUpa.

Sampai mana tadi?

sama.. LUPA.

Haaa,,,

OH ingat!

Sampai mana?

Sampai lupa.

Bagus.

...

Tiga buah sudah ranum tampaknya dari kemarin sore.
Ada perasaan untuk mengambil, hanya ditunda dulu saja.
Bahkan, penundaan itupun belum ada batas waktu mau diambil kapan.
Bisa jadi paling cepat sore hari nanti ambilnya, kalau ingat itu pun.

Sampai pada kejadian tupai dan kucing tadi mengantarkan padangan pada tiga buah ranum yang tersisa dua setengah.Yaaahh.. setengahnya habis dimakan si tupai.
Yang paling masak buahnya.
Satu baru saja ranum, sedangkan satu lagi baru mengkal muda.Akhirnya, mengambil sapu.
Lha, koq ambil sapu?
Soalnya terasnya kotor, mau nyapu.
OH..

Bukan lah, mau pakai untuk nakutin tupai dan kucing itu biar pada menjauh.
Eh, sebelum sapu dikibas tupainya sudah terbang dan kucingnya sudah hilang.
Yakin terbang?
Lha emangnya ada opsi lain?
Ada, tertelan kucing.

OK.

Akhirnya ambil lah satu sirsak tua yang hampir masak itu, sepertinya lebih baik dipetik dan diletakkan di keranjang.
Satu sirsak yang baru masih mengkal muda menggoda ditinggal, ah tupai pun tau mana yang masak dan tidak.
Kalau pun si satu ini nanti hilang disantap, kemungkinan yang ambil manusia.
Untuk urusan kematangan, hewan sepertinya lebih bijaksana.

Satu lagi, eh maksudnya setengah lagi mana?
Ohiya. Mana tuh?
Bukannya tadi ada?
Iya, ada koq tadi.
Gatau koq sekarang gak ada.
Ah, aneh.

Iya. Aneh.
Sambil mengelap mulut dari sisa sirsak yang sudah ditelan.

Benar memang hewan lebih bijak soal tingkat kematangan buah, manis tanpa asam sisa sirsak setengah itu.
Lalu manusia ini membuat pemaknaan, "Bukan sisa koq, tupai itu memberitahu dan test taste dulu jadi aku bisa menyantap sirsak legit itu. Bersyukurlah."
Ah, entah ini pemaknaan atau pemakluman, entah ini penenang-nenangan atau ketenangan, entah ini keberterimaan atau penerimaan.

Apapun, buka saja semua spasial untuk merasa kesal karena kalah dengan tupai dan rasa senang karena rasa buah yang membahagiakan.

Bersamaan.

Sekaligus iya dan sekaligus tidak, sekaligus ada sekaligus tiada.

Sekaligus biar gak sekalian.

Read more…

AES#02 Perfeksionisme

 

Masih terkait habit, satu problem yang juga sering jadi penghalang berkarya adalah perfeksionisme. Jika ditelusuri akar masalahnya, barangkali ada beberapa. Salah satunya, rasa khawatir tentang penilaian orang atas karya kita yang menurut kita masih jauh dari sempurna. Tidak bisa dimungkiri, memang ada budaya sinis dan suka mengejek di masyarakat.

Untuk itu, ada dua hal yang dapat kita perhatikan. Terutama bagi anak-anak kita yang sedang bertumbuh. Pertama, perlu disadari bahwa orang yang menghasilkan karya jumlahnya sangat kecil secara persentase populasi. Mayoritas manusia hanya mengonsumsi karya orang lain. Maka itu, anak yang berani berkarya adalah anak yang hebat. Kedua, anak sebaiknya membagikan karya di komunitas yang berbudaya sehat dan protektif, seperti di Semi Palar ini. Nanti setelah mental mereka kuat, baru dibagikan ke khalayak luas.

Namun ada pula yang bukan karena takut terhadap penilaian atau cemoohan. Murni karena keinginan membuat karya yang sempurna.

Dalam buku Art & Fear, dikisahkan seorang guru kerajinan tembikar membagi kelasnya ke dalam dua kelompok: X dan Y. Sang guru mengatakan bahwa kelompok X dinilai hanya berdasarkan kuantitas karya yang mereka hasilkan. Makin banyak, makin tinggi nilainya. Sedangkan kelompok Y akan dinilai berdasarkan kualitas. Makin bagus, makin tinggi nilainya. Setiap anggota kelompok Y diminta hanya membuat satu buah karya terbaik yang bisa mereka hasilkan selama masa kursus berlangsung. Setelah kursus berakhir, sang guru menemukan bahwa karya-karya terbaik tidak satu pun berasal dari kelompok Y. Semuanya dari kelompok X.

Quantity leads to quality.

 

“If I waited for perfection... I would never write a word.” ― Margaret Atwood

 

Read more…

Esai ke empat saya masih tentang habits (kebiasaan). Kita tahu bagaimana sulitnya membangun kebiasaan, salah satu contohnya adalah menulis – dalam kaitannya dengan Atomic Essay Smipa.

Sejak beberapa tahun yang lalu, pernah kita coba Bersama apa yang kita sebut namakan lingkar blogger. Dulu asumsinya, apabila blogging ini kita lakukan bersama-sama, motivasi antar kita akan mendorong kita lebih produktif menulis. Sepertinya hal ini betul – karena secara kolektif, ada rasa kebersamaan yang mendorong kita satu sama lain untuk menulis.

Kenapa Lingkar Blogger Smipa tidak berhasil, sepertinya kita lupa – atau tepatnya belum memahami apa yang terjadi di level individu. Bagaimana proses membangun habit di dalam diri seseorang – di dalam diri kita. 

Sejak sekitar setahun yang lalu, sejak saya mulai mendalami waktu hening (meditasi) saya jadi sangat tertarik memahami bagaimana pikiran manusia bekerja. Ternyata ini hal penting yang luput kita cermati. Sejak mengikuti pemikiran2 Sadhguru, Dalai Lama, juga Dandapani sekitar setahun yang lalu, saat ini saya sedang sangat mengikuti beberapa tokoh seperti Dr. Joe Dispenza, Dr. Bruce Lipton, Gregg Braden dll. Bisa dibilang tokoh-tokoh ini mewakili alam pemikiran Timur dan Barat.

Video yang saya tempatkan di atas ini (durasi 4:42), kalau kita pahami dengan baik, menjelaskan dengan sangat sederhana bagaimana pikiran dan emosi bekerja dikaitkan bagaimana manusia mengubah kebiasaan dan perilakunya. Kalau kita memahami hal ini, kita akan tahu bagaimana caranya mengubah kebiasaan dan perilaku kita.

Ada kutipan (quote) yang saya yakini betul : If you want something to change, you have to change something… Jadi kita tidak bisa hanya mengharapkan terjadinya perubahan tanpa berupaya mengubah sesuatu. Kalimat penting dari video di atas ini : “…You begin to become conscious of your unconscious actions or habits or behaviours to modify them…” Singkatnya, kesadaran adalah kunci dalam melakukan sebuah perubahan dalam diri kita.

Sampai jumpa di esai berikutnya.

Read more…

AES#001 BIBIT

Beberapa hari lalu sempat kepikiran karena nemu potongan postingan  https://www.youtube.com/watch?v=kUFbvBBmvmw  pas bagian lirik berikut.

...
Mau kritik sama Corona, Coronanya nggak kelihatan
Mau kritik pemerintah takutnya dipenjarakan
Pemerintah bikin aturan sungguh sangat membingungkan
Mau mudik nggak dibolehkan, tempat wisata kok diizinkan
...

Kepikirannya sih sederhana. Kalau liriknya diganti jadi begini.

...
Mau kritiS sama Corona yang nggak kelihatan, hindari saja kerumunan
Mau kritiSi pemerintah biar gak dipenjarakan, gak usah menantang yang lagi tugas di jalan
Namanya aturan jelas lah parsial, membingungkan dong kalau diterapkan universal
Mudik nggak dibolehkan & tempat wisata diizinkan, apapun aturannya intinya sadar lingkungan
...

Jadi gimana nada yang pas?
Kalau gak enakeun malah bisa gak se-viral kemarin, nanti jadi gak laku gak ada yang nonton.

Kepikiran lebih dalamnya, apakah kita sedang dalam situasi krisis berpikir.
Soalnya tampak banyak yang menanam bibit berpikir kritik, daripada bibit berpikir kritiS.
Belum lagi kebutuhan "tindakan yang (mengalir) menggugah perasaan daripada perkataan yang (memaksa) mengubah pemikiran", lagi antri untuk dapet status krisis juga.

Read more…

Mengapa harus menulis?

 

Menulis bagi saya adalah jalan untuk menyampaikan isi pikiran, lebih baik daripada komunikasi verbal.

Ya! Saya memang pernah memiliki kesulitan dalam komunikasi verbal. Terkadang, apa yang saya sampaikan berbeda dengan apa yang ada di pikiran.

Sejak kecil saya terbiasa diam dan larut dalam catatan di buku-buku harian, mungkin karena budaya keluarga yang juga tidak saling berkomunikasi. Bicara hanya seperlunya, kalau ada yang penting, tidak lebih dari itu.

Kebiasaan itu tentu saja terbawa hingga dewasa, sekolah, kuliah, bahkan dunia kerja. Suatu hari pernah saya dicap, "Orang kaya kamu ga akan berhasil di dunia ini, mau jadi apa?" di depan banyak orang. Bersyukur ada satu orang yang membela, "Dia bisa jadi penulis buku kok!" disaat saya hanya bisa terdiam.

Dan, ajaib… Beberapa tahun kemudian ucapan itu menjadi kenyataan. Sebuah pencapaian, saya berkontribusi dalam penulisan buku pendidikan bersama Komunitas Guru Belajar, tidak hanya 1 tapi 3 buku. 

Padahal kalau melihat kembali ke masa sekolah SMA dulu, saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah remaja, dan tulisan saya masuk dalam lima besar. Saya bahagia, tapi sekaligus merana, karena ternyata kemampuan menulis juga harus diikuti dengan kemampuan menyampaikan tulisan dengan bahasa lisan yang baik. Ketika saya harus mempresentasikan karya tulis di depan juri dan penonton lain, rasa cemas saya kambuh, keringat dingin, seperti bisu, dan air mata pun mengalir. Sejak hari itu saya langsung merobek dan membakar semua buku harian tanpa tersisa, hati saya terkoyak. Saat itu hanya bisa terisak tanpa berkata. Saya mempermalukan diri sendiri dan tentu saja, sekolah yang saya wakili. Kemudian saya berjanji pada diri sendiri, saya tidak mau menulis apapun lagi.

Lalu, bagaimana saya bisa kembali menulis? Jawabannya akan saya tulis dalam tulisan berikutnya... 

Salam,

Read more…

AES#01 Membangun Habit

 

Gerakan Atomic Essay Smipa adalah wadah kita untuk belajar dan membangun habit bersama-sama di komunitas Semi Palar. Tujuan utama kita menulis di sini bukan agar tulisan kita dibaca orang, tapi lebih untuk peningkatan diri kita sendiri.

Saya merasa masih sangat jauh dari optimal dalam soal habit dan disiplin. Maka itu, senang sekali jika dengan cara ini saya nanti bisa rutin menulis.

Stephen Covey mengatakan, ”We become what we repeatedly do.” Ya, diri kita adalah agregat kebiasaan-kebiasaan kita.

Membangun habit memang tidak mudah. Disiplin itu berat.

Kalau kita perhatikan, sepertinya semua hal yang baik memang lebih sulit daripada yang buruk. Memasak makanan sehat lebih sukar dan lama ketimbang makanan instan yang tak sehat. Mengelola sampah lebih repot ketimbang buang sampah sembarangan. Sabar lebih berat ketimbang marah. (Tidak marah maksudnya tidak merasa tersinggung. Amarah yang disimpan, yang tidak diluapkan/dilampiaskan, tetap saja buruk efeknya bagi kita.)

Tapi berat bukan berarti mustahil.

Lagipula, hanya dengan disiplin dan konsistensi kita bisa mencapai kualitas tertinggi dari potensi diri kita. Sedangkan potensi diri sifatnya laten: kita tidak akan pernah tahu jika tidak digali dan dilatih.

Kita sering tidak memulai sesuatu karena menunggu motivasi. Namun sesungguhnya “action comes before motivation”. Kita harus mulai dahulu. Motivasi dan semangat akan mengikuti aksi. Demikian pula dengan energi. Kita seharusnya tidak menunggu energi yang melimpah untuk mulai berolah raga, karena justru olah raga mendatangkan energi. Energi yang kita punyai adalah hasil dari makanan yang kita konsumsi dan jumlah mitokondria dalam sel-sel tubuh kita. Semakin kita aktif, semakin banyak mitokondria yang diproduksi oleh tubuh.

Mari kita mulai. Supaya tidak berat dan bisa berkelanjutan, kita mulai dari yang kecil.

 

“Inspiration exists, but it has to find you working.” ― Pablo Picasso

 

Read more…

 

Tulisan ke tiga saya untuk Atomic Essay adalah tentang apa yang berbeda dari hal-hal yang selama ini jadi pengalaman selama mencoba menulis / blogging di berbagai platform.

Ini tulisan saya yang ketiga dalam kontek Atomic Essay Smipa. Sudah jam 8 malam, tapi saya masih berhutang tulisan saya. Saya jadi ingat komitmen saya saat menuliskan tulisan yang pertama – bahwa Atomic Essay adalah perkara membangun kebiasaan / tuman. Seperti halnya pengalaman saya melaksanakan waktu hening setiap hari atau bersepeda setiap minggu: rutinitas, disiplin dan konsistensi jadi kata kuncinya.

Sekarang jam delapan malam, saya memutuskan untuk mulai esai yang ketiga ini. Sebelumnya saya berpikir apa yang mau saya tuliskan hari ini. Ada berbagai ide – tapi saya pikir ini saat yang baik untuk menuliskan apa yang saya alami saat menuliskan Atomic Essay. Apa yang berbeda dari proses menulis saya yang sebelum-sebelumnya.

Akhirnya saya berpikir menulis tentang ini... Tulisan saya ketik di Word – untuk bisa mengetahui jumlah word count selagi saya menuangkan apa yang terlintas di kepala ini. Toh kontennya tidak jadi terlalu penting. Yang penting apa yang bisa saya tuangkan ke dalam baris-baris kalimat ke dalam esai pendek ini. Saya juga iseng-iseng menyalakan stop-watch di hape saya untuk bisa memantau berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah atomic essay.

Baru saja melirik ke word count : Angka sudah menunjukkan 221 words... Waktu menunjukkan 7 menit, 53 detik... Ternyata sama sekali tidak memakan waktu lama dan tidak sulit juga mencapai batas kuota 250 kata untuk sebuah atomic essay. Hmm tercapai sudah 250 kata.

Jadi sebagai penutup – buat teman2 yang ingin mencoba memulai – jangan banyak berpikir. Ternyata tidak sampai 10 menit juga waktunya. Dan hari ini saya sudah mencapai target untuk atomic essay saya yang ketiga. Mari mencoba... Tulisan ini saya akhiri dengan hitungan 299 kata... Salam Literasi.

Read more…

AES#2 Escape

Hari ini saya mau nulis tentang Escape... pojokan asik tempat ngopi yg ternyata orang-orang di dalamnya bukan orang jauh juga. 

Kebetulan pagi ini saya gowes sama Rico dan mendarat di Escape. Kebetulan juga sudah buka. Tempat yang ambience nya asik di salah satu pojokan Babakan Siliwangi. Tempat ini masih nyambung-nyambung juga sama komunitas Semi Palar. Sebagai bagian dari Sanggar Mitra yang dikelola kang Wahyu (ayah Lian Zheva Niwa Lakisha) adalah anggota keluarga besar Semi Palar sejak lama. Escape sendiri didirikan Lian dan teman-temannya. Pengelolanya (Budi) atau yg biasa dipanggil Aco juga ternyata nyambung2 juga sama salah satu kakak Smipa. 

8934248294?profile=RESIZE_710x

Babakan Siliwangi adalah juga tempat yg rutin sy kunjungi setiap minggu waktu gowes. Gowes sy ga jauh-jauh. Rutenya berkeliling jalur-jalur hijau (jalanan yang banyak pepohonannya) di kota Bandung. Cari tanjakan secukupnya sampe keringetan, nafas dan detak jantung meningkat, lalu finish di tempat sarapan. Gocapan istilahnya. Gowes Cari Sarapan (istilahnya para pegowes). 

Kembali ke Escape, di tempat ini obrolan tentang Atomic Essay bermula. Digagas oleh Ahkam yg menggagas platform bersama Ririungan ini. Sedikit cerita tentang gagasan ini ada di posting saya yang ini.

Sebagai pojok tempat ngopi, Escape enak banget. Salah satu faktor dominannya ya lingkungan Babakan Siliwangi sebagai hutan kota. Settingnya di ruang terbuka dengan meja2 dari batang2 kayu… Dedaunan yang terus berguguran jadi pelengkap suasana. Mengingatkan bahwa ini memang hutan kota. Hal lain yang mengingatkan bahwa ini hutan kota adalah suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. 

8934248500?profile=RESIZE_584x

Di meja kayu ini beberapa obrolan berlangsung. Dan beberapa gagasan lahir. Salah satunya tentang atomic essay smipa yang mendorong lahirnya tulisan ini juga. 

Tak terasa esai saya yang kedua tuntas dengan jumlah kata lebih dr 250 kata… tidak banyak makan waktu juga. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 

 

Read more…

Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa

Seperti yang disampaikan Kak Andy pada tulisan “Membangun Tuman (habit/kebiasaan) Baru”, kita memulai Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa.

 

Panduan Kegiatan

  • Atomic Essay: tulisan pendek, sekitar 250 kata.
  • Tema tulisan bebas. Boleh tentang apa saja. Tentang perkembangan anak-anak kita. Hobi kita. Kisah pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Gagasan-gagasan. Renungan.
  • Tulisan diupload ke Blog Warga di Ririungan. Video tutorial cara menulis blog di Ririungan sudah dibuatkan Bu Kuri di sini.
  • Bubuhkan "atomicessaysmipa" di kotak Tags ---> letaknya di bawah, kotak kecil ketiga. 

 

Meskipun kita tidak berniat jadi penulis profesional, ada banyak manfaat menulis bagi peningkatan kualitas hidup. Berikut ini tiga kegunaannya.

Membangun kebiasaan positif

Dalam buku Atomic Habits, James Clear mengatakan:

  • You do not rise to the level of your goals. You fall to the level of your systems.
  • Build a system for getting 1% better every day.
  • Just as atoms are the building blocks of molecules, atomic habits are the building blocks of remarkable results. This is the meaning of the phrase atomic habits—a regular practice or routine that is not only small and easy to do, but also the source of incredible power; a component of the system of compound growth.

Menurut James Clear, untuk membentuk kebiasaan baru, kita mulai dengan yang sangat kecil dahulu. Jangan langsung dipaksakan dengan yang berat-berat. Bangun dulu otot habitnya. Banyak orang gagal membentuk habit karena targetnya terlalu tinggi.

Satu kebiasaan kecil positif akan memberikan kepuasan dan dorongan untuk membangun kebiasaan-kebiasaan positif lainnya.

Prinsip Atomic Habits sebetulnya selaras dengan sebuah nilai yang kita yakini bersama di Smipa, yaitu MDK: Mulai Dari yang Kecil.

 

Meningkatkan kualitas berpikir

Di dalam otak kita, banyak hal berseliweran silih berganti. Belum selesai kita memikirkan satu hal, sudah muncul pikiran tentang hal lain. (Sebuah studi yang dilakukan sekelompok ahli psikologi di Queen's University, Kanada, menyebutkan bahwa rata-rata setiap orang memikirkan 6.200 hal per hari.) Pikiran-pikiran kita abstrak dan berkabut. Untuk membuatnya konkret dan jernih, kita perlu menulis. Dengan menuliskan pikiran, kita dapat melihat rangkaian logikanya secara utuh—sudah benar atau belum. Saat menulis, kita bisa fokus memikirkan satu hal yang penting bagi kita hingga tuntas. Tidak loncat-loncat lagi.

Sebuah artikel Sparring Mind menganalogikannya seperti "browser tabs":

Writing closes out your “mental tabs”.

Have you ever had too many internet tabs open at once? It is a madhouse of distraction.

Sometimes I feel like my brain has too many tabs open at once. This is often the result of trying to mentally juggle too many thoughts at the same time. 

Writing allows abstract information to cross over into the tangible world. It frees up mental bandwidth, and will stop your Google Chrome brain from crashing due to tab overload.

 

Meningkatkan kualitas belajar

Atomic Essay yang kita tulis bisa tentang topik tertentu yang sedang kita pelajari. Salah satu cara efektif memahami sebuah subjek (dari buku, artikel, podcast, ataupun video) adalah dengan menuliskannya kembali dengan bahasa/cara penyampaian sendiri. Fenomena ini disebut Generation Effect (Slameka & Graf, 1978).

 

Demikian pengantarnya. Semoga teman-teman di komunitas Semi Palar berkenan ikut dalam Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa. Salam literasi, salam Smipa.

 

Writing is the most important practice in my life; for my fulfillment, excitement, professional success, and personal success — Tim Ferriss

 

Read more…

Membangun Tuman (habit / kebiasaan) Baru

Beberapa waktu lalu, di tengah rutin saya bersepeda setiap hari Minggu, tanpa direncanakan kami kumpul di Escape, warung kopi kecil di Babakan Siliwangi. Escape ini didirikan oleh Lian (alumni KPB) dan di kelola olah seorang rekan (Budi) yang ternyata nyambung-nyambung juga dengan keluarga besar Smipa. Jadi pagi itu, saya Rico, Ahkam dan Budi - yang dipanggil Aco, kita berbincang bersama. Pagi itu, kebetulan Ahkam juga mampir - dalam perjalanan ke BEC untuk mereparasi hapenya yang rusak.

Obrolan pagi itu bergeser ke sesuatu yang sudah lama sekali kita upayakan, mengenai membangun kebiasan menulis - yang notabene sudah kita pahami betul kepentingan dan signifikansinya, tapi sangat sulit kita bangun kebiasaannya. Saya sendiri memulai blogging sudah sejak tahun 2006 (kalau saya tidak salah ingat). Sempat menulis di berbagai platform (blogspot, wordpress, medium dan di Ririungan ini) untuk mencoba berbagai ruang dan platform yang berbeda. Tapi toh belum berhasil juga. Dalam obrolan ini, muncul gagasan dari Ahkam tentang mencoba menerapkan Atomic Habit. Yang akhirnya digeser dalam konteks penulisan ke Atomic Essay. Intinya yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah habitnya - kebiasaannya. Bukan isi tulisannya. Atomic Essay itu sendiri setau saya adalah pembiasaan menulis - tema apapun mulai dari jumlah sedikit, mulai dari 250 kata. Tapi hal ini harus dilakukan setiap hari setiap hari tanpa putus. Sering kali usaha kita menulis terputus karena kita terlalu fokus pada konten dan isi tulisan kita. Pola pikir ini yang perlu diperbaiki. Dengan kebiasaan menulis - kualitas tulisan bisa diperbaiki sejalan dengan waktu.   

Sampai satu batas waktu tertentu - setau saya 120 hari, habit atau kebiasaan itu baru mulai terbangun dalam diri kita. Kenapa begitu - ternyata fisiologi otak kita yang berpengaruh terhadap hal itu. Setiap hari badan kita meregenerasi jutaan sel baru, termasuk sel-sel otak kita. Otak kita terbangun dari miliaran Neuron yang saling terkoneksi. Bagaimana koneksi neuron inilah yang menentukan bagaimana kita berpikir dan bertingkah laku. Membangun kebiasaan baru tidak mudah karena kita perlu membangun jaringan otak baru di atas jaringan otak yang saat ini ada dan bekerja. Ada ungkapan Neurons that Fires together Wires Together. Di sinilah letak kuncinya. Kebiasaan baru perlu repetisi yang dilakukan terus menerus secara konsisten supaya jaringan otak yang baru bisa terbangun di atas habit / kebiasaan lama yang terprogram dalam otak kita.  

 

Dalam video di atas Dr. Joe Dispenza bagaimana mekanisme ini bekerja dalam tubuh kita. Memahami mekanisme ini membuat kita paham bagaimana bisa memprogram kembali mekanisme berpikir (cara bekerja otak kita) lewat hal2 baru yang kita ingin wujudkan dalam hidup kita.

Tanpa disadari (walaupun cukup diupayakan), ada 2 kebiasaan baru yang berhasil saya bangun di masa pandemi. Yang pertama adalah melakukan waktu hening setiap pagi - sebelum mulai kegiatan di hari itu. Praktik meditatif ini berhasil saya lakukan dengan cukup konsisten sudah lebih dari setahun. Yang kedua adalah olah raga rutin walaupun baru seminggu sekali - saya bersepeda bersama Rico. Sejauh ini selama lebih dari setahun bersepeda mingguan ini bisa rutin dilakukan dan bolong hanya dua kali - sepanjang ingatan kami. Kedua hal ini saya rasakan sangat berdampak untuk diri saya selama setahun ini - yang mudah2an bisa saya bisa saya kisahkan di tulisan berikutnya. 

Saya copas salah satu comment di bawah video youtube tersebut - menyimpulkan secara sederhana apa yang disampaikan Dr. Joe Dispenza.
 
    1st: Realise your bad habit
    2nd: Plan the action to take

    3rd: Be super determined to it everyday
    4th: Repeat the action until it becomes your new habit.

Sebagai penutup, mudah2an tulisan pendek ini bisa jadi awalan buat saya membangun Atomic Habit dalam menulis. Anggap saja ini Atomic Essay saya yang pertama. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mudah2an tulisan ini bisa menjadi motivasi buat rekan-rekan lain untuk melakukan hal yang sama. Hatur nuhun sadayana.

cover image : Getty Images

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa