#mamat (2)

#AES08 Kenang dalam Kening

Kemarin saya melihat seorang teman bersepeda bersama ayahnya. Ia ceritakan bahwa itu adalah sebuah kejadian istimewa. Terakhir kali ia bersepeda bersama ayahnya ialah ketika ia kecil. Sekarang ia telah bersuami dan beberapa tahun tidak lagi tinggal serumah dengan orang tuanya. Maka ketika tiba saatnya lagi bersepeda bersama ayah, haru menyuar dari hatinya. Terkadang hal-hal sederhana menjadi sangat besar dari sudut pandang lain. Mungkin karena pemahaman kita bertumbuh, atau karena ia dan ayahnya sudah berjarak.

Hari ini saya potong rambut. Seketika saya teringat juga kejadian pulang kampung saat libur natal. Tepat tanggal 25 Desember 2020. Di bawah mendungnya langit sore, saya meminta bapak untuk memotong rambut saya lagi. Terakhir kali bapak memotong rambut saya adalah saat saya SD. Belasan tahun yang lalu. Dulu bapak sendiri yang memotong rambut saya dan kedua adik saya. Hingga saya masuk SMP, saya mulai malu. Mulai memilih model rambut sesuai role model waktu itu. Seingatku, bapak hanya bisa tersenyum ketika saya sudah tak mau kalau rambut saya dipotong olehnya.

Dulu begitu mudah bagi saya memilih untuk rambut saya tidak dipotong oleh bapak. Tetapi sekarang saya menyadari ada hal lain yang lebih kuat rasanya. 25 Desember 2020 begitu haru. Sore hari di hari natal, saya seolah ikut lahir kembali sebagai anak SD. Anak SD yang ingin terus dipotong rambutnya oleh bapak. Dalam setiap helai rambut yang dipotong saya merasakan doa-doa, harapan, cinta, dan perhatian seorang bapak pada anaknya. Bapak saya pada Tius (panggilan kecil), anaknya yang kini sudah beranjak dewasa. Tak henti-hentinya saya bersyukur untuk hari itu.

Benar adanya bahwa cerita hari ini, keseharian, kebiasaan-kebiasaan (yang seolah) kecil bersama orang-orang tercinta adalah sejarah besar untuk masa depan. S'bab tak ada yang hilang dari masa lalu. Semoga setiap kita bisa menikmatinya dalam rasa yang berbeda. Dalam rindu atau haru yang setidaknya memberi senyum ketika melihat (dalam ingatan) atau kembali mengalami (meski dalam bentuk berbeda). Dan yang akan dikenang dari orang-orang terdekat kita adalah hal-hal sederhana di keseharian (yang bahkan jarang difoto/diabadikan). Bukan hal-hal besar yang sering diabadikan dalam foto. Hal sederhana yang terkenang dalam kening.

Read more…

AES04 Tangis di Ambang Pintu

Akhir 2017 sampai awal 2018 saya tidak melalukan apa-apa. Saya baru saja henti dari pekerjaan dan mengambil jeda. Kurang lebih selama 1 bulan. Mendekam di rumah bersama beberapa buku yang merayu-rayu untuk segera dibaca. Masih saya ingat jadwal harian saya selama 1 bulan itu. Mulai dari bangun pagi menemani bapak dan ibu ngeteh dan sarapan pagi. Selepas bapak berangkat saya menemani ibu berbincang sana-sini. Membaca buku dari siang sampai sore, bahkan kadang sampai malam. Ngobrol bersama bapak dan ibu. Menulis blog (dulu masih rajin). Tidur. Akan berulang sepanjang pekan. Akhir pekan sedikit berbeda, pagi jalan kaki bersama bapak dan minggu kami bertiga ke gereja bersama. Hanya 2 tambahan aktivitas itu, dan hanya 2 aktivitas itu yang membuatku 'keluar' dari (bangunan) rumah.

Selain menikmati hari-hari di rumah aja sebulan itu, saya juga punya misi sederhana tentang bapak dan ibu. Mumpung kedua adik saya sudah merantau semua dan jarang pulang. Kapan lagi saya punya waktu (lagi) bertigaan dengan mereka. Baru sampai usia 3 tahun, adik saya lahir. Menjelang 7 tahun, adik kedua lahir. Setelah itu; bapak, ibu, dan kedua adik saya pindah rumah. Saya sendiri tinggal ikut kakek dan nenek hingga kelas 4 SD. Saat kelas 4 SD kembali bersama mereka, semua sudah berbeda. Tiba-tiba saya sudah (dianggap) bukan anak kecil lagi. Ada kebersamaan yang kurang dan hilang antara saya dan orang tua. Saya justru merasa, saya ini anak kakek dan nenek. Ketika membahas indahnya masa kecil, kenangan bersama kakek dan nenek lebih mudah dicari. Hingga dewasa ini, jejak kakek dan nenek masih terus membayang. Saya bisa mengaitkan segala hal pada kenangan bersama kakek dan nenek.

Setelah tamat SMA, lagi-lagi saya berpisah dengan orang tua. Saya merantau di kota lain. Selesai kuliah, saya masih merantau. Hingga detik ini. Hanya sekitar 1/3 usia saya yang dihabiskan bersama bapak dan ibu.

Tetapi setiap kali saya bilang; "Pak, Bu. Tius (panggilan kecilku) belum bisa pulang." Mereka dengan lembut akan menjawab: "Rapopo mas, sing penting sehat. Wes maem durung?"

Mata mana yang mampu menahan derasnya haru? Kata orang; "rindu itu seperti hutang, harus dibayar." Saya tidak percaya. Kalau itu prinsipnya, saya takkan pernah lunas membayar rindu ini. Bagi saya rindu itu bukan tercipta karena perpisahan atau jarak. Rindu ada karena cinta yang terus bersatu dan tak pernah pergi (dari hati), meski raga berpisah dan berjarak. Rindu-rindu saya selalu lunas setiap kali saya menyadari, ada bapak dan ibu yang bertelut berdoa menyebut nama saya.

Kata mbah Tedjo: "puncak rindu paling dasyat adalah ketika dua orang tak saling telp, wa, dll tapi diam-diam saling mendoakan"

Setelah hampir 1 bulan penuh saya memperdalam perbincangan dengan bapak dan ibu, akhirnya sampai juga harinya. Itu hari pertama pada pekan terakhir bulan Januari 2018, saya mengatakan; "Saya mau jadi guru boleh, kan?"

Di tangan bapak dan ibu ada piring dan sendok yang tertahan beberapa detik ketika mendengar tanya itu pagi-pagi. "Kamu mau jadi guru di mana?"

Setelah saya jelaskan, mereka mengijinkan. Sepanjang 1 minggu sebelum keberangkatan saya, suasana rumah berubah. Entah apa rasanya. Yang teringat saat itu ialah cerita kecil saya yang senang dengan hari sabtu dan benci hari minggu. Sabtu adalah hari bapak dan ibu (dulu) datang menjenguk ke rumah kakek. Minggu ialah hari mereka kembali ke rumahnya. Saya ingat betul, tidak pernah menangis di hari minggu (sebelum bapak dan ibu benar-benar tak terlihat di ujung jalan). Cerita itu kembali menyuar di benak dan batin saya di satu minggu terakhir.

Ini harinya. Pagi itu saya sudah siap dengan semua barang yang dibantu ibu menyiapkan malam harinya. Sekali lagi saya menatap lekat wajah mereka. Saya tidak mau menangis. Saya tidak mau mereka melihat saya menangis, itu maksudnya. Saya pun tahu, bapak dan ibu begitu. Bapak telah siap di motor untuk mengantar ke terminal. Setelah lambaian tangan, motor berjalan. Saya tengok sekali lagi dan menyaksikan ibu menangis di ambang pintu. Saya diam, bapak pun diam sepanjang jalan hingga terminal. Meski tak pernah saya pastikan, apa makna diamnya.

Hari-hari ini saya melihat begitu banyak berita duka tentang keluarga. Setiap hari, bahkan lebih dari 1 atau 2 kali. Ini membuat saya setiap hari rindu rumah.

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa