#covid19 (4)

Kembali ke dasar, mundur ke esensi

4323653418?profile=RESIZE_710x

Beberapa waktu lalu, saya terima gambar ini di salah satu pesan WA saya dari anak saya Inka (kalau ada yang nonton filem Hunger Games, adegan tersebut pastinya sangat berkesan). Sambil tertawa miris, ini memang kenyataan hari ini. Sudah lewat beberapa minggu, milyaran warga kota besar dan kecil di seluruh dunia harus mengunci diri di rumah masing-masing. Hanya keluar rumah kalau ada yang penting, sambil mempersiapkan diri fisik dan mental - sambil membawa perlengkapan untuk melindungi diri kita dari apa yang ada di luar sana...

Seperti jaman purbakala, jaman manusia gua. Mereka hanya keluar kalau ada yang penting karena keluar tempat tinggal adalah pergi ke dunia penuh bahaya... Bedanya dulu mereka berhadapan dengan harimau gigi pedang atau mastodon, hari ini kita harus berhati-hati terhadap benda tak kasat mata, virus corona... Singkat kata, kita ibarat sedang dipaksa merasakan kembali apa yang disebut dengan bertahan hidup... survival. Disadari atau tidak kita semua sedang dipaksa kembali ke dasar, merasakan kembali kehidupan yang paling esensial. Tanpa asesoris, tanpa embel-embel. Dalam kondisi survival, semua kembali ke dasar...

Secara sosial, kita dikondisikan untuk tinggal di rumah (home) dalam arti sebenar-benarnya. Kita tidak punya tempat pergi, untuk menghindar atau kabur. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa dipaksa berhadapan dengan kenyataan mengenai bentuk relasi dan interaksi kita dengan orang-orang yang (semestinya) terdekat dengan kita - keluarga kita: pasangan, anak atau orangtua - siapapun yang ada di rumah. Banyak juga yang ternyata begitu gelisah dan tidak betah di rumah - di tempat yang semestinya jadi tempat teraman atau ternyaman buat kita manusia. Dalam situasi seperti ini, tanpa bisa menghindar kita diajak untuk menyadari - dengan kembali ke hal-hal kehidupan kita yang paling mendasar - memaknai kembali apa yang disebut dengan keluarga. 

Makanan, tidak punya banyak pilihan. Sebelumnya kita begitu leluasa untuk memilih jajanan atau makan di luar rumah. Sekarang pilihan jadi sangat terbatas, beruntung masih ada abang Grab atau GoJek yang bersiap untuk mengantar makanan pesanan kita. Tapi dengan kita berada di rumah dalam jangka waktu tertentu, buat banyak keluarga, kembali memasak jadi pilihan menarik juga. Selain menghemat waktu, mengirit biaya juga... kembali ke dasar... Saat bahan persediaan menipis, kadang kita makan jadi sangat sederhana, mungkin nasi dan telur dadar bisa jadi sesuatu yang sangat nikmat...  

Beberapa minggu setelah #dirumahaja, saya memutuskan untuk mencoba gagasan yang sudah lama saya pikirkan, tapi belum menemukan momennya, berkebun. Menanam sayur sendiri. Mencoba konsep yang disebut-sebut sebagai kemandirian pangan. Kembali ke dasar...

Sempat di berbagai media sosial dan semua orang jadi heboh soal berjemur... Para ahli berdebat bagaimana cara berjemur yang paling tepat - setelah sekian lama tidak peduli sama matahari, tetiba berjemur - berinteraksi dengan sumber segala enerji di atas muka bumi ini jadi sesuatu yang penting... Kembali ke dasar

Lebih jauh lagi, banyak dari kita yang dikondisikan setidaknya dihadapkan dengan kesempatan untuk bercermin terhadap diri kita sendiri - bagaimana situasi mental dan pikiran kita. Apakah kita takut, gelisah, bosan, memikirkan apa yang di luar sana, atau tidak menerima situasi... Apakah kita marah terhadap kenyataan yang ada atau lainnya... Tidak ada teman kerja, tidak bisa ke cafe, tidak bisa makan enak di restoran atau nonton bioskop, tidak bisa shopping atau hang out... Kita dalam situasi dibatasi secara sosial, kita hanya berada dengan orang-orang terdekat dan diri kita sendiri.. Segala sesuatu yang kita rasakan atau pikirkan adalah pikiran dan emosi kita sendiri... Kembali ke dasar.

Pada akhirnya kalau kita merenungkan cukup mendalam, kita bisa merenungkan lagi tentang makna hidup, apa itu hidup dan kehidupan... Karena toh sekarang ini dengan segala keterbatasannya kita hidup... Lalu apa itu sebetulnya segala kesibukan yang biasanya selalu kita jalani selama ini tanpa henti... Apakah semua itu kehidupan? Apakah kita bisa menemukan makna dan hakikat hidup yang sesungguhnya di dalam kesempatan ini, di mana segala sesuatu terhenti dan kita bisa punya keheningan untuk melihat dan merenungkan segala sesuatu secara jernih... 

Luar biasa ya virus corona ini... Sejak lama saya meyakini, tidak ada peristiwa kebetulan... Tentunya hal terjadi ada maksudnya. Kalau segala sesuatu hanya terhenti tanpa kita temukan maknanya - dengan hebatnya peristiwa yang terjadi di seluruh dunia, dengan segala pengorbanan yang ada... tentunya semua itu jadi sia-sia...  

 

Read more…

Memaknai Jeda - Waktu Hening ini

Buat saya pribadi, disrupsi pandemi ini menjadi kesempatan luar biasa. Sebuah jeda, waktu hening yang diberikan kepada kita untuk merenungkan banyak hal terutama segala hal yang selama ini kita jalankan - mungkin nyaris tanpa berpikir, tanpa kesadaran.. Setelah kita semua selesai dengan periode adaptasi - di mana kita mulai terbiasa dengan ritme, suasana dan rutinitas yang baru, mudah2an kita juga sudah bisa bangkit dan berpikir lebih jauh apa yang bisa dilakukan dalam kesempatan jeda ini. 

Harus diakui, waktu yang bergulir cepat dan terasa semakin cepat membuat kita sulit menyadari apa yang kita jalani. Selama ini hidup kita - mungkin tanpa disadari begitu sibuk, begitu gaduh... Kita setiap hari bikin rencana ini, bikin rencana itu, ngumpul di sini, pergi ke sana, beli ini beli itu, hal yang sebagian besar dipengaruhi apa yang kita konsumsi melalui Media Sosial. Kesibukan yang jangan2 sebetulnya tidak betul-betul kita penting untuk kehidupan kita. 

Menganalogikan saat kita berjalan kaki dibandingkan dengan berkendaraan, di dalam kendaraan kita tidak menyadari hal-hal apa yang kita lewati di sepanjang jalur perjalanan kita. Hal yang sama terjadi dalam apa yang kita kerjakan sehari-hari, apa yang kita lakukan melalui profesi/pekerjaan kita - aktivitas kita sehari-hari... Dalam skala yang lebih besar, ini berlaku juga untuk kehidupan kita, hari demi hari yang kita lalui, detik demi detik kehidupan kita. Apakah kita sempat merefleksikan, memahami, menghayati bagaimana perjalanan kehidupan kita jalani selama ini saat kita merasa terburu-buru dan kehabisan waktu. Saat ini di dalam jeda - waktu hening yang dihadirkan oleh Covid-19, kita punya kesempatan luar biasa untuk itu. 

Posting saya sebelum ini (dibalik disrupsi pandemi) bicara tentang itu... pesan apa yang dibawa pandemi ini kepada kita. Kalau proses ini tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya, kita akan kembali ke proses yang sama dan jatuh ke situasi yang sama... Peristiwa sebesar ini, sesignifikan ini yang dihadirkan oleh semesta untuk peradaban manusia hari ini, tentu ada maksudnya... Memahami, memaknai hal ini jadi gambaran seberapa jauh kita melihat ini sebagai sebuah kesempatan yang sangat berharga dan perlu dijadikan ruang bertumbuh - seperti apa yang disampaikan Sadhguru di bawah ini... 

Qz7dB-Gx7m1U7bHgFsDuBoZkEJSvztpi1-r9bF_4Val4nvla6S_7odYWFJkpVNl2L3eq8UGs6pHa=s800-c-fcrop64=1,00000000ffffffff-nd?profile=RESIZE_400x

Lalu apa yang banyak saya lakukan dalam kesempatan jeda ini? Sesuai judul di atas, ini waktu hening buat saya... Seperti apa yang sehari-hari kita lakukan di Semi Palar. Saat hening, kita memang lebih mendengarkan batin kita, memahami nurani kita... 

Di suatu obrolan makan siang ada obrolan yang memantik pemikiran saya. Awalnya muncul dari obrolan Rico yang sempat kecewa karena Bernie Sanders mundur dari kampanye pemilihan presiden Amerika. Singkatnya Rico bilang, sulit sekali ya membuat perubahan... Saya dan Lyn merespon dan Rico sempat menyebut Nelson Mandela - yang harus mendekam selama 27 tahun. Walaupun demikian Mandela tidak sedikitpun bergeming idealisme dan pemikirannya - dan lewat kepemimpinannya merevolusi Afrika Selatan setelah ia dibebaskan. 

Bagi saya, yang menarik dari sosok Nelson Mandela adalah apa yang terjadi dalam benaknya, sikap mentalnya, hari demi hari di dalam penjara...  Salah satu filem favorit saya, INVICTUS bisa memberikan gambaran... 

"I am the master of my faith, I am the captain of my soul"

Saat ini kita semua dikondisikan harus berada di rumah masing-masing - sampai waktu yang belum bisa dipastikan... Dalam situasi kita hari ini, di rumah masing-masing, ini jadi kesempatan kita untuk justru menembus batas-batas diri, membangun mimpi, belajar dan belajar lagi. Mungkin bukan dengan cara yang biasanya kita lakukan, mungkin dengan hening... dengan mendengarkan suara hati kita masing-masing, mengenali diri dan apa peran kita di alam semesta ini... Bukan melihat ke luar tapi melihat ke dalam diri... 

Ada pesan yang dibisikkan semesta untuk umat manusia lewat situasi hari ini, yang perlu kita masing-masing dengarkan lewat keheningan yang kita miliki sekarang ini, supaya kita bisa menemukannya... Dulu keheningan adalah sesuatu yang mahal dan langka, begitu sulit kita menemukan keheningan dan ruang untuk mendengarkan diri kita sendiri...   

Read more…

Sudah masuk pekan ke 3 semenjak proses pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di sekolah menjadi pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan sistem daring. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir penyebaran dari COVID-19 yang sudah berstatus pandemi. Baru beberapa hari saya memiliki kesempatan secara langsung berinteraksi dan terlibat langsung dalam pembelajaran di Semi Palar, namun apa daya yang sudah direncanakan pun harus kita susun kembali karena situasi ini.

 

Di pekan pertama kami ditugaskan membuat LKS serta juga melihat proses Kakak mengalih wahanakan pembelajaran. Pada saat minggu tersebut saya mencoba mempelajari bidang studi di SD dan SMP serta mempelajari apa yang terjadi hari ini di dunia ini dengan virus ini. Serta diskusi menyenangkan di grup whatsapp tentang beberapa hal yang terjadi hari ini dan perihal Smipa sendiri. Termasuk pasrah ketika di akhir minggu yang tadinya saya akan menyelenggarakan pertunjukan teater boneka harus ditunda untuk mengurangi ruang temu dengan banyak orang yang akan memudahkan penyebaran virus ini. Pertanyaan muncul di dalam kepala, sejalan dengan pemberitaan yang makin membabi buta perihal virus di berbagai kanal media. Ketakutan pun muncul dalam diri, tapi tidak boleh terus seperti itu dikuatkanlah dengan menyaring berita dan informasi yang bisa diikuti.

 

Pekan kedua, mulailah terjadi kegamangan, dikarenakan terbiasa dengan aktivitas di luar rumah. Ini adalah kali pertama berdiam diri cukup lama di rumah. Sempat merasa seperti energi di dalam diri mulai menghilang secara perlahan. Saya terus berusaha untuk produktif dengan menulis ulasan dan kritik pertunjukan, membaca berbagai buku dan lainnya. Saya mulai menyadari bahwa manusia harus siap dengan perubahan yang cepat, harus bisa menjadi sosok yang dinamis akan satu situasi. Bagaimana kita harus adaptasi dengan keadaan saat ini dan kita harus bisa tetap produktif walaupun kita berdiam diri di rumah. Kesulitan pasti dihadapi dan sampai detik ini saya pun masih berusaha untuk mencari alternatif-alternatif inovasi dalam berkegiatan di situasi seperti ini. Memang tidak seideal ketika kita bisa berinteraksi secara langsung, tetapi kita harus terus mencari jalan untuk kita bisa tetap hidup.Pembelajaran yang juga sebenarnya luar biasa di situasi seperti ini adalah bagaimana juga kita jadi lebih saling menghargai yang ada di sekitar kita agar tidak saling menularkan satu sama lain.

Read more…

Dibalik Disrupsi Pandemi

 

Sejak beberapa waktu lalu saya banyak berpikir bagaimana umat manusia bisa mengubah arah perkembangan peradabannya. Sebuah sistem besar yang dibangun sejak ratusan tahun lalu, bermula dari era Revolusi Industri. Sistem peradaban yang terus berakselerasi hingga hari ini, tampaknya tidak terhentikan oleh apapun juga - walaupun tampak betul bahwa kemajuan peradaban ini berdampak buruk terhadap alam lingkungan dan juga kemanusiaan kita. Beberapa waktu lalu saya menuliskan sebuah blogpost untuk keluarga dan teman berusaha bercerita bahwa kerusakan iklim sudah sedemikian parah, dan kita tidak punya banyak waktu untuk memperbaikinya... Posting berikutnya yang bertajuk Betulkah Terjadi Krisis Iklim adalah lanjutannya. 

4282552037?profile=RESIZE_710x

klik di sini untuk melihat blogpost

Tidak diduga virus corona bermula di Wuhan, Cina, dalam waktu singkat mewabah ke seluruh penjuru dunia. Di dunia yang sudah serba terkoneksi seperti sekarang ini, tidak ada negara yang berdaya mencegah virus ini masuk ke negaranya - kecuali mungkin Korea Utara :). Hari ini, tiga bulan lebih sejak awal COVID-19 terdeteksi, ratusan ribu terinfeksi, korban jiwa segera berjatuhan, tanpa memandang siapa bagaimana... tua, muda, kaya miskin, terkenal ataupun tidak, semua jadi korban.

Disrupsi global terjadi - ibarat kereta api kecepatan tinggi yang dipaksa berhenti mendadak, semua berantakan... Penumpang terjungkal, barang-barang berantakan. Dalam situasi sekarang negara-negara harus berhadapan dengan satu pilihan untuk menghentikan semua kegiatan, memaksa warganya tinggal di rumah dan tidak berkegiatan - dengan resiko kegiatan ekonomi berhenti... Sementara saat ini, kapan situasi bisa kembali normal tidak ada yang bisa memprediksi... chaos... 

Tapi apa yang terjadi di balik itu semua, berhentinya laju peradaban ini membuka mata kita terhadap hal-hal lain yang selama ini nyaris kita tinggalkan atau tidak kita pedulikan... Kenapa? karena kita semua berkejaran dengan waktu, selalu tergesa, selalu bergegas hari demi hari... Saat segala sesuatu berhenti ada banyak hal yang ternyata bisa kita amati... hal-hal yang sebetulnya berharga dan selama ini kita tinggalkan. 

 

 

Planet bumi, sepertinya punya cara sendiri untuk menyembuhkan diri - untuk menemukan kesetimbangannya kembali... Yang jauh lebih penting bagi kita adalah sejauh mana umat manusia bisa menemukan kembali kesadarannya bahwa ada banyak hal yang perlu diperbaiki kalau hal-hal seperti pandemi Covid-19 ini ingin kita hindari di masa depan. Kita perlu mengubah banyak hal dan melakukan segala sesuatunya dengan kesadaran penuh untuk menjaga keseimbangan. Seperti yang diungkap oleh pakar kesehatan dunia Alanna Shaikh di dalam TED Talknya, bahwa pandemi global ini muncul karena krisis iklim - karena rusaknya keaneka-ragaman hayati - karena bagaimana manusia berinteraksi dengan planetnya (menit 4:50). Hal-hal yang rusak dan sudah ada di titik kritis karena peradaban manusia yang melakukan segalanya tanpa kesadaran... 

Di bawah ini satu video yang bisa membawa kita belajar dari pandemi COVID-19 dan bagaimana keterkaitannya dengan Krisis Iklim yang juga menjadi penyebabnya. Satu dekade lalu, Al Gore dalam dokumenternya Inconvenient Truth juga sudah menggambarkan bagaimana pemanasan global akan memicu munculnya berbagai jenis penyakit baru, sebagai dampak dari memanasnya rata-rata suhu bumi. 


 

Tentunya kita berharap pandemi ini segera berakhir - dan semua kembali ke normal, tapi semestinya bukan normal seperti kondisi sebelumnya karena kondisi peradaban sebelumnya inilah yang memicu pandemi ini terjadi. Sampai sejauh ini yang teramati, semua orang hanya berusaha sabar menunggu kapan bisa kembali ke aktivitas seperti biasa. Hampir semua media bicara tentang menurunnya aktivitas ekonomi dan produksi - sementara hal-hal itulah yang menjadi penyebab dari ketidak-setimbangan ini. Lebih berbahaya lagi kalau nanti kita semua berusaha mengejar target atau ketertinggalan. Video-video di atas mestinya menyadarkan kita tentang hal ini.  

Jeda ini mestinya jadi peluang kita semua untuk merefleksikan diri kenapa ini terjadi dan apa yang perlu kita ubah agar ke depan hal-hal ini tidak terulang kembali. Bagaimana kita mengelola sistem ekonomi yang punya perspektif lingkungan - supaya kesetimbangan lebih terjaga. Kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari sistem planetari yang utuh perlu dibangun. Segala sesuatu yang kita lakukan perlu dilandasi kesadaran akan dampaknya terhadap alam lingkungan...  

Kita perlu mendefinsikan kembali apa yang baik disebut normal. Kalau umat manusia gagal merefleksikan kenapa pandemi ini terjadi - dan menemukan hal-hal apa yang memicu terjadinya pandemi ini, kita akan segera dengan pandemi berikutnya - yang bukan tidak mungkin akan jauh lebih mengerikan - karena kembali lagi, planet bumi akan mencari cara untuk menemukan kembali kesetimbangannya. 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa