#refleksi (3)

Belajar dari Guru-guru Baru

Ada satu hal yang banyak saya lakukan di sejak beberapa minggu lalu, sejak kita semua 'dirumahkan' dan sepenuhnya berkegiatan di rumah kita. Seperti yang saya tuliskan di posting sebelumnya kesempatan ini saya jadikan waktu hening... waktu di mana saya banyak merenungkan tentang banyak hal. Merefleksikan berbagai pengalaman, apa yang saya kerjakan selama ini dan juga berusaha memaknai kenapa kita semua di seluruh dunia dipaksa berhadapan dengan situasi seperti ini. 

Ada dua orang yang banyak saya ikuti... Boleh dibilang saya jadikan guru... Diantara sekian banyak, yang pertama akan saya sebut adalah Sadhguru Jaggi Vashudev yang sering disebut sebagai Mystics of India... Saya kenal beliau cukup lama tapi baru dalam kesempatan ini saya mendalami pemikiran-pemikiran beliau. Sampai hari ini saya terus mengikuti dan memahami pemikiran2 beliau. Mungkin sudah puluhan video beliau di YouTube yang saya dengarkan. Kenapa begitu banyak, saya merasa sangat terkoneksi dengan pemikiran-pemikiran dan pandangan beliau. Beliau memimpin Isha Foundation, lembaga non profit terbesar di dunia dengan 4 juta relawan (full time volunteer) dengan gerakan-gerakan sosial, kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup.

Sadhguru bicara di dalam forum2 internasional di seluruh dunia, berbincang dengan berbagai pakar di semua bidang, bersama Jonathan Coslet tentang kapitalisme, tentang masa depan dunia bersama Michio Kaku, bersama Sir Ken Robinson bicara tentang pendidikan, tentang perubahan iklim di COP-14. Beliau bicara di forum United Nations saat memperjuangkan International Yoga Day, di Harvard, Yale University, di depan anak-anak muda di kampus-kampus seluruh dunia lewat program Youth and Truth... 

Sosok yang sangat menarik, seorang yang tidak pernah duduk di bangku sekolah, dan berusaha untuk terus menjadi tidak terdidik (uneducated), tapi terus memahami segala bidang mulai dari teknologi sampai mysticsm, bicara tentang sel sampai galaksi... Beliau banyak menyebut bahwa manusia harus berusaha menjadi a seeker, seorang yang terus mencari - seorang yang tidak mudah percaya pada teori, konsep, dan berbagai isme - karena semua itu dihasilkan oleh keterbatasan manusia biasa.. 

4503261104?profile=RESIZE_400x

Satu lagi adalah Eckhart Tolle. Meister Eckhart ini saya kenal dari bukunya The Power of Now juga The New Earth. Kedua buku ini saya baca beberapa tahun lalu dan jadi kepingan pemahaman saya sampai hari ini.  

4895300091?profile=RESIZE_400x

Selain itu saya juga mendengarkan banyak sekali video dari berbagi sumber seperti TED Talk, dan lain sebagainya. Lalu kenapa dua orang ini sangat menarik buat saya - terlepas dari julukan yang mereka sandang : yang satu meister, satu lagi guru, saya melihat mereka punya sudut pandang yang luas dan dengan demikian menjadi holistik. Walaupun banyak sekali pakar dari segala bidang - khususnya yang diundang bicara di forum-forum prestisius seperti TED, Google dll, mereka pada umumnya punya keahlian atau pengetahuan yang spesifik. Berbeda dengan dua tokoh ini. Mereka bicara tentang kehidupan, tentang sesuatu yang sangat luas sekaligus sangat fundamental dan saat mereka bisa mengaitkannya dengan berbagai situasi - salah satunya pandemi COVID ini, tilikan mereka (insights) menjadi sangat bermakna. O iya satu lagi yang saya banyak dengarkan juga adalah Dalai Lama, juga salah satu manusia luar biasa (guru kehidupan) yang hidup bersamaan di masa kita ini. 

Buat saya pribadi setelah beberapa minggu ini dan entah berapa puluh video yang saya coba ikuti dan pahami, banyak pemahaman baru tentang banyak hal - termasuk konsep-konsep yang kita coba pahami di Semi Palar. Mudah2an apa yang dipahami membuat kita lebih mendekat pada esensi pendidikan holistik yang merujuk pada kehidupan yang sesungguhnya - kehidupan yang berkesadaran... 

Sebagai catatan penutup, sampai hari ini dalam upaya menempatkan diri sebagai seeker, saya menempatkan tokoh-tokoh di atas ini sebagai guru - orang yang memberikan arah atau menerangi jalan kita. Saat ini mereka-mereka ini jadi orang-orang yang lebih membuat saya paham di titik ini. Tidak boleh sampai titik kesimpulan, karena seperti Sadhguru bilang: "You (yourself) have to experience your life to the fullest". 

Read more…

Kembali ke dasar, mundur ke esensi

4323653418?profile=RESIZE_710x

Beberapa waktu lalu, saya terima gambar ini di salah satu pesan WA saya dari anak saya Inka (kalau ada yang nonton filem Hunger Games, adegan tersebut pastinya sangat berkesan). Sambil tertawa miris, ini memang kenyataan hari ini. Sudah lewat beberapa minggu, milyaran warga kota besar dan kecil di seluruh dunia harus mengunci diri di rumah masing-masing. Hanya keluar rumah kalau ada yang penting, sambil mempersiapkan diri fisik dan mental - sambil membawa perlengkapan untuk melindungi diri kita dari apa yang ada di luar sana...

Seperti jaman purbakala, jaman manusia gua. Mereka hanya keluar kalau ada yang penting karena keluar tempat tinggal adalah pergi ke dunia penuh bahaya... Bedanya dulu mereka berhadapan dengan harimau gigi pedang atau mastodon, hari ini kita harus berhati-hati terhadap benda tak kasat mata, virus corona... Singkat kata, kita ibarat sedang dipaksa merasakan kembali apa yang disebut dengan bertahan hidup... survival. Disadari atau tidak kita semua sedang dipaksa kembali ke dasar, merasakan kembali kehidupan yang paling esensial. Tanpa asesoris, tanpa embel-embel. Dalam kondisi survival, semua kembali ke dasar...

Secara sosial, kita dikondisikan untuk tinggal di rumah (home) dalam arti sebenar-benarnya. Kita tidak punya tempat pergi, untuk menghindar atau kabur. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa dipaksa berhadapan dengan kenyataan mengenai bentuk relasi dan interaksi kita dengan orang-orang yang (semestinya) terdekat dengan kita - keluarga kita: pasangan, anak atau orangtua - siapapun yang ada di rumah. Banyak juga yang ternyata begitu gelisah dan tidak betah di rumah - di tempat yang semestinya jadi tempat teraman atau ternyaman buat kita manusia. Dalam situasi seperti ini, tanpa bisa menghindar kita diajak untuk menyadari - dengan kembali ke hal-hal kehidupan kita yang paling mendasar - memaknai kembali apa yang disebut dengan keluarga. 

Makanan, tidak punya banyak pilihan. Sebelumnya kita begitu leluasa untuk memilih jajanan atau makan di luar rumah. Sekarang pilihan jadi sangat terbatas, beruntung masih ada abang Grab atau GoJek yang bersiap untuk mengantar makanan pesanan kita. Tapi dengan kita berada di rumah dalam jangka waktu tertentu, buat banyak keluarga, kembali memasak jadi pilihan menarik juga. Selain menghemat waktu, mengirit biaya juga... kembali ke dasar... Saat bahan persediaan menipis, kadang kita makan jadi sangat sederhana, mungkin nasi dan telur dadar bisa jadi sesuatu yang sangat nikmat...  

Beberapa minggu setelah #dirumahaja, saya memutuskan untuk mencoba gagasan yang sudah lama saya pikirkan, tapi belum menemukan momennya, berkebun. Menanam sayur sendiri. Mencoba konsep yang disebut-sebut sebagai kemandirian pangan. Kembali ke dasar...

Sempat di berbagai media sosial dan semua orang jadi heboh soal berjemur... Para ahli berdebat bagaimana cara berjemur yang paling tepat - setelah sekian lama tidak peduli sama matahari, tetiba berjemur - berinteraksi dengan sumber segala enerji di atas muka bumi ini jadi sesuatu yang penting... Kembali ke dasar

Lebih jauh lagi, banyak dari kita yang dikondisikan setidaknya dihadapkan dengan kesempatan untuk bercermin terhadap diri kita sendiri - bagaimana situasi mental dan pikiran kita. Apakah kita takut, gelisah, bosan, memikirkan apa yang di luar sana, atau tidak menerima situasi... Apakah kita marah terhadap kenyataan yang ada atau lainnya... Tidak ada teman kerja, tidak bisa ke cafe, tidak bisa makan enak di restoran atau nonton bioskop, tidak bisa shopping atau hang out... Kita dalam situasi dibatasi secara sosial, kita hanya berada dengan orang-orang terdekat dan diri kita sendiri.. Segala sesuatu yang kita rasakan atau pikirkan adalah pikiran dan emosi kita sendiri... Kembali ke dasar.

Pada akhirnya kalau kita merenungkan cukup mendalam, kita bisa merenungkan lagi tentang makna hidup, apa itu hidup dan kehidupan... Karena toh sekarang ini dengan segala keterbatasannya kita hidup... Lalu apa itu sebetulnya segala kesibukan yang biasanya selalu kita jalani selama ini tanpa henti... Apakah semua itu kehidupan? Apakah kita bisa menemukan makna dan hakikat hidup yang sesungguhnya di dalam kesempatan ini, di mana segala sesuatu terhenti dan kita bisa punya keheningan untuk melihat dan merenungkan segala sesuatu secara jernih... 

Luar biasa ya virus corona ini... Sejak lama saya meyakini, tidak ada peristiwa kebetulan... Tentunya hal terjadi ada maksudnya. Kalau segala sesuatu hanya terhenti tanpa kita temukan maknanya - dengan hebatnya peristiwa yang terjadi di seluruh dunia, dengan segala pengorbanan yang ada... tentunya semua itu jadi sia-sia...  

 

Read more…

Memaknai Jeda - Waktu Hening ini

Buat saya pribadi, disrupsi pandemi ini menjadi kesempatan luar biasa. Sebuah jeda, waktu hening yang diberikan kepada kita untuk merenungkan banyak hal terutama segala hal yang selama ini kita jalankan - mungkin nyaris tanpa berpikir, tanpa kesadaran.. Setelah kita semua selesai dengan periode adaptasi - di mana kita mulai terbiasa dengan ritme, suasana dan rutinitas yang baru, mudah2an kita juga sudah bisa bangkit dan berpikir lebih jauh apa yang bisa dilakukan dalam kesempatan jeda ini. 

Harus diakui, waktu yang bergulir cepat dan terasa semakin cepat membuat kita sulit menyadari apa yang kita jalani. Selama ini hidup kita - mungkin tanpa disadari begitu sibuk, begitu gaduh... Kita setiap hari bikin rencana ini, bikin rencana itu, ngumpul di sini, pergi ke sana, beli ini beli itu, hal yang sebagian besar dipengaruhi apa yang kita konsumsi melalui Media Sosial. Kesibukan yang jangan2 sebetulnya tidak betul-betul kita penting untuk kehidupan kita. 

Menganalogikan saat kita berjalan kaki dibandingkan dengan berkendaraan, di dalam kendaraan kita tidak menyadari hal-hal apa yang kita lewati di sepanjang jalur perjalanan kita. Hal yang sama terjadi dalam apa yang kita kerjakan sehari-hari, apa yang kita lakukan melalui profesi/pekerjaan kita - aktivitas kita sehari-hari... Dalam skala yang lebih besar, ini berlaku juga untuk kehidupan kita, hari demi hari yang kita lalui, detik demi detik kehidupan kita. Apakah kita sempat merefleksikan, memahami, menghayati bagaimana perjalanan kehidupan kita jalani selama ini saat kita merasa terburu-buru dan kehabisan waktu. Saat ini di dalam jeda - waktu hening yang dihadirkan oleh Covid-19, kita punya kesempatan luar biasa untuk itu. 

Posting saya sebelum ini (dibalik disrupsi pandemi) bicara tentang itu... pesan apa yang dibawa pandemi ini kepada kita. Kalau proses ini tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya, kita akan kembali ke proses yang sama dan jatuh ke situasi yang sama... Peristiwa sebesar ini, sesignifikan ini yang dihadirkan oleh semesta untuk peradaban manusia hari ini, tentu ada maksudnya... Memahami, memaknai hal ini jadi gambaran seberapa jauh kita melihat ini sebagai sebuah kesempatan yang sangat berharga dan perlu dijadikan ruang bertumbuh - seperti apa yang disampaikan Sadhguru di bawah ini... 

Qz7dB-Gx7m1U7bHgFsDuBoZkEJSvztpi1-r9bF_4Val4nvla6S_7odYWFJkpVNl2L3eq8UGs6pHa=s800-c-fcrop64=1,00000000ffffffff-nd?profile=RESIZE_400x

Lalu apa yang banyak saya lakukan dalam kesempatan jeda ini? Sesuai judul di atas, ini waktu hening buat saya... Seperti apa yang sehari-hari kita lakukan di Semi Palar. Saat hening, kita memang lebih mendengarkan batin kita, memahami nurani kita... 

Di suatu obrolan makan siang ada obrolan yang memantik pemikiran saya. Awalnya muncul dari obrolan Rico yang sempat kecewa karena Bernie Sanders mundur dari kampanye pemilihan presiden Amerika. Singkatnya Rico bilang, sulit sekali ya membuat perubahan... Saya dan Lyn merespon dan Rico sempat menyebut Nelson Mandela - yang harus mendekam selama 27 tahun. Walaupun demikian Mandela tidak sedikitpun bergeming idealisme dan pemikirannya - dan lewat kepemimpinannya merevolusi Afrika Selatan setelah ia dibebaskan. 

Bagi saya, yang menarik dari sosok Nelson Mandela adalah apa yang terjadi dalam benaknya, sikap mentalnya, hari demi hari di dalam penjara...  Salah satu filem favorit saya, INVICTUS bisa memberikan gambaran... 

"I am the master of my faith, I am the captain of my soul"

Saat ini kita semua dikondisikan harus berada di rumah masing-masing - sampai waktu yang belum bisa dipastikan... Dalam situasi kita hari ini, di rumah masing-masing, ini jadi kesempatan kita untuk justru menembus batas-batas diri, membangun mimpi, belajar dan belajar lagi. Mungkin bukan dengan cara yang biasanya kita lakukan, mungkin dengan hening... dengan mendengarkan suara hati kita masing-masing, mengenali diri dan apa peran kita di alam semesta ini... Bukan melihat ke luar tapi melihat ke dalam diri... 

Ada pesan yang dibisikkan semesta untuk umat manusia lewat situasi hari ini, yang perlu kita masing-masing dengarkan lewat keheningan yang kita miliki sekarang ini, supaya kita bisa menemukannya... Dulu keheningan adalah sesuatu yang mahal dan langka, begitu sulit kita menemukan keheningan dan ruang untuk mendengarkan diri kita sendiri...   

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa