#atomicessaysmipa (30)

AES#08 Pengingat Diri

Apakah kamu bahagia?

Apa indikator seseorang dikatakan bahagia?

Jalan-jalan sesuka hati? Punya saham dimana-mana? Punya mobil terbaru? Jadi CEO masuk Forbes? Jabatan tinggi mau apa tinggal tunjuk dan lain sebagainya? Yakin itu bahagia??

Pernahkah melihat ibu-ibu atau bapak-bapak di pinggir jalan menjajakan koran atau cemilan dagangannya? Atau melihat embah-embah yang  berjualan panganan tradisional? Ketika melihat mereka yang sering dibilang “kurang beruntung” terbesit dalam hati perasaan sedih atau kasihan? namun melihat senyum sumriangan tulus dengan menampilkan senyum gigi pepsoden, rasa-rasanya mereka jauh lebih bahagia. Mereka lebih bahagia, lebih tenang tidur dan hidupnya dibanding kita atau para pejabat. Kita yang sering was-was dengan bursa saham yang tiba-tiba turun, kepikiran bayar pajak, terganggu dengan berbagai “titipan-titipan” rasanya dari tidur sampai bangun sampai tidur lagi hati tak tenang.

Jika ditanya apa si tujuan kamu hidup? Sering saya dengar banyak menjawab “ingin bahagia”. Lalu bagaimana bahagia seperti apa? Bagaimana mendapatkan kebahagian? Dari saya masih anak-anak sampai masuk dunia kuliah, bahagia selalu dikaitkan dengam “material” dengan standart yang seakan-akan sudah jadi hak paten.

Standart bahagia yang sudah menjadi hak paten, seakan-akan menjadi tujuan hidup manusia agar mendapat label “manusia sukses, manusia bahagia”. Padahal kan bukan begitu konsepnya :) (ceuk  anak twitter )

Video yang ditampilkan pada sesi pembekalan TP 17 hari pertama “Beyond Thinking” menjawab dan menggenapi pertanyaan saya tentang bahagia.

Standart bahagia yang menjadi hak paten menjadikan manusia selalu mencari kebahagiaan dari luar dirinya yang bersifat materi dan sebenarnya kita pahami juga bahwa materi itu sifatnya tidak long lasting dan tidak ada pernah cukup sampai individu itu sadar bahwa cukup itu cukup. Mendapat bahagia dari luar yang bersifat materi membuat manusia menjadi human doing (hanya menjadi objek dari ambisinya mencapai “standart bahagia” tersebut).

Kebanyakan dari kita termasuk saya focus mencari di luar, padahal jawabannya ada di paling terdekat dengan kita yaitu diri kita sendiri. Sudahkah kita mengenal diri sendiri? Sudahkah kita mencintai diri kita sendiri? Sudahkah kita mendengar isi nurani diri sendiri?

Kadangkala kita selalu mencari jawaban diluar namun lupa berpikir kedalam.

Read more…

AES#08 Gunung Raung - Banyuwangi

Gunung selanjutnya yang aku daki setelah gede adalah gunung raung. Gunung raung ini ada di Banyuwangi, Jawa Timur, saat itu masih 2013 bersama 11 orang lainnya. Nah pendakian ini agak berbeda karna kita bukan sekedar main, tapi kita melakukan ekspedisi untuk pengambilan nomor anggota.

Kita berangkat dari bandung pakai kereta sampai ke lempuyangan (jogya) lalu disambung lagi naik kereta ke banyuwangi, dari stasiun kita naik mobil bak terbuka untuk sampai basecamp. Kita bermalam di basecamp pak suto, memang kebanyakan pendaki yang naik akan singgah dulu di rumah pak suto, disini kita bisa ngobrol dengan pendaki lain bisa soal jalur, sumber air atau bahkan merencanakan untuk mendaki bersama. FYI terkadang kita para pendaki suka saling berkenalan dan akhirnya mendaki bersama walalupun kita baru bertemu di basecamp, karna bila kita berangkat dengan regu sedikit akan lebih mudah dan lebih aman kalo kita mendaki bersama pendaki lain, apalagi kalau ada pendaki yang pernah mendaki gunung itu sebelumnya.

Gunung raung ini adalah gunung dengan jalur pendakian paling ekstrem di pulai jawa, karna untuk sampai ke puncaknya kita harus memanjat bebatuan yang langsung berdampingan dengan jurang, ada sebuah jalur yang dinamakan jalur shiratal mustaqim, jalurnya hanya selebar 1 meter kamu meleng sedikit saja sudah nyawamu good bye.

Dari post pertama kita melewati kebon kopi dulu sebelum masuk ke vegetasi hutan, banyak sekali trek-trek yang longsor sehingga lebar jalan hanya muat untuk satu orang, belum lagi trek yang curam, pas naik dagu ketemu lutut itu sering sekali (makin akrab deh mereka hahahaha), ga ada trek bonus (landai) di raung ini semuanya terjal.

Hari pertama kita memutuskan untuk tidur di camp 4, tidak banyak tempat camp di jalur pendakian raung, kalaupun ada itu hanya muat untuk 2 sampai 3 tenda saja. Untungnya saat itu hanya tim kita yang mendaki raung. Hari kedua kita camp di post 8, anginnya kencang sekali pada saat itu, badai sepertinya selalu menemani malam kami di gunung raung. Besoknya kita memutuskan untuk summit, dengan membawa alat yang diperlukan saja, tenda dan barang-barang lainnya kita tinggalkan di post 8. Ada 4 puncak di gunung raung ini, yakni puncak bendera (3.159 mdpl), puncak 17 (3.108 mdpl), puncak tusuk gigi (3.300 mdpl) dan puncak sejati yang merupakan puncak tertinggi di 3.344 mdpl. Saat itu anginnya sangat kencang dan kabutnya mulai naik, sehingga kami memutuskan para wanita (4 orang) menunggu di puncak bendera dan para lelaki (5 orang) meneruskan ke puncak sejati, karna jalurnya sangat ekstrem sekali jadi lebih sedikit orang yang pergi, resikonya lebih bisa di minimalisir dan untuk keamanan kita membutuhkan alat panjat untuk melewati jalur itu.

Tapi karna cuaca yang benar-benar buruk sehingga jarak pandang yang sangat terbatas, tim kami memutuskan untuk kembali lagi ke camp setelah sampai puncak tusuk gigi, karna pada hakikatnya tujuan kami bukanlah puncak sejati tapi pulang kerumah dengan selamat. Akhirnya hari berikutnya kita memutuskan untuk turun. Saat turun terjadi trouble padaku, ini adalah gunung kedua yang kudaki, pengetahuanku tentang naik gunung masih sangat sedikit dan aku turun dengan cara yang salah, saat itu aku terlalu banyak menggunakan lutut sebagai tumpuanku saat turun, sehingga di post 4 kaki ku tidak bisa dipakai jalan lagi beneran gabisa kaya kursi yang baudnya dilepas jalan selangkah langsung ambruk. Jadi karna aku benar-benar tidak bisa berjalan kami memutuskan untuk camp satu hari lagi di camp 4. Tapi keputusan ini adalah keputusan terbaik kami di gunung raung sih, karna dengan menambah waktu camp aku dan teman-temanku punya waktu lebih untuk saling mendekatkan dan menikmati malam dan pagi di gunung raung.  Memang selalu ada alasan untuk sebuah peristiwa, hal buruk selalu didampingi dengan hal baik setelahnya seperti pelangi yang selalu mengakhiri badai.

Read more…

AES#07 Gunung Gede Pangrango

Hari ini kita cerita tentang gunung gede, gunung ini adalah gunung ketiga yang kudaki setelah burangrang dan tangkuban perahu. Gunung gede ini adalah gunung pertama yang aku daki setelah menjadi anggota pecinta alam.

Aku masih ingat saat itu kita mendaki gede untuk memperingati hari kartini, jadi kami sebagai para wanita di gandawesi diwajibkan untuk ikut pendakian ini, aku lupa berapa tepatnya jumlah orang dalam pendakian ini, tapi seingatku selain senior-seniorku ada juga beberapa orang dari luar yang ikut pendakian bersama kita.

Ingat sekali waktu itu tahun 2013, tahun boomingnya film 5 cm, sehingga banyak sekali orang yang tertarik untuk naik gunung. Dan waw tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan merasakan macet di gunung, baaanyak sekali orang yang medaki saat itu sedangkan jalur cuma segitu-gitunya belum lagi harus dibagi antara pendaki yang naik dan yang turun dan ya pada akhirnya kita harus menunggu dulu orang didepan kita maju baru kita bisa maju. Semacam kalo lagi macet dijalan lah hanya kita tidak menggunakan kendaraan.

Di gunung gede ini peraturannya memang sudah ketat dari dulu, simaksinya pun mahal dari dulu. Sebelum naik semua barang yang kita bawa harus dilaporkan ke basecamp. Kita berangkat hari jumat dari kampus bandung, lalu menginap semalam di basecamp, sabtu pagi kita baru mulai pendakian. Sabtu sore kita sampai di alun-alun surya kencana, surken ini adalah ladang bunga edelweis (hanya sayang pada saat itu belum musim mekar, jadi kita gabisa liat langsung bunga edelweisnya). Alun-alun surya kencana ini adalah camp post terluas yang pernah aku dapati saat mendaki gunung.

Minggu pagi akhirnya kita summit dan siangnya langsung turun gunung. Pendakian gede ini menjadi pengalaman pertamaku merasakan betapa menyenangkannya naik gunung. Dan menjadikan aku anak yang ga akan nolak kalo diajak naik, berapapun ketinggian gunungnya dan dimanapun daerahnya. Di pendakian ini juga aku belajar cara berjalan, jalan digunung gabisa disamain dengan jalan di kota gais, bagaimana kita harus mengatur nafas, kapan harus berhenti dan kapan harus lanjut, bagaimana cara turun gunung yang bener agar lutut kamu leklok hahaha.

 

 

Read more…

AES#7 Pesan Semesta di Hari ke 16

Hampir setiap pagi kabar pertama yang ku dengar adalah kabar duka dari masjid. Sehari tak hanya sekali tetapi beberapa kali menyiarkan dengan nama sama maupun berbeda.

Ku dapati kabar tak duka silih berganti di media sosial mengabarkan kehilangan orang-orang tercinta.

Bendera kuning akhir-akhir ini sering ku jumpai daripada bendera merah putih.

Tiga kali aku berkunjung ke toko alat kesehatan, setiap kunjungannya selalu ku dapati orang-orang mengantri mengisi oksigen.

Sering ku dengar curhatan para pedangan yang meratapi dagangan yang tak laku karena jalanan ditutup, sedangkan asap dapur harus mengepul.

Beberapa kali pergi ke apotek ku dapati selalu penuh, beberapa kali juga aku dapati stok masker, kayu putih, oxcycan, oximeter, dan obat-obatan habis.

Jujur, rasanya tak baik-baik saja merasakan dan mendapati semua ini.

Ternyata hal-hal kecil yang sering terabaikan menjadi sesuatu yang sangat berarti saat ini.

Ternyata sejauh atau “seada apanya” (yang sebenarnya tidak ada apa-apanya) manusia akan kembali pada Yang Maha Kuasa

Rasanya mendapati tubuh masih diberi kesempatan menghirup oksigen dengan cuma-cuma adalah sebuah karunia.

Rasanya masih bisa merawat dan melihat orang-orang tercinta sembuh dan sehat adalah sebuah keberkahan.

Seperti 15 hari sebelumnya, pagi ini di hari ke 16 ku dapati kembali berita duka dari masjid. Pikiran bawah sadar ku langsung bertanya “Yaa Rabb… pesan/makna apa yang ingin Engkau sampaikan atas semua peristiwa ini?”

Ku yakin, setiap peristiwa yang terjadi memiliki pesan/makna dibaliknya. Tak ada peristiwa yang terjadi kebetulan dan begitupun tak ada juga yang terjadi sia-sia. Menurut Frankl, ketika seorang memiliki kesadaran bahwa hidupnya memiliki makna walau ia menghadapi kondisi terpuruk sekalipun ia akan bertahan. 

Setiap orang punya pesan/makna masing-masing atas beragam peristiwa yang terjadi 1,5 tahun ini.

 

Mudah-mudahan semua selalu dikuatkan, dilindungi, dan disehatkan jiwa dan raganya. Aamiin

Read more…

AES#06 Gina dan Gunung

Hai, gina kembali lagi…setelah diteror beberapa kali sama kak andy buat nulis lagi di ririungan haha. Memang harus dipaksakan sih habitnya, bisa karna biasa.

Hari ini gina mau coba sharing tentang pengalamanku naik gunung, mungkin ini bisa memulai lagi menghidupkan atomic essayku. Aku yakin banyak temen-temen disini yang pengalamannya jauh lebih banyak dari padaku, tapi banyak atau sedikitnya pengalaman tidak menjadi tolak ukur bisa tidaknya kamu menceritakan itu kembali kan haha. Jadi ini bukan sombong yah teman-teman, hanya berbagi siapa tau ada yang bisa diambil dari ceritaku atau sekedar menjadi hiburan ditengah pedasnya berita pandemic sekarang ini.

Aku mulai mencoba mendaki gunung di tahun 2013, sudah sejak 8 tahun lalu ternyata, tidak pernah terpikir sebelumnya aku menjadi seorang yang suka mendaki gunung apalagi menjadi salah satu anggota pecinta alam. Gunung yang kudaki pertama kali adalah gunung burangrang, saat itu karna sedang diksar dengan segala tekanan yang ada kita naik burangrang dengan carrier yang segede gaban hahaha, tapi burangrang ini menjadi gunung pertama yang kudaki dan yang paling sering, karna kalo diksar kita pasti naik burangrang jadi mau tidak mau setidaknya setahun sekali kita naik ke burangrang, tapi bodohnya aku  berkali-kali naik pun tetap ga hapal jalurnya, tiap tahun masih aja nanya

ini masih jauh ga ya?

Berapa lama lagi sampe puncak?

Turunnya sampe jam berapa kira-kira?

Kalian ada yang sama bodohnya dengaku ga? Hahaha

Kalo dihitung-hitung ternyata ga banyak sih gunung yang pernah kudaki, mungkin hanya sekitar delapan atau sembilan gunung, dan diantara semuanya hanya burangrang yang aku daki berkali-kali, yang lainnya sudah pasti hanya sekali karna mottoku adalah ‘untuk apa mendaki gunung yang sama dua kali? Kan jalurnya sama, puncaknya sama’ jadi tidak ada kata revisi untuk naik gunung hahahaha

Lalu apasih gin yang buat kamu terus mendaki gunung, padahal itukan capek, kadang turun gunung badan sakit semua. Buatku naik gunung itu bukan soal puncak tapi perjalanannya, setiap gunung punya ceritanya sendiri-sendiri, dengan orang yang berbeda, dengan jalur yang berbeda, trouble yang berbeda pula. Nah untuk cerita selanjutnya aku bakal coba ceritain satu-satu tentang gunung-gunung yang pernah kudaki, jadi sampai bertemu di essayku selanjutnya teman-teman :)...

 Happy Friday…

Read more…

AES#6 Ulasan: Taksu Ubud

Taksu Ubud sebuah judul teater yang menceritakan ketakutan, kegamangan seorang pemuda bernama Umbara dalam menentukan pilihan. Umbara seorang pemuda yang harus menentukan pilihan antara melanjutkan karir di perantauan atau kembali ke kampung untuk menjaga dan melestarikan adat leluhur.

Dalam perjalanan jiwanya seperti ada yang mengetuk pintu kesadaran jiwa Umbara bahwa “aku harus pulang”.

Dalam perjalanan pulangnya, kegamangan pun terus berkecambuk dalam relung hatinya. Tak mudah memang.

Sesampainya pada tanah leluhur (Ubud), Umbara melihat beragam macam adat istiadat leluhurnya seperti sekelompok seniman sedang latihan gamelan dan tari kecak, anak-anak sedang bermain tradisonal sambil bersenandung, seni lukis, dalang yang sedang mementaskan lakon pewayangan, dan tradisi adat menjaga pohon. Penjelajahan tersebut ternyata meluluhkan rasa keterasingan dan menyentuh kesadaran jiwa Umbara semakin dalam.

Ketika bertemu dengan ibu, keduanya saling memeluk Umbara menceritakan kegamangan yang ada dalam relung hatinya.

“Aku bingung, takut, cemas, dan kurang paham untuk kembali ke tanah leluhur kita” ucap Umbara

“Anakku, sang waktu memakan kita setiap saat. Jangan menyesali masa lalu dan merindukan yang belum datang.  Seperti kamu sedang berkelana pada akhirnya pencaharian mu berakhir juga. Pulang … kembali pada akar mu”. jawab ibu sambil mengusap kepala Umbara

“aku bingung, bagaimana menanggung tanggung jawab adat yang rumit ini?” Tanya Umbara 

“Tidak ada yang rumit anak ku, bila melihat dengan nurani. Ia adalah ulah, budi, dharma”. Jawab ibu

Kegamangan ini tak hanya dialami Umbara. Umbara berhasil mewakili suara hati pemuda yang mengalami kekhawatiran yang sama. Memilih antara kemapaman karir di perantauan atau kembali pulang pada kampung halaman menjadi penerus adat leluhur. Hidup memang pilihan. Semoga pilihan apapun yang sedang dijalani, sebuah putusan yang berasal dari suara hati.

Kisah ini memberikan gambaran bahwa ketika manusia kembali ke akar dan melibatkan nurani dalam melihat berbagai peristiwa mengantarkan manusia pada keseimbangan dan ketenangan menjelma menjadi taksu jiwa. (taksu= cahaya/kekuatan).

Taksu Ubud dapat disaksikan YouTube: Budaya saya sampai tanggal 12 Juli 2021. Saya lampirkan linknya. Selamat menonton meresapi yang tersaji 

Read more…

 

9215827667?profile=RESIZE_710xMembaca tulisan diatas membuat saya ikut merasa geram juga. Kenapa masyarakat adat atau desa selalu dikaitkan dgn kemiskinan? Jika kemiskinan dikaitkan dgn ketahanan pangan, jangan salah! masyarakat adat atau desa lah yang memiliki kemandirian ketahanan pangan. Bagaimana tidak, mereka memiliki persediaan pangan di alam yang dijaga maupun diolah. Di desa tidak ada orang kelaparan mau makan bisa ambil di kebun atau pekarangan. Bagaimana dgn masyarakat urban? jika tidak punya uang, kita tidak bisa membeli kebutuhan pangan. Mereka (masyarakat adat) "tidak bekerja mencari uang" tanpa uang pun mereka sudah bisa mencukupi kebutuhannya, sedangkan masyarakat kota sebaliknya "bekerja mencari uang untuk mencukupi kebutuhan" jadi siapa yg miskin?

Rasanya greget ketika mendengar masyarakat desa di setting menjadi ke-kota-an. Ketika masa penempatan di daerah Bukit Barisan saya menjumpai masyarakat Suku Kubu. Mereka sudah biasa tinggal di hutan dgn segala kebutuhan yang disediakan oleh alam, namun pemerintah membuatkan mereka rumah-rumah panggung yang membuat mereka jauh dari hutan. Lalu apa yang terjadi? Kemandirian ketahanan pangan mereka hilang, akhirnya mereka mengalami kesulitan mencukupi kebutuhan pangannya. 
Saya tidak menutup mata niat baik pemerintah ini, namun alangkah baiknya ketika mereka juga didampingi dengan program yg jelas dan terukur tdk hanya membuatkan rumah panggung lalu sudah. Bukankah itu akan memunculkan permasalahan baru?
9215881291?profile=RESIZE_710x
 
Saya belum pernah dengar hutan rusak karena masyarakat adat. Akhir-akhir ini hati ini makin patah ketika membaca berita bahwa hutan kepulauan Sangihe seluas 42ribu hektar (setengah dari luas kepulauan Sangihe) akan dialihfungsikan menjadi tambang emas. Sediiihhh akutuh. Lalu bagaimana respon masyarakat? masyarakat jelas menolaknya. Pertambangan merusak ekosistem hutan, menyebabkan pencemaran lingkungan, mengundang bencana alam. Belum ada contoh pertambangan yang tidak mencemari lingkungan dan merusak alam. 
 
Ketika banyak negara berlomba lomba melakukan penghijauan, melindungi hutan demi mengurangi perubahan iklim, kenapa negara tercinta ini justru sebaliknyaaa? dan kalau dipikir-pikir kan masyarakat Sanghie tidak meminta pemerintah untuk mencukupi kebutuhannya, alam sudah menyediakan dengan lengkap. Lalu mengapa apa yang sudah tersedia diusik?  Sudah cukup ibu Pertiwi berlinang air mata.
 
Mohon maaf jika tulisan ini sedikit ngegass... bukan menyalahkan pihak tertentu, hanya mengeluarkan apa yang terpendam dalam jiwa dan raga.
Semoga Ibu Periwi kembali tersenyum :) Aamiin
 
 
Read more…

AES#4 Dari Alergi jadi Mengenal Diri

Dua tahun terakhir ini, saya mendapati reaksi berbeda setelah memakan ikan tawar/laut dan ayam potong. Padahal ikan merupakan menu favorite. Sejak kecil sudah akrab dengan ikan atau olahan ikan, bagaimana tidak? Lahir dan tumbuh di daerah pesisir yang melimpah akan hasil laut maupun tambak. Ikan tawar maupun laut merupakan makanan sehari-hari. Namun, entah mengapa saat ini merasakan nikmatnya makan ikan harus membuat saya berpikir dua kali sebelum menyantapnya.

Sebelum ini, saya tidak memperhatikan lebih detail makanan yang masuk dalam tubuh (yang penting halal dan tidak banyak minyak). Namun saat ini, ketika badan saya bereaksi gatel-gatel (pada malam hari). Pikiran saya pun langsung mengingat-ingat “tadi seharian makan apa ka?”, “ohiya makan ini, diinget ya kalau makan X reaksi tubuh mu seperti ini?”, atau ketika rasa ingin menyantap ikan tak tertahan saya pun sudah tahu konsekuensinya.

Alergi ini menjadi salah satu media dalam pengenalan diri. Pertanyaan yang biasa saya tanyakan saat sedang mengalami alergi, saya terapkan pula pada reaksi kondisi psikis . Sesederhana, ketika saya merasa kesal. Saya ingat-ingat kembali factor penyebab mengapa saya kesal. Setelah saya ingat: “oh saya kesal ketika ada orang berbicara dengan intonasi tinggi”, bagaimana agar saya menjaga mood layaknya mengajar luring? Jawabannya “kemarin saya nge-zoom cuma berkerudung tanpa olesan sedikit make up , hari ini pakai setelan dan sedikit make up rasanya lebih bersemangat. Oke deh berarti penampilan juga berpengaruh pada mood”.

Mengetahui bagaimana diri, factor menyebab, cara mengatasi, memvalidasi emosi menurut saya sesuatu yang penting dalam proses pengenalan diri. Saya baru mulai sedikit mengenal dan memahami diri sendiri ketika usia dewasa. Pada usia anak-anak dan remaja sepertinya apa yang dirasa atau dialami diri seperti angin lalu, berlalu tanpa validasi maupun refleksi. Kata orang bijak “tidak ada yang terlambat” bersyukur ketika diusia menuju kepala tiga, Semesta memberi kesempatan dalam proses mengenal diri, cara mengatasi, memvalidasi setiap emosi yang muncul, mengenal refleksi diri, atau tidak apa-apa jika sedang tidak baik-baik saja yang terpenting bagaimana cara merespon, bukan begitu?

Ternyata muncul alergi membuat saya lebih mengenal diri. Memang yaa setiap hal ada hikmahnya :)

Tulisan ini terinsiprasi dari rasa gatel semalam karena siang harinya makan ikan yang sudah sangat lama tidak memakan jenis ikan tersebut, bagaimana tidak tergodaaa :D

Read more…

AES#05 Waktu Heningku

Hai kawan, apa kabarmu?

Apa kau baik-baik saja?

Atau sedang tidak baik-baik saja?

Bagaimana harimu?

Apakah berjalan dengan baik?

Atau penuh dengan kepenatan?

Bila iya, berhentilah sejenak, tarik nafas dalam, hayati setiap hembusannya

Berikan waktu untuk menyapa nafasmu

Beberapa hari lalu, aku, kak andy dan calon kakak-kakak di semi palar berdiskusi tentang waktu hening, sebenarnya bahan diskusi kami waktu itu adalah tentang aspek luar dan dalam manusia, dan diakhir kami coba untuk membicarakan waktu hening. Ada sebuah video yang kak andy putar dan membuatku merinding dan menyadari sesuatu saat itu, yakni tentang silence & stillness.

Aku adalah orang yang aktif dalam kegiatan di alam terbuka, hampir setiap bulan aku dan teman-temanku mengagendakan waktu untuk kemping bersama. Kemanapun itu, kami selalu mencari tempat-tempat baru yang bisa kami kunjungi sekedar untuk mendirikan tenda, menyalakan api unggun dan mendengarkan suara burung. Kemping adalah healing bagiku, saat penat datang, itu menjadi obat agar aku bisa tetap waras dan menjalani aktifitas harianku.

Sebenarnya saat kemping, badanku cenderung lebih lelah dibandingkan dengan hari biasanya, karna aku harus packing, bangun tenda, setting tempat dan masak, belum lagi waktu tidurku akan lebih pendek karna biasanya malam hari kami akan mengobrol mengelilingi api unggun sampai jam dua pagi dan jam lima aku akan bangun lagi karna tidak ingin ketinggalan menghirup udara pagi sambil melamun melihat matahari naik perlahan.

Dan kemarin saat kak andy memutarkan video silence & stillness itu, aku menyadari bahwa kemping adalah waktu heningku. Waktu dimana aku bisa berhenti sejenak untuk merasakan nafasku ditemani dengan kicauan burung atau suara api unggun, waktu dimana aku bisa mendengarkan suara angin sambil menghirup nafas panjang. Dan aku menjadi sadar walalupun hariku akan lebih lelah daripada biasanya, tapi aku akan tetap pergi berkemping karna disana aku dapat melakukan waktu heningku.  

Read more…

Hai, hari ini aku mau coba sharing hal yang baru-baru ini aku pelajari, yakni tentang narasi sebuah produk atau brand. Narasi ini bisa diartikan sebagai sebuah kalimat campaign yang menggiring opini publik. Dijaman serba digital seperti ini, dimana informasi dapat menyebar dengan mudah, sebuah narasi bisa sangat berpengaruh pada dunia. Salah satu yang terjadi baru-baru ini adalah tentang bitcoin.

Bitcoin ini adalah produk cryptocurrency, ya secara detailnya kamu bisa cari sendiri di google. Intinya bitcoin ini digadang-gadang akan menjadi mata uang dimasa depan, mata uang yang bisa dipakai diseluruh dunia, namun masih banyak orang yang meragukan bitcoin ini karna ketidakpastiannya, atau fluktuasi nilainya yang sungguh tidak terduga. Hal menarik terjadi beberapa bulan lalu, saat Elon Musk membuat cuitan di twitter tentang Tesla yang membeli $1,5 miliar bitcoin dan menyatakan bahwa Tesla akan menerima bitcoin sebagai alat pembayaran untuk Tesla. Hal ini membuat orang berbondong-bondong membeli bitcoin yang mengakibatkan nilai bitcoin menjadi naik dengan pesat. Namun beberapa hari kemudian Elon Musk kembali membuat cuitan di twitter yang menyatakan bahwa Tesla tidak akan menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran, hal ini kontan membuat harga bitcoin turun drastis, para atlet bitcoin yang kemarin kaya mendadak tiba-tiba jatuh miskin.

Siapa sih Elon Musk? Ko dia bisa mempermainkan harga bitcoin hanya dengan satu dua cuitan? Sebesar apa powernya?. Nah gais jawabannya itu adalah di narasi tadi. Seperti yang sudah kubilang banyak sekali orang yang masih meragukan bitcoin, saat Elon Musk membuat cuitan pertama tadi munculah narasi bahwa seorang Elon Musk pembisnis yang sekarang adalah orang yang terkaya di dunia membeli dan menggunakan bitcoin sebagai alat tukar, sehingga muncul kepercayaan bahwa bitcoin ini memang memiliki masa depan yang cerah, begitupun saat Elon Musk meralat pernyatannya kembali, orang orang yang sudah membeli dan yakin tentang bitcoin menjadi ragu kembali dan menjual bitcoinnya sehingga harga bitcoin menjadi turun.

Jadi semuanya adalah karna narasi yang memunculkan sebuah persepsi tersendiri. Saat kita punya sebuah usaha, bukan hanya bisnis mungkin bisa jadi komunitas atau gerakan kemanusiaan. Ada baiknya kita membangun narasi kita sendiri untuk membantu kita membranding produk kita, misalnya seperti brand ‘The Body Shop’ yang mempunyai campaign bahwa mereka akan mensejahterakan petani yang bekerja untuk mereka, atau brand ‘Nike’ yang menarasikan bahwa atlet yang memakai nike adalah atlet yang keren.

Tapi membuat narasimu menjadi kuat bukanlah hal yang mudah, ada satu alternative lain bila kita belum bisa membuat narasi kita sendiri, yakni dengan menunggangi narasi yang sudah ada. Contohnya adalah brand ‘Wardah’ yang menunggangi narasi pemuda hijrah yang pada saat itu sedang booming, atau beberapa produk local yang menunggangi narasi ‘cintai produk dalam negeri’.

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa