atomicessaysmipa (571)

AES#2 Get Disciplined

One of the most important skills to have, whatever you may do in life, is discipline. And it’s definitely the number one thing I need to work on for myself. All my life I’ve relied on spur of the moment motivation to help me complete tasks and responsibilities, and to say it’s inconsistent is an understatement. Another thing about relying on motivation is that it doesn’t last long, and when you run out of motivation you can be stuck for a long time before you get it back.

If I keep relying on motivation, I’ll spend my whole life starting and stopping, never progressing in a meaningfully consistent way, so I have to find a better way. I’ve been talking with my father a lot about designing a better daily schedule and building better habits, it takes 21 days for a habit to begin forming, but 90 days for you to completely embody it. By building better habits you slowly change how you perceive yourself, and your outlook on life in general. You can’t completely change yourself in one day, so do it little by little, day by day, step by step, but make sure you keep progressing, no matter how slow.

“It gets easier, you have to do it every day, that’s the hard part, but it does get easier.”

In the end, we’re faced with a simple choice, experience the pain of discipline, or the pain of regret. Discipline is actually one of the strongest forms of self-love, it’s putting aside the temptations of current pleasures in order for bigger rewards to come, it’s loving yourself enough to give yourself everything you’ve ever wanted.

Read more…

AES#06 Jurnal

Kita semua sudah sering mendengar manfaat menulis jurnal atau diari. Tulisan tentang hari-hari kita yang sifatnya pribadi sebagai bahan refleksi diri. Tapi kita kebanyakan gagal juga melakukannya secara kontinu.

Ada seorang teman yang telah mencoba berbagai teknik: sebaris kalimat sehari, menulis bebas, doodling, bullet journal—semuanya tak berhasil. Sampai akhirnya dia menciptakan metode sendiri. Jurnalnya mingguan. Jadi, memang tidak bisa lagi disebut sebagai “buku harian”. Tapi bagi dia yang terpenting ada catatan rutin dan kontinu tentang hidupnya.

Dia menamakan metodenya “Plus, Minus, Next”. Bentuknya seperti ini:

8958932461?profile=RESIZE_710x

Di atas kotak dicantumkan tanggal. Kolom Plus adalah untuk semua hal positif di minggu lalu (rencana yang berhasil dijalankan, pengalaman menyenangkan, dsb.). Minus adalah untuk semua hal negatif di minggu lalu (rencana yang belum dijalankan, kesalahan yang dilakukan, dsb.). Next adalah semua agenda untuk minggu depan. Jika isi di kolom Next terlalu banyak, baru dia gunakan Eisenhower Matrix untuk memastikan prioritasnya tertuju pada agenda yang paling utama.

Menurut dia, keunggulan sistem ini adalah fleksibilitasnya. Dia tak perlu memisahkan hal-hal yang menyangkut kehidupan personal dan profesional sebab setiap aspek saling terkait. Selain fleksibel, sistem ini juga berorientasi ke depan. Bila ada sebuah rencana yang belum dia lakukan di minggu lalu, dia tidak perlu menghukum dirinya. Cukup dimasukkan saja ke kolom Next.

 

"People who keep journals have life twice."Jessamin West

 

Read more…

AES#04 The Umeboshi Theory

The reason why people envy others is …

 

Saya sangat suka nonton anime, selain karena mengagumi gambar atau bahasanya, tapi saya belajar beberapa nilai-nilai moral yang baik dalam film anime tersebut.

Salah satu contohnya, film "Fruit Basket", animasi yang bercerita tentang keluarga Sohma yang dirasuki arwah dari hewan yang masuk dalam 12 shio. Mereka akan berubah dari bentuk manusia jika sedang lemah fisik, stres, atau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan dari keluarga Sohma.

Tokoh utama Honda Tohru, adalah seorang anak perempuan yang kehilangan orangtuanya. Sepeninggal Ibunya, ia tinggal di sebuah tenda tak jauh dari rumah salah satu keluarga Sohma. Di rumah itu tinggal Shigure (anjing), Yuki (tikus), dan Kyo (kucing).

Singkat cerita, ternyata Honda, Yuki, dan Kyo adalah teman satu sekolah. Tidak tega melihat Honda tinggal di tenda, akhirnya keluarga Sohma mengijinkan Honda tinggal di rumah mereka dengan imbalan Honda membantu pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, piring, membersihkan rumah, dll.

konflik dalam anime ini terjadi ketika Kyo (kucing) dan Yuki (tikus) selalu bertengkar hebat. Jika teman-teman pernah mendengar cerita mengapa kucing tidak masuk dalam salah satu shio? Ternyata tikus mengelabuinya, dari situlah permusuhan antara kucing dan tikus dimulai, kucing sangat membenci tikus.

Tapi, bukan cerita itu yang ingin saya bahas disini. Pada episode 7, Tohru membuat sebuah teori yang dilatarbelakangi oleh perselisihan antara Kyo dan Yuki. Dibalik perselisihan tersebut, ternyata mereka berdua saling mengagumi satu sama lain, Honda menyadari hal tersebut. Teori ini dikenal sebagai "The Umeboshi Theory" diantara para penggemar anime Fruit Basket.

8958039280?profile=RESIZE_710x

"People's good qualities are like an umeboshi on an onigiri.

Tohru mengibaratkan, jika 'good point' seseorang adalah umeboshi (isian onigiri berupa potongan buah plum kering) dalam onigiri (nasi kepal khas Jepang yang dilapisi rumput laut), orang tersebut tidak akan pernah bisa melihatnya, karena ia ada di belakang.

 

Onigiri berkata, "I have nothing… I only have white rice…"

 

Onigiri tersebut tidak pernah menyadari bahwa umeboshi dia terlihat bagus dan enak dimata onigiri lain. Tentu saja dia tidak dapat melihatnya, karena ada dibelakangnya.

Everyone has their umeboshi on their back, with so many beautiful shapes.

Mungkin saat ini ada orang yang cemburu pada kita…

Mungkin saat ini ada orang yang mengagumi apa yang belum kita sadari ada dalam diri kita…

The reason why people envy others is …

Karena orang lain mampu melihat dengan sangat jelas keistimewaan kita.

Teori ini terhubung dengan pesan dari seorang Bikhu yang saya temui di Vihara Dhammacakhajaya di wilayah Sunter beberapa tahun silam. Saat itu saya sedang mempelajari agama Budha, Bhante Adhiratano memberikan saya sebuah buku dengan pesan didalamnya; 

"Setiap orang mempunyai permata yang berharga, tetapi hanya sedikit yang menyadarinya."

8958087292?profile=RESIZE_710x

 

 

Salam,

Read more…

AES#04 GeForce RTX

Sekarang balik lagi ngobrol yang agak santai, ya!

Memotivasi anak remaja untuk belajar disiplin ternyata sulitnya minta ampun. Sejak masuk SMA, Kano yang kemarin lulus SMP dengan memperoleh piagam penghargaan karena prestasi akademik dari presiden Amrik langsung terjun bebas! Alasannya, sekolah baru ga enak, gurunya nyebelin, dan keluhan2 lainnya.

Saya berusaha memberikan motivasi dan reinforcement sekuat tenaga. Walau punya pengalaman belasan tahun jadi guru, kalau menghadapi anak sendiri kok susahnya ampun-ampunan. Jangankan anak jadi punya motivasi, ujung-ujungnya malah berantem! Serius loh, sama anak orang saya bisa jauh lebih sabar daripada dengan anak sendiri. Pusing tujuh keliling, berusaha mencari cara untuk memotivasi sulitnya minta ampun.

Kano hobby bermain game, itu mungkin salah satu alasan mengapa banyak waktu dia terbuang. Yang harusnya digunakan untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah, dia lebih banyak menggunakan waktunya untuk game! Babak belur deh! Suatu saat hampir di akhir semester dia punya hutang tugas tidak tanggung-tanggung: 64 tugas!!! Butuh keajaiban untuk menyelesaikan ini semua dalam 2 minggu!!!!

Memanfaatkan kegemarannya, saya memancing dia untuk berprestasi di sekolah dengan janji bahwa jika urusan sekolah membaik, saya akan mencoba memberi dia gaming computer. Nah dia langsung terlihat bersemangat dan tampak tugas-tugas dia mulai dikerjakan dengan lebih lancar dan jauh berdisiplin. Kemudian, terjadi petaka baru karena saya dan istri kurang ada kerja sama yang baik, ceritanya gini:

Sebagai siswa program IB, dia punya personal project sebagai salah satu syarat kelulusan. Tiba-tiba istri bilang ke Kano bahwa komputer tidak akan dijadikan sebagai hadiah tapi sebagai personal project, dia harus bangun komputer itu sendiri! Karena apapun yang terjadi dia pasti dapat komputer, urusan sekolah mulai menurun lagi. Dia lebih memikirkan riset bagaimana cara membangun komputer dari pada tugas sekolah dan akhirnya kelas-kelas lain terjun bebas lagi. Hadeuh!!!

Mungkin situasi ini terjadi karena masalah perkembangan. Kehidupan remaja tampaknya dikendalikan oleh hormon-hormon yang mengacak-acak segala hal. Apapun yang kami coba gagal total. Kadang saya sampai sulit tidur karena memikirkan segala hal serta membaca banyak referensi soal perkembangan seorang remaja. Saya yang dahulu selama belasan tahun bergumul dengan para remaja di sekolah, sekarang seolah-olah masuk ke dunia yang sama sekali tidak saya kenal. Ya Tuhan, kemana anak ganteng yang manis yang membuat ibu Sum ketakutan merokok karena selalu diomeli Kano??? anak itu sepertinya sudah dimakan oleh seorang monster ganas yang galak dan tidak bisa diatur!!!

Miracle! miracles do exists saudara-saudara. Entah apa yang terjadi, mungkin karena dia belajar dari sebuah kegagalan, setelah lewat Fall semester, anak manis itu tiba-tiba nongol kembali! Saya mendapat banyak email, terutama guru bahasa German yang memuji-muji Kano bahkan memberikan nilai A+! Saya tidak terlalu berpatokan dengan angka, saya lebih mau melihat apakah anak ini bertanggung jawab dan disiplin, itu saja. Nilai bukan patokan, yang penting dia tidak gagal di kelas! Spring semester terlihat dia berubah total, weekend dia bisa duduk manis bareng kami di depan TV sambil selonjoran. "Can I join you guys? I have caught up with everything, no more assignment!" katanya

Saya seperti dapet lotre! My son is back. He has killed the monster! Percaya atau tidak, menghadapi remaja itu seperti sedang berusaha memecahkan sebuah misteri. Saya berusaha mengingat-ingat kembali apa yang saya alami semasa remaja, tapi jelas sangat berbeda dan sungguh saya tidak punya clue sama sekali apa yang sedang dialami oleh Kano. Apapun yang saya katakan akan berkahir dengan pertengkaran. Yang saya lakukan akhirnya memberikan dia space! I gave him a chance to figure it out himself (well, sambil terus memonitor dari jauh tentunya) Sungguh bukan hal yang mudah, karena saya merasa sedang berjudi dan resikonya sangat besar jika akhirnya nanti hancur. Kedua, saya berusaha memberikan 10000% trust, kepercayaan. Percaya bahwa dia punya conscience yang baik, dia punya rasa tanggung jawab yang sudah dibentuk sejak kecil. Percaya bahwa sebetulnya dia sebuah pribadi yang indah, and I try to give him a chance to see it himself! Yah, kelihatannya lumayan berhasil. Dia terlihat jauh lebih mandiri, terorganisir dan sekolah tampak berhasil dengan sangat baik.

Sekarang bapaknya tidur lebih nyenyak dan saat ini sedang sibuk nyeruput kopi sambil senyum-senyum bercerita. Lalu kenapa judulnya GeForce RTX? ah itu sih gara-gara lihat doos bekas bungkus hardware yang Kano beli ketika dia ngerakit komputernya hehehehe...***

Read more…

AES#01 Business Model Canvas

Hai namaku Gina, ini kali pertamaku ikut menulis di ririungan semipalar ini. Sedikit spoiler aku bukanlah orang yang sering menulis, jadi bila tulisanku berantakan mohon dimaklumi saja ya teman-teman. Hari ini aku mau coba share sedikit ilmu yang aku dapet dari webinar beberapa hari lalu, yakni tentang Business Model Canvas, karna saat ikut pembelajaran sama anak KPB di semipalar mereka ternyata sedang mencoba untuk mengaplikasikan ini. Jujur itu adalah kali pertamaku mendengar itu. Memang sih walalupun aku punya bisnis kecil-kecilan, tapi pengetahuanku tentang bisnis sepertinya sedikit sekali dan aku adalah tipe orang yang learning by doing, jadi biasanya aku nyebrus dulu, ketemu masalah sampe mentok baru deh cari teorinya. Tapi memang cara seperti itu efektif sekali untukku, dari pada aku menjejali dulu diriku dengan materi, paling besok juga lupa.

Nah kebetulan beberapa hari yang lalu temanku memberikan sebuah brosur webinar, diatasnya tertulis Business Model Canva, tertarik doong kan ini yang diomongin anak smipa kemarin nih, aku harus cari tahu lebih lanjut. Dan setelah aku ikut webinarnya ternyata I do this things hahaha, aku sempat buat board kaya gini tapi gatau kalo ternyata itu namanya business model canvas (BMC), memang lucu diriku ini.

Dari webinar ini aku banyak banget dapet insight baru sih soal business model canvas ini, kalo soal pengertiannya sih kalian bisa cari sendiri di google ya, udah banyak disana. Salah satu yang paling ngena adalah tentang bisnis itu adalah tentang perilaku, dan BMC ini hanyalah sebuah alat untuk mengtranslate ide bisnismu agar orang lain mudah mengerti, jadi jangan jadikan BMC ini sebagai model bisnismu, dan terpaku dengan itu. Karna bisnis ini adalah tentang perilaku, dan setiap orang memiliki caranya sendiri atau perilakunya sendiri dalam menjalankan bisnis, jadi jangan takut kalo ditanya model bisnis apa yang kamu pakai dalam bisnismu? Bilang saja ini model bisnisku. Sebenarnya ada banyak sekali yang aku dapatkan dari webinar ini, kaya tentang blue ocean dan red ocean. Hayooo tau ga apa itu? Atau baru denger? Hahaha

Tapi sharingnya mau aku cicil aja ah, biar aku punya alasan dan semangat untuk terus ikut nulis di ririungan ini.

Read more…

AES#08 Kerennya Atomic Essay

8956063062?profile=RESIZE_400xKemarin saya menambahkan sesuatu di Beranda Ririungan, terkait Atomic Essay ini - yang notabene di luar dugaan, sepertinya bekerja juga. Menggunakan Google Sheets, saya menempatkan counter (penghitung sederhana) – yang mencatatkan berapa total esai yang sudah berhasil dituliskan oleh berapa orang penulis yang berpartisipasi dalam gerakan ini).

Ada beberapa indikator keberhasilan – setidaknya di tahapan awal ini, sebagai berikut :

Saya sendiri berhasil menulis 8 esai (tepatnya 7 esai) berturut-turut dan mempostingkan sebuah tulisan pendek setiap harinya. Ahkam yang awalnya menggagas gerakan ini juga sama, hari ini Ahkam mempostingkan tulisannya yang ke enam. Jojo Felus yang diajak mulai menulis beberapa hari yang lalu – juga sejauh ini sudah mempostingkan postingnya yang ke tiga. Sebelumnya dia bercerita bahwa dia menyimpan sangat banyak draft di blognya. Hal yang sama juga terjadi pada Rico – yang di suatu titik pernah menyimpan sampai 40 judul draft di akun Wordpressnya.

Rico sendiri setelah dimotivasi sekian waktu melihat bahwa ternyata ada sesuatu yang berbeda dengan Atomic Essay ini dan hari ini – setelah sekian lama berhenti membuat posting apapun di blognya – membuat posting pertamanya hari ini dengan judul Starting Over.

Sepertinya kekuatan Atomic Essay ini terletak pada kesederhanaannya. Sebetulnya ini mirip-mirip dengan jargon yang sering kita sebut di Semi Palar dengan MDK (Mulai Dari yang Kecil). Problemnya, di jaman sekarang, manusia terjebak dalam budaya instan yang membuat manusia ingin serba cepat. Di sisi lain, dia juga ingin mendapatkan hasil hebat – dalam waktu cepat juga. Inilah yang sepertinya ga nyambung dengan proses-proses yang bekerja di alam semesta ini. Pada dasarnya semua butuh proses. Kembali ke tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana pikiran manusia bekerja, selain butuh Intensi, Atensi dan Aksi, membangun kebiasaan menulis perlu Repetisi… Melihat apa yang sekarang berjalan – Gerakan Atomic Essay Smipa ini punya harapan besar untuk berhasil.

Silakan sering-sering mampir ke Ririungan dan melirik penghitung Atomic Essay di Beranda Ririungan. Di sana kita akan lihat perkembangannya. Salam Smipa.

Read more…

Sudah sampai pada hari dimana saya dan rekan-rekan lain berusaha menggenapi dengan mencari dan mengumpulkan setiap kepingan tentang Pendidikan Holistik.

Tiga hari pembekalan, saya kembali menemukan kepingan-kepingan baru untuk saya rangkai dengan kepingan sebelumnya.

Saya dikenalkan pada "panduan SmiPa" yang tentu saja masih berproses. Saya memahami bahwa 'panduan' diperlukan sebagai pengingat atau semacam rambu agar proses Pendidikan Holistik yang dijalankan di Semi Palar tetap pada jalurnya, jika suatu saat keluar dari jalur, akan mudah untuk dikembalikan ke jalurnya lagi.

Di awal saya berproses, saya mempelajari Semi Palar dari tulisan dan cerita di website. Saya masih ingat yang menjadi titik perhatian Semi Palar, tepat di nomor 1 adalah "literasi". Kemudian muncul pertanyaan, kenapa harus "literasi" ? Yang saya tahu, anak-anak, maupun kakak di SmiPa memang dibiasakan untuk membaca buku dan menulis blog, anak SMP malah mampu menuliskan buku dari perjalanan besar mereka. Tapi, sepenting itukah "literasi" dalam Pendidikan Holistik di SmiPa?

Sepanjang proses, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadari saya menemukan jawabannya sendiri. Saya belajar dari Ka Andy, bahwa tidak ada jawaban yang benar atau salah, karena setiap orang merupakan individu yang unik, demikian juga dari cara berpikir, melihat, merasakan, mengamati, sampai pada menyimpulkan. Saya belajar bahwa setiap orang bebas dengan cara pandangnya sendiri. Bersyukurnya adalah selama berproses di SmiPa, kami bisa saling menggenapi dengan berbagai cara berpikir dan berdiskusi, setiap ide masing-masing dari kami, maupun dari kakak-kakak SmiPa yang membimbing proses kami.

Hingga sampai pada kesimpulan bahwa "literasi" itu tidak selebar daun kelor… Cakupannya begitu luas, bukan hanya sekedar membaca dan menulis. Dan ternyata, kemampuan literasi dapat menjadi modal dasar dari memahami proses belajar manusia, khususnya anak-anak maupun kakak SmiPa. Melatih kemampuan literasi adalah mengasah kepekaan diri (raga, pikiran, emosi, dan energi), tentang memahami alam semesta, sebuah peristiwa, pengalaman hidup, bahkan perasaan orang lain. Indah ya, jika semua manusia di bumi ini memiliki kemampuan literasi yang baik… Bumi akan damai.

Kembali kepada tujuan dari Pendidikan Holistik adalah mendidik manusia secara utuh yang diinterpretasikan sebagai lima aspek dari bintang SmiPa, yaitu nalar, nurani, kreativitas, karakter, dan jasmani. Melihat keunikan individu dari nurani dan karakternya menjadi dasar untuk memunculkan kreativitas dengan bantuan kemampuan berpikir (nalar) dan jasmani.

Kreativitas menjadi sangat penting ketika kita ingin melihat hasil dari proses berpikir, olahan dari proses belajar, yang dituangkan dalam sebuah karya atau gagasan. Inilah yang mendasari mengapa di SmiPa anak-anak membiasakan diri mereka membuat karya, sebagai hasil olahan proses belajar anak.

Kenapa harus "karya" ?

Karya/gagasan merupakan bentuk originalitas dari proses dan hasil belajar anak, dan ini bisa dijadikan asesmen yang otentik untuk mengetahui sejauh apa pemahaman anak terhadap topik atau informasi yang diberikan selama proses pembelajaran.

Dalam sebuah karya, sudah mencakup proses melatih semua ranah/aspek dalam diri anak. Misalnya dalam karya Maket Pembangkit Listrik Tenaga Microhydro yang dibuat oleh kelas 4 SD di SmiPa, terlihat bagaimana anak melatih daya nalar (kognitif) dengan mencari informasi tentang komponen yang ada pada PLTMH (dibutuhkan kemampuan literasi). Pemilihan media atau bahan yang digunakan dapat melatih aspek sensorik anak, misalnya ada yang menggunakan bahan bubur kertas, karton tebal atau tipis, benang, kabel, dll. Aspek motorik anak dilatih ketika mereka merangkai setiap komponennya, menggunakan gunting, lem, lakban, dll membutuhkan kemampuan perhitungan yang presisi (ada mata pelajaran atau kemampuan yang terintegrasi-matematika-numerasi) , serta koordinasi mata dan tangan yang membutuhkan kekuatan otot besar maupun kecil (motorik kasar dan halus).

Aspek emosi (ranah nurani) bisa juga dilatih saat mereka memikirkan manfaat dari PLTMH ini bisa memberikan daya listrik untuk berapa rumah, hubungannya dengan saat merangkai dan membuat denah PLTMH, penempatan baling-baling dimana (tentu harus dekat dengan sumber air), generator atau turbin dimana (tentu sebisa mungkin jauh dari pemukiman supaya tidak mengganggu). Apa yang bisa dilihat dari sini? Sejauh mana anak peduli pada lingkungan sekitarnya, respon anak terhadap sumber alam yang merupakan pemberian Tuhan, juga kebermanfaatan untuk sekitar. Ya… Kita berbicara empati.

Sebuah karya olahan kreativitas anak, mampu memperlihatkan karakter anak kan… Tergantung bagaimana kita melihat dan menyadarinya. Lagi-lagi kita bicara tentang kemampuan literasi, khususnya kakak fasilitator dalam mengamati hal besar dalam diri anak yang bisa dijadikan sebagai laporan perkembangan atau kemampuan dan pemahaman anak terhadap konsep yang diberikan dalam sebuah karya.

Itulah simpulan yang saat ini saya pahami, semoga seiring dengan proses lainnya dapat menggenapi sehingga sampai pada kesimpulan yang tepat ketika saya memandangnya secara holistik.

 

 

Salam,



Read more…

Sudah melek kah kita? makna literasi

Tulisan ini saya beri judul "Sudah melekkah kita? Makna literasi".

Sebuah judul yg terfikirkan dari serangkaian proses yg saya alami selama saya mengenal Semipalar. Kenapa kita harus melek akan literasi?

Dalam konteks pembelajaran, saya pribadi mendefinisikan literasi mengarah pada kesadaran terhadap yg tampak secara kasat mata maupun yg tak tampak. Hal ini berkaitan dengan 5 dimensi dari manusia (nalar, nurani, kreativitas, fisik/jasmani & emosi) dari dimensi itu ada yg kasat mata dan tidak.

Lalu mengapa manusia harus melek? Karena bisa jadi matanya melihat fenomen, tetapi nalurinya tidak melihat itu. Lantas serentetan kejadian yg tampak oleh mata sering kali sebagai suatu momen saja, kita tidak mengerti apa maksudnya, lalu apa simbol yg diharapkan dan bagaimana kita sebaiknya merespon hal itu? selanjutnya manusia menjadi seonggok daging tanpa makna. Kehilangan arah dan dirinya. Sampai akhirnya kesadaran atau makna melek baru kita rasakan, setelah serangkaian kejadian panjang yg membuat kita banyak kehilangan, baik itu dari diri kita sendiri atau orang-orang sekitarnya.

Lalu bagaimana kita sebagai manusia dalam konteks pendidik, bisa membuat siswa kita melek? Jika Kita yang katanya manusia dewasa belum melek? Sepertinya konsep sadar itu dimulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri.

Sadar diri, sadar tujuan & sadar lingkungan.

Kemudian setelah merasakan pukulan dari serangkaian kejadian yg mulanya hanya kasat mata kemudian menjadi sarat makna.

Lalu apakah melek itu sudah terlambat? Atau sia-sia? Sepertinya setiap bagian dari diri kita punya jawaban versinya masing-masing.

Paling tidak setidaknya kita sudah mau menyadari hal-hal yg terjadi dari diri kita, setelahnya kita akan lebih peka lagi sehingga bisa melek dengan sendirinya tanpa harus lagi terkena pukulan dari serangkaian fenomena yang ada.

Karena kita sudah satu langkah didepan dan bisa melihat lebih dekat.

Jadi menurut kamu? Kenapa kita manusia dewasa harus melek? Lalu apakah kita manusia dewasa ukuran meleknya sama dengan peserta didik?

Melek literasi, bukan berarti dalam prosesnya tanpa celah. Bisa jadi belum sempurna pemahamannya, tetapi sudah berproses.

Hidup memang tentang berproses begitu juga belajar dalam konsep holistik, setiap orang punya ukuran tersendiri dari setiap proses belajarnya. Tapi tidak semua orang bisa menghargai setiap prosesnya bukan? Tidak apa-apa, kita berproses untuk diri kita sendiri. Karena setiap niat baik yang melibatkan nurani dia akan menjadi ketenangan setidaknya untuk diri kita sendiri.

Read more…

AES#1 Starting Over

It has been a while since I’ve written anything that I didn’t have to. Every so often my father would ask me to write again, since it used to be a good habit of mine back at school. But when you’ve stopped doing something for a long time, it’s always very difficult to pick it up again because you’re basically re-learning how to do it from the start, with the added pressure in your mind that it needs to be good, perfect even. That is a deadly combination for someone like me, and in the end I just don’t bother attempting it. But this atomic essay concept is interesting to me because it removes a lot of the pressure that’s been pulling me back, you don’t have to write a whole book in one go, just several paragraphs each day. And today I’m going to try it!

Here’s something to think about, if you were to die tomorrow, what would your regrets be? For me, I wish I would have written more, I feel like there’s so much I need to say. Everything will fade away eventually, but a piece of your soul that you’ve poured onto a page will still be there (whether if there will be people willing to read it is a different matter)

For me, there’s something special and seemingly magical about the written word, and I think it’s the crowning achievement of humankind. For someone who’s been dead hundreds of years can still make an impact on us with just a few sentences. Your ideas, feelings, insights and experiences are fragile, and would all be lost if you didn’t take action to preserve them. And that’s what so magical about written words, it transcends time and space, it endures.

For someone whose preoccupation involves a lot of thinking and conceptualizing, the ideal medium to share my thoughts is through writing. So, I’m going to continue my journey, writing just a measly 250 words a day, which is a very doable goal if you think about it. Just a 15 minute commitment to sit down and write every day. But it definitely adds up, and in the end it will be an achievement to be proud of. In writing this I’m reminded of the quote, “The best time to plant a tree is 20 years ago, the second best time is now”. And I hope by reading this, you can join me too!

Read more…

AES#05 Komodifikasi Seni

Saya selalu gagal paham (untuk tidak menyebut tak suka) dengan seni rupa modern. Tapi setiap orang tentu berhak mengatakan mana yang seni mana yang bukan. Mana yang indah mana yang tidak. Saya hanya ingin berbagi keheranan dan ketidakmengertian saya.

Pada tahun 2016 seorang anak muda meletakkan kaca matanya di lantai sebuah museum seni. Dia ingin mengetes apakah para pengunjung teperdaya. Dugaannya tidak meleset.

8954228681?profile=RESIZE_710xPisang (beneran pisang, lho) yang dilakban ke dinding ini laku terjual $120,000 di tahun 2019:

8954228899?profile=RESIZE_710x

Argumen pembelaan yang kerap kita dengar: "Seni rupa modern menyampaikan sebuah statement!".

Lantas apa statement yang hendak disampaikan lukisan di bawah ini?

8954229292?profile=RESIZE_584x

"A picture is worth a thousand words", katanya. Tapi kalau maknanya masih harus dijelas-jelaskan juga dengan kata-kata, berarti lukisan itu gagal dalam menyampaikan pesan. Tidakkah pesan itu bisa dinyatakan dengan “bentuk” yang lebih baik? Yang langsung bisa dimengerti orang? Yang komposisinya elok, brushworknya cantik, warnanya menawan?

Mas Khoirul, seorang perupa kenalan saya di Malang, pernah bercerita kesialan yang menimpa rekan seprofesinya. Rekannya itu membuat kesepakatan dengan sebuah galeri bahwa dia hanya akan menjual karya-karyanya ke galeri tersebut. Lukisan-lukisannya mulai dibeli dengan harga belasan juta. Suatu hari dia ditawari orang lain dengan harga yang lebih menggiurkan. Dia tergoda dan mengambil tawaran itu. Dan ketahuan. Galerinya marah lalu mengobral karya-karyanya dengan sangat murah. Tamat kariernya. Kalau cuma demikian, apakah ada hubungannya kualitas lukisan dengan harga?

Robert Florczak, seorang art professor, pernah mengerjai mahasiswa-mahasiswanya. Dia meminta mereka menganalisis lukisan Jackson Pollock ini:

8954230079?profile=RESIZE_710x

Setelah para mahasiswanya menjawab dengan segala macam teori mereka, dia mengatakan bahwa "lukisan" itu hanyalah foto close-up celemek studionya yang bergelimang cat:

8954230677?profile=RESIZE_710x

Situasinya sangat berbeda dengan culinary art. Seni memasak selalu jujur. Kalau makanan ndak enak, ya ndak enak. Lidah tidak bisa diperdaya. Bukan begitu, Pak Jo?

 

"This grandiose tragedy that we call modern art."—Salvador Dali

(Btw, lukisan-lukisan Dali, idenya yang gila. Bukan garis-garisnya.)

 

Read more…

AES#3 Googling

 

Kemarin ngobrol santai, sekarang mau yang agak serius sedikit (seriusan, cuma sedikit), rencananya sih akan mencoba menulis yang serius lalu diselingi dengan yang santai, mudah-mudahan bisa!

 

Masih berkaitan dengan derasnya peredaran informasi, kali ini saya berusaha melihat sisi lainnya.

 

Kemarin saya berdiskusi dengan Kano soal kelas yang akan dia ambil di musim panas. Kano memutuskan untuk mengambil kelas PE (Physical education) di termin pertama lalu World History, dan terakhir di termin ke-3 American Hystory. Kano bilang, kelas online itu mudah karena sekarang informasi sangat mudah diperoleh. "Tinggal google!," Katanya.

 

Dia termasuk generasi yang beruntung jika dibandingkan dengan saya waktu dulu sekolah di kampung yang informasi merupakan hal yang sulit diperoleh. Sekolah tidak punya perpustakaan, kalaupun ada hanya menyediakan buku-buku cerita-cerita 5 benua, Enyd Blyton, dan buku-buku novel dari Marga T, Eddy D Iskandar hingga NH Dini (Buku Pramudya masih dilarang saat itu, hehehe) Nah, jaman saya, kalau mau cari nama gubernur atau mentri yang diwajibkan guru untuk dihapal (duh, buat apa sih ini sebenarnya?) terpaksa saya harus buat kliping, cari koran baik yang baru maupun bekas bungkus bawang atau ikan asin dari warung hanya sekedar mencari informasi. Buat teman-teman saya yang punya uang, mereka sibuk beli buku "Inti Sari Pengetahuan Indonesia" atau apalah judulnya itu. Pendek kata Informasi itu susah diperoleh!

 

Sekarang, semuanya mudah dicari sehingga sedemikian gencarnya sampai banyak orang yang keblinger sebab tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak akurat! Perkembangan teknologi Informasi masih belum sejalan dengan perkembangan literasi dan language proficiency, sehingga banyak kalangan masyarakat yang salah mengerti. Jurang ini yang menimbulkan banyak permasalahan. Kecepatan teknologi informasi belum selaras dengan kecepatan pembelajaran di masyarakat sehingga masyarakat sangat tertinggal dan tidak mampu mencerna informasi dengan bijak. Keterbatasan kemampuan masyarakat dalam mencerna informasi memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan sosial! Silahkan mencari contoh di masyarakat, sangat mudah terlihat! Jangan salah, kondisi ini tidak hanya terjadi di negara miskin atau negara berkembang, yang dianggap negara maju seperti Amerika juga terkena dampak ini, kalau boleh jujur, tidak kalah memalukannya! Seriusan loh!

 

 

Positifnya, Teknologi informasi telah membuat proses pendidikan lebih efektif dan produktif, serta mampu meningkatkan well-being dari para pelajar, seperti contoh kecil yang saya bandingan antara Kano dan bapaknya! Metoda pendidikan juga semakin berkembang dan membuat prosesnya lebih mudah seperti misalnya penggunaan tablet, laptop dan alat bantu pendidikan modern lainnya. Semua ini terbukti telah mengarah pada hasil yang lebih baik di sekolah. Teknologi Informasi juga sangat membantu dibidang medis. Contoh sederhana, medical record akan lebih mudah diperoleh karena semua sudah digital, sehingga informasi kesehatan seseorang bisa diperoleh dengan cepat dan efisien tanpa harus masuk ke ruang arsip dan butuh waktu lama untuk memperolehnya, itupun jika sistem pengarsipan dilakukan dengan baik, jika tidak, ya Wallahualam!

 

Greg Satell, seorang penulis dan speaker yang mumpuni pernah berkata," Technology, like human things, is a double edge sword, involving gain and loss, merit and demerit." Teknologi informasi banyak positifnya tapi juga tidak kalah dampak negatifnya. Jaman sekarang manusia cenderung lebih malas, lebih cenderung obesitas, gagap dalam hubungan sosial, dan sebagainya karena cenderung lebih memanfaatkan teknologi. Sederhana saja, saya bisa tinggal teriak, "Alexa, what is the temperature outside?" maka speaker kecil yang serba tau buatan amazon ini akan segera memberikan informasi. Kalau saya mau tau paket pesanan saya saat ini sudah sampai di mana, saya tingga tanya,"Alexa, where is my package now?"Maka kalau kita beli barang di Amazon, Alexa akan tau paket itu sekarang ada di mana, tidak perlu lagi ngetik confirmation numbers untuk tracking paket kita. Mau bermalas-malasan di tempat tidur sambil dengar lagu Jazz, tinggal bilang,"Alexa play soft Jazz, please." Maka Alexa akan menjawab,"Playing soft jazz from Amazon!" lalu musik pun terdengar di seluruh ruangan. Gimana engga jadi gembrot kalau gini???? hahaha***

 

 

 

Read more…

AES#04 Systems vs Goals

 

Scott Adams, kreator komik Dilbert, memopulerkan Systems vs Goals. Scott tidak mengatakan bahwa target sama sekali tak penting. Tapi ia menekankan bahwa fokus kita seharusnya lebih kepada disiplin ketimbang target. Sistem akan menciptakan ritual sehingga kita tidak terlalu bergantung lagi pada motivasi.

Contoh System vs Goal: Menurunkan berat badan 10 kg adalah goal. Makan dengan benar adalah system.

Jika kita berlatih atau bekerja dengan fokus kepada goal, maka kita cenderung akan kecewa melihat hasil yang masih jauh dari target. Latihan atau pekerjaan kita seakan sia-sia. Itu karena goal biasanya tinggi/besar yang tentu tidak bisa dicapai dalam semalam. Jika perhatian kita kepada system, kita akan mendapatkan rasa puas setiap usai melakukan hal-hal kecil di dalam sistem. Goals-first mentality adalah menunda kebahagiaan. “Once I reach my goal, then I’ll be happy.”

James Clear mengatakan kita sering kali berfokus kepada goals akibat survivorship bias. Prestasi atau sukses yang diraih seseorang dalam hal apa pun (hubungan, kedamaian batin, karier, dsb.) disangka adalah buah dari goal. Padahal banyak orang yang memiliki goal serupa namun tidak berhasil. Dalam pertandingan olah raga, tim yang menang dan yang kalah: goal mereka sama.

Misalkan ruangan kerja kita berantakan. Suatu hari kita tetapkan goal untuk merapikannya. Tapi setelah rapi, jika sistem kita mengelola barang-barang di ruangan tersebut tidak berubah, cepat atau lambat, ia akan kembali berantakan.

Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa adalah sistem untuk bisa menulis lebih terampil, berpikir lebih jernih, dan memahami pelajaran lebih mendalam. 

 

"I don't fear the man who's practiced 10,000 kicks once. I fear the man who's practiced one kick 10,000 times."— Bruce Lee

 

Read more…

AES#07 Hmm… Mau Nulis Apa Ya?

Hampir jam 11 malam, saya belum menuliskan sepatah katapun di esai saya yang ke 7. Sekitar beberapa jam yang lalu masih bingung mau menulis apa. Sebetulnya ada banyak hal di kepala. Wong menurut bung Ahkam – dalam atomic essaynya yang ke tiga Era Keberlimpahan Informasi, manusia jaman sekarang ini sebetulnya kebanjiran informasi. Tapi mungkin memang masalahnya justru di situ, kita jadi bingung memilah mana yang penting dan mana yang hanya sampah.

Terkait kebingungan menulis, saya teringat pesan seorang teman lama yang juga penulis buku dan blogger yang dulu sempat mampir ke Semi Palar dan memberikan workshop penulisan – di festival buku yang pertama di Semi Palar – kalau tidak salah sekitar tahun 2010-an. Duh, namanya kok lepas dari memori saya… jangan-jangan ini gejala usia… Eniwei, saya masih ingat pesan dia untuk bisa konsisten menulis : “Tetaplah menulis pada saat kita bingung apa yang harus dituliskan”. Intinya mulailah, just do it, jangan banyak mikir.

Sepertinya pesan yang dia titipkan ini yang sedang saya coba sekarang. Hmm, OK, lalu apa?

Di titik ini saya akhirnya berpikir bahwa membangun habit adalah melatih pikiran kita bahwa menulis itu tidak sulit. Selalu ada sesuatu yang bisa kita tuliskan. Toh setiap hari kita punya pengalaman baru. Dan benak kita terisi dengan pengalaman-pengalaman baru. Yang sepertinya menjadi kendala adalah persepsi bahwa sebuah tulisan perlu punya bobot dan muatan tertentu. Ya, belum tentu juga begitu. Saya jadi ingat saat saya membuka ruang menulis di blogspot sekitar tahun 2006. Saya hanya yakin menulis itu penting. Dan saya menulis bukan buat siapa-siapa. Tulisan ini adalah catatan2 saya – seperti dulu orang2 punya diary… Jadi sebetulnya apa yang kita pusingkan…

Akhirnya di sini saya bisa menutup esai saya yang ke tujuh dengan 281 hitungan kata di dalamnya. Salam penulisan.

Read more…

AES#02 Makanan + Kopi Dangdut

 

Kali ini obrolan santai saja ya,

 

Bertiga dengan Kano dan ibunya, kami duduk menikmati makanan Mexico di kedai makan yang namanya Taco Stop. Dulunya ini adalah food truck yang kemudian saking larisnya maka mereka mampu membuat restoran. Nah sedang asyik-asyiknya menikmati carnitas nacho, dan segelas agave margarita, tiba-tiba aku tersentak karena mendengar lagu yang pernah populer di Indonesia, hanya saja dimainkan dengan band mariachi ala Mexico. Aku taruh jari telunjuk dibibir memberikan tanda ke ibunya Kano, serentak dia tertawa," Kopi Dangdut!!!" Lah kok lagu ini bisa dimainkan oleh mariachi? siapa yang nyontek? orang Mexico atau orang Indonesia nya?  well, who knows?  Beberapa bulan lalu kasus serupa terjadi, di restoran Vietnam ada lagu yang diputar dengan bahasa Vietnam tapi lagunya Madu dan Racun!!! Hahahaha....

 

Keuntungan tinggal di rantau, terutama negara yang penduduknya sangat heterogen seperti di US sini adalah kita bisa belajar budaya dan kebiasaan banyak orang dengan latar belakang dan asal negara berbeda yang buanyak sekali. Yang paling asyik adalah belajar menikmati makanan dari berbagai negara!!! Yang banyak belajar ya si Kano!

 

 

Kano dulu perbendaharaan makanannya tidak banyak, awal-awal pindah di sini dia selalu minta, "Dad, can you make fried chicken like tante Nanan usually makes for me, please?" hahaha.... Maklum dulu di Smipa hobby banget makan ayam goreng tepung dan tumis sayuran dari kantin tante Nanan. Mau tahu sekarang? Pulang dari toko komputer tadi sore dia minta makanan Mexico. Dia pesan Chilaquiles dengan pastor, salsa roja  dan queso freco! Nah ini mirip nachos yaitu sebenarnya tortilla chips yang diberi toping daging dipotong kecil-kecil yang sudah dimarinasi lalu ditaburi dengan salsa, cilantro, sour cream dan keju. Di lain hari dia minta kalbi Korea tapi dimakan gaya Hawaii yaitu dengan nasi dan macaroni salad, sesudah itu minta poke Bowl,  nah poke bowl itu nasi sushi dengan toping potongan ikan tuna segar, mentah, yang dicampur mayo dan saos sriracha, potongan timun, alpukat, salad rumput laut, crab meat salad, lalu diberi spicy mayo dan unagi sauce. Sesekali dia juga minta diajak ke tempat yang menyajikan makanan ala daerah selatan (Southern, Cajun) seperti yang di New Orleans, anak ini penggemar beignets, sambil makan aku selalu menjejalkan sesuatu yang baru sebagai bentuk "pembelajaran", nah kali itu aku masukan daging buaya yang digoreng seperti popcorn chicken, rasanya ya seperti daging ayam. Kano juga suka makanan mediterania seperti pita bread atau wrap yang diisi dengan seasoned rice (biasanya safron rice, jadi warnanya kuning) chicken shawarma, dengan hummus, greek salad dan sebagainya! Jangan salah, anak ini sekarang sudah jadi penggemar ribeye steak yang dimasak medium rare!!! jadi  kadang-kadang masih berdarah-darah! Bayangkan, dari hanya ayam goreng tepung atau nuggets jadi seperti ini, tapi ada SATU, ya cuma SATU yang dia selalu kangen: Air jeruk-nya Ibu Sum! hahahaha... seriusan loh! tanya aja sendiri ke dia! hahahahaha...

 

Nah mengamati proses pembelajaran "budaya" kano hehehe, sekarang bapaknya harus rajin koleksi resep, sebab begitu pulang ke tanah air bisa bangkrut kalo harus beli makanan seperti ini. Jadi bapaknya mau tidak mau belajar juga supaya nanti bisa masak sendiri. Hehehe ***

 

Read more…

 

8948284869?profile=RESIZE_400x

Hari ini saya berkesempatan ikut webinar yang diselenggarakan Yayasan Cahaya Guru, di bawah pimpinan ibu Henny Supolo. Ibu Henny adalah aktivis pendidikan yang sangat menempatkan perhatian pada isu keberagaman terutama di kalangan para pendidik – secara spesifik para guru.

Semi Palar sangat beruntung – beberapa tahun silam bisa mengundang ibu Henny untuk hadir bercerita tentang berbagai hal seputar keberagamaan di Indonesia kepada keluarga besar Semi Palar. Pertemuan saat itu berlangsung di pendopo Selasar Soenaryo. Tempat yang menjadi latar pertemuan yang sangat pas bagi perbincangan hari itu.

Hari ini – bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, webinar bertajuk Geneka Tunggal Ika diselenggarakan. Sederhananya, kedua narasumber bu Henny dan bu Herawati (beliau-beliau ini kakak beradik) ingin bercerita bahwa secara genetika, kita semua memang pada hakikatnya beragam – tapi dalam payung ke Indonesiaan, kita semua, sejatinya adalah satu. Saya sendiri tidak mengikuti acara ini sampai tuntas karena sudah ada agenda yang menunggu dan sudah dijadwalkan sebelumnya.

Tapi saya ingin menempatkan satu video keren yang diputar di awal pertemuan terkait fakta ilmiah dari penelitian genetika (DNA) yang pernah dilakukan. Video ini sangat menyentuh perasaan – membuat saya meneteskan air mata. Yang lebih menakjubkan adalah bagaimana ilmu pengetahuan (sains) sudah bisa memetakan secara definitif bahwa sudah tidak ada lagi yang disebut dengan kesukuan yang murni di tengah umat manusia saat ini. Pengecualian mungkin ada untuk segelintir suku pedalaman yang masih asli dan tidak pernah bersentuhan dengan kebudayaan di luar masyarakat mereka. Pendek kata, kita semua bersaudara...

Bu Herawati juga bercerita tentang penelitian yang sama di Indonesia, mengenai telusur DNA dari banyak tokoh terkenal di Indonesia . Bahwa seseorang yang tampak dari luar seperti suku ‘pribumi’, ternyata punya DNA suku Tionghoa lebih banyak daripada orang lain yang penampilannya sangat ‘chinese’. Sangat menarik.

Filem tersebut, bertajuk the DNA Journey, saya tempatkan di bawah ini untuk jadi bahan refleksi bagi kita semua. Kita semua umat manusia terkoneksi, DNA membuktikannya. Love and Peace... 

Read more…

Tulisan pertama, saya akhiri dengan sebuah pertanyaan, "Bagaimana saya bisa kembali menulis?" Jawabannya akan saya ungkap dalam tulisan berikut... 

Alasannya sesederhana karena saya menemukan template blogspot yang saya suka. (^^♪

Saya memulai kembali dengan menghias jurnal/blog tersebut, kemudian baru memikirkan akan diisi tulisan apa ya…

Selama dalam masa kebingungan, saya mulai menuliskan saja apa yang ingin saya ungkapkan, dalam bentuk puisi, menceritakan gambaran mimpi, bahkan coba-coba membuat cerpen bersambung.

Setelah setahun menulis blog, entah karena salah pencet atau kenapa, semua tulisan saya hilang… Sedih banget!! Tapi ya sudahlah… Karena selama proses menulis blog, saya mulai menemukan arah tulisan, dari iseng hanya untuk curhat, mulai menulis secara profesional di bidang pendidikan dan musik.

Saya mulai mencoba mengikuti beberapa lomba menulis, sampai akhirnya pada tahun 2015 lalu berhasil menjadi juara harapan Lomba menulis Guraru (Guru Era Baru) (maaf, saya sudah tidak menyimpan link tulisannya). Bagi saya ini sebuah pencapaian...

Dari pencapaian-pencapaian kecil itu lah membangkitkan semangat menulis saya hingga berhasil pada pencapaian besar mendapat kesempatan menulis buku bersama Komunitas Guru Belajar.

Nah! Belajar dari pengalaman masa lalu, akhirnya saya berusaha mengasah kekuatan saya di menulis dan mencoba menguatkan kelemahan saya di komunikasi verbal. Mengikuti kursus penyiaran, sampai mengikuti seminar-seminar publik speaking.

Waktu dan pengalaman hidup merubah diri saya sedikit demi sedikit, dan bersyukurnya, pekerjaan sebagai guru mempermudah saya untuk melatih kemampuan sosial dan komunikasi verbal saya.

Masa pandemi membuat saya mulai aktif kembali menulis, tentang pendidikan dan musik, dan sekarang malah mulai merambah ke dunia podcast. 

Sejujurnya, saya masih punya harapan dan mimpi yang belum tercapai, yaitu menulis buku sendiri. Semoga dengan dimulainya langkah kecil menulis setiap hari bisa membangkitkan dan melatih kemampuan menulis saya.

Dan... Yang paling penting, ada jiwa dalam setiap tulisan, mereka mencerminkan karakter penulisnya.

So, betul banget dan setuju banget dengan konsep "atomic essay" yang digulirkan Ka Andy, Pak Ahkam, dan kawan-kawan lain.

Kalau ga mulai sekarang, kapan lagi?!

Yuk!! Mulai menulis… Siapa tau tulisan kalian dapat menginspirasi orang lain.

 

Salam,

Read more…

AES#03 Era Keberlimpahan Informasi

Selepas membaca esai Pak Jo "Misled, Misinformed, Mis...", saya jadi ingin menulis juga tentang dunia informasi yang sudah centang-perenang.

Nenek moyang kita butuh informasi demi keselamatan jiwa mereka (misalnya: jamur mana yang tidak beracun?). Tapi sekarang kita dijejali informasi yang tak ada hubungannya lagi dengan kepentingan survival. Informasi yang terlalu banyak malah membingungkan dan menimbulkan kecemasan.

Sebagaimana tubuh butuh diet makanan bergizi agar tetap sehat, pikiran juga butuh diet informasi bermutu supaya tetap waras. Obesitas dan berbagai macam penyakit timbul akibat junk food dan makan berlebihan. Stres dan berbagai macam gangguan jiwa timbul akibat informasi sampah dan overconsumption.

Kita perlu selektif mengonsumsi informasi. Kuncinya kembali pada mindfulness. Ketika membaca/mendengar/menonton sesuatu, kita perlu bertanya dulu pada diri sendiri, “Apakah ini berguna buat saya?”

Selain menyeleksi informasi, kita hendaknya melakukan sintesis agar informasi bisa berubah jadi pengetahuan/kebijaksanaan. Verify the data. Connect the dots.

Dengan makin berlimpahnya informasi, menjadi semakin penting bagi kita untuk menulis. Sebab menulis adalah proses kurasi informasi—personal knowledge management.

Yuval Noah Harari mengatakan di masa lalu penyensoran dilakukan dengan memblokir informasi. Di abad ke-21, penyensoran dilakukan dengan membanjiri orang-orang dengan informasi yang tidak relevan. Di zaman dahulu, orang kuat adalah yang punya akses informasi. Hari ini, memiliki power artinya mengetahui mana-mana yang mesti diabaikan.

 

"We are drowning in information, while starving for wisdom. The world henceforth will be run by synthesizers, people able to put together the right information at the right time, think critically about it, and make important choices wisely." — E.O. Wilson, Consilience

 

Read more…

AES#003 DIKSI

Lihat berita pagi nemu pembahasan opini Okky Madasari. Sekilas tahu kalau dia adalah penulis.
Pesannya jelas (untuk saya) arahnya kemana.
Respon dari warganet terhadap pesan yang disampaikannya juga wajar (menurut saya) .

Pesannya, bahwa pihak berwenang / berkuasa / bos / penjaga alur / pembimbing / pendamping / apapun lah yang tugasnya mendukung pembelajaran & pendewasaan karakter warga, perlu bertindak bijaksana sekaligus bijaksini.
Bukan jago berpikir bijaksana saja atau jago retorika bijaksini saja.

Respon wajar warga jamak adalah mempersoalkan narasi dan diksi.
Selalu.
Penggunaan kata "Norak" jadi persoalan. "Ekspresi" dan "Penghinaan" jadi bahasan.
Seakan kritikus narasi dan ahli kritisi diksi.
Gak semuanya sih, kebanyakan aja. Jamak.

Jadinya lanjut deh lihat akun instagram yang bagian publikasi pendapatnya itu, dan lama di baca-baca kolom komentar.
Iya, wajar.
Ada yang ngerti pesan, memaklumi cara & media penyampai pesannya.
Ada yang abaikan pesan, malah fokus ke cara & media pesannya. Maksud saya media pesan tuh, struktur narasi dan diksi.
(gaktau deh narasi & diksi yang saya pakai ini tepat atau enggak, soalnya saya bukan ahli bahasa, bukan juga polisi diksi atau penjaga gramatika, hehe..)

Niatnya baca banyak berita, jadinya hanya berhenti di satu berita ini.
Ramai soalnya, membaca kolom komentar sudah seperti berada di tengah keramaian dalam ruangan sempit omongan kemana-mana tak putus napas dengan nada suara frekuensi tinggi & tempo cepat. Sesak (kayak baca kalimat ini kan).

Yaudah berhenti, cukup konsumsi berita pagi. Seduh teh, lah yuk! Kopinya lagi abis stok.

Read more…

AES#01 Misled, Misinformed, Mis...

Baca berita jaman sekarang itu harus punya kesabaran tinggi, pikiran terbuka dan selera humor yang mumpuni! Arus informasi jaman sekarang bukan main cepatnya, dan terlihat banyak sekali kalangan yang tidak siap dengan situasi ini sehingga akhirnya menimbulkan kegaduhan, konflik, bahkan berakhir dengan korban jiwa. Nah bagi mereka yang cuma aktif (atau malah pasif?) di depan komputer seperti saya, menyaksikan kondisi ini dengan membaca berita, tidak selalu menyenangkan. Nonton CNN bisa jadi kepengen melempar TV dengan botol aqua! Membaca koran "online" sampai hampir melepar gadget gara-gara gondok! Sekali lagi butuh kesabaran, butuh kepala dingin dan belajar bisa mentertawakan!

 

Sebetulnya mengapa situasi ini terjadi? karena banyaknya informasi dan kurangnya kemampuan untuk filtering, maka banyak kalangan yang misinformed dan misled lalu akhirnya misunderstood lalu... panjang!contoh yang jelas, kejadian di Capitol Building di Washington DC bulan Januari lalu. Ujung-ujungnya ratusan orang yang percaya akan teori konspirasi dikejar-kejar FBI dan terancam dipenjara berbulan-bulan, tahunan bahkan puluhan tahun! Lebih menyedihkan lagi, kejadian ini mengakibatkan korban jiwa. Anehnya demi kepentingan politik pribadi, ada senator yang berpendapat tidak ada itu yang namanya insurrection of capitol building, nah ini contoh orang yang misleading! Bodohnya, banyak masyarakat yang misled tetap memilih senator ini!!!

 

Di tanah air juga sedang ramai dengan seseorang yang ditangkap polisi karena membuat video tik tok di media masa yang menghina sebuah negara lain. Ini juga butuh kecerdasan dan pengetahuan yang utuh mengenai konfilk yang sebenarnya terjadi di negara itu. Politik dan agama dicampur aduk, akhirnya polisi turun tangan, yang bagi saya juga aneh, Klausulnya apa? Jadi yang misinformed itu siapa? polisi? masyarakat? duh!

 

Ada orang yang menulis di twitter mengenai vaksin. Dia sepertinya kelompok anti vaksin. Dia bilang Vaksin tidak dibutuhkan, lihat saja Black Plaque di abad 14 tidak ada vaksin, buktinya pandemi lenyap! Orang ini tidak tahu bahwa 30 hingga 60% penduduk Eropa meninggal pada masa pandemik itu. 75 juta hinga 200 juta orang! Pandemi itu berakhir kemungkinan karena penduduknya habis. Sebuah teori mengatakan pandemi ini berakhhir karena karantina, sampai penduduk di daerah-daerah tertentu habis, sehingga penyebaran berhenti!

 

Lalu bagaimana menghindari misinformasi? mudah, cari referensi sebanyak-banyaknya, hindari bias konfirmasi dengan berusaha seobjektif mungkin dan berwawasan terbuka. Jangan informasi yang dicari hanya untuk menguatkan pendapat pribadi! Jika hanya untuk menguatkan pendapat pribadi, itu namanya confirmation bias, bias konfirmasi. Pandai-pandai memfilter informasi yang begitu gencar dengan bersikap cerdas.

 

Saya akhiri ocehan ini dengan hal yang lucu:

 

 

Selera humor itu penting! Orang yang menulis tentang caesar salad itu sebetulnya hanya becanda! Kejadiannya memang tidak seperti itu. Caesar salad itu diciptakan di Mexico oleh seorang chef bernama Caesar Cardini, imigran Italia yang memiliki restoran di Tijuana. Saat itu dia kekurangan bahan baku sehingga dia menciptakan sesuatu yang baru dengan menggunakan bahan-bahan yang ada. Dunia harus merasa beruntung, karena chef ini maka kita semua bisa merasakan salad yang gurih yang bahan utamanya romaine lettuce dan croutons. Dressingnya? telur mentah, bawang putih, minyak jaitun, anchovies, jeruk lemon, saus inggris dan keju parmesan! Nah kasian sekali orang yang komen di atas yang melupakan faktor humor, sehingga harus menggunakan kata Id@$t Hahahaha***

 

Read more…

AES#05 Antara Habit Building dan Enerji

Sekian lama saya berpikir bahwa Hukum Kekekalan Enerji yang dirumuskan oleh eyang Albert Einstein adalah rumus fisika. Bekerja saat kita berbicara di ranah saintifik secara khusus bagaimana atom2 dan segala turunan enerji apakah itu suara, kalor dan lain sebagainya di alam kehidupan ini.

Ternyata lewat pandangan itu saya terjebak dalam paradigma yang dibangun sekian lama sejak dua tokoh besar, seorang filsuf Descartes dan Isaac Newton (fisikawan) – pada jamannya memilah dinamika kehidupan manusia yang begitu kompleks ke dalam dua ranah yang berbeda : sains dan spiritualitas. Peristiwa ini terjadi sekitar 300 tahun saat ada konflik cukup besar antara para ilmuwan dan agamawan. Sejak itulah pola pikir ini terbawa terus sampai hari ini di mana segala sesuatu dipandang dari 2 sudut pandang berbeda. Hal ini dikenal sebagai duality.

8945816489?profile=RESIZE_400xSekitar tahun 2009, saya berkenalan dengan apa yang disebut fisika kuantum – melalui sebuah DVD yang berjudul What The Bleep Do We Know. Satu dekade lebih sejak saya mengenal quantum physics. Bidang yang sudah sangat berkembang – dan saat ini banyak tokoh yang melihat ini sebagai titik temu antara sains dan spiritualitas. Menarik banget – setidaknya buat saya.

Hari ini saya melihat bahwa Hukum Kekekalan Enerji berlaku dalam hidup kita. Karena pada dasarnya segala sesuatu di alam semesta ini pada dasarnya adalan enerji yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk – sebagai partikel ataupun gelombang. Emosi kita adalah gelombang, karenanya kita bisa merasakan orang lain yang sedang sedih atau sebaliknya sedang sangat bersemangat…

Bagaimana dengan habit building. Beberapa waktu lalu saya belajar bahwa untuk memanifestasikan sesuatu perlu enerji… Untuk mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan, enerji perlu dimunculkan dalam 3 komponen : Intensi, Atensi dan Aksi… Sederhananya, ini adalah kombinasi dari Niat, Fokus dan Tindakan. Kalau satu saja ga lengkap, gagasan dan imajinasi tinggal gagasan atau imajinasi belaka. Dalam hal kebiasaan, satu lagi perlu ditambahkan : Repetisi.

Mudah2an semua yang mencoba ini juga belajar mengelola enerji dan mewujudkan sesuatu… resepnya sudah ada… mari mewujudkannya…

----

Di bawah ini saya simpan trailer filem What The Bleep Do We Know. Bisi ada yang penasaran. 

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa