#atomicessaysmipa #mamat (8)

AES13 Punya apa?

"Apa yang keluar dari dirimu adalah apa yang kamu miliki."

Saya lupa memungut diksi ini dari mana, tetapi sungguh mengena. Bahwa apa yang bisa kita beri, memang hanya apa yang benar-benar ada pada kita dan kita miliki. Misal kita memberi dari saku celana kita, yang bisa kita beri tentu saja yang ada di dalam saku celana. Sama halnya kita mau memberi dari diri atau hati kita, sudah pasti yang bisa kita beri adalah apa yang ada di dalam diri atau hati kita. Jika kita memiliki damai, kita bisa memberi damai. Bila cinta kasih bersemayam di hati kita, pemberian kita untuk orang lain pasti cinta kasih. Begitu pula suka cita dan kebahagiaan.

Saya teringat kembali hal ini setelah diskusi siang tadi bersama Kak Andy. Menjadi fasilitator itu perlu 'bahagia'. Agar kita juga bisa memberi bahagia kepada teman-teman atau anak-anak di kelas. 'Bahagia' ini juga perlu dimurnikan lagi maknanya. Tentu yang dimaksud di sini adalah bahagia sebagai sebuah kedamaian dan ketenangan jiwa. Yang mana itu dihasilkan dari penguasaan dan pengelolaan diri yang baik. 'Being'nya sudah dapat dulu nih. Bahagia yang dari dalam, bukan dari luar. Baru keluarnya atau yang bisa kita beri adalah sama dengan apa yang ada dalam diri kita; kedamaian.

Ini mirip juga dengan perumpamaan pohon dan buah. Pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik. Tak mungkin buah yang baik dihasilkan dari pohon yang tidak baik. Jadi, mari lihat lagi apa yang keluar dari diri kita; besar kemungkinan itu yang kita miliki (ada di dalam diri kita).

Semoga damai, semoga damai.

Read more…

AES12 Sunyi dan Memiliki

Orang-orang sering takut kesunyian, menghindari sunyi dan mencari ramai. Padahal dalam keramaian orang bisa kesepian. Namun dalam kesunyian, bisa jadi orang justru tidak kesepian, justru bahagia dan menjadi penuh.

Leluhur kita banyak yang memilih kesunyian, menjauh dari keramaian untuk menjaga jiwanya tetap waras. Dan mereka tidak menjadi kesepian karenanya. Orang-orang hari ini sebaliknya, begitu takutnya pada kesunyian karena takut kesepian. Dan jadilah mereka kesepian dalam sunyi maupun ramai. Jiwanya?

Bermunculan berbagai metode dengan nama atau istilah barat yang sebenarnya telah hidup dan dihidupi masyarakat timur sejak baheula. Kita semua pasti sudah tahu apa saja itu; mulai dari meditasi, earthing, forest bathing, dan sebagainya. Kesemuanya telah ada dan diamalkan oleh masyarakat timur, sebelum hari ini. Hari ini kita (masyarakat timur) perlu belajar lagi dari barat, tentang apa yang sebenarnya telah kita miliki. Hari ini kita perlu menilik lagi ke dalam diri, apa yang sebenar-benarnya kita miliki. Agar kita mampu menikmati diri, menghayati sunyi, menghalau sepi. S'bab, jika kita adalah semesta itu sendiri (jagad alit), kita takkan pernah sendiri apalagi kesepian.

Tulisan ini ditulis malam ini, di bawah purnama yang tengah ranum. Bulan mengajari kerendahan hati, meski sinar tak ia miliki, namun ia rela berbagi. Sinar yang yang didapatkannya, tak ia simpan sendiri. S'bab ia tahu, ada kemampuan menikmati yang jauh lebih penting ketimbang hanya memiliki. Seperti hidup, seperti sunyi, bukan milik kita, namun ada yang mengijinkan kita menikmatinya dengan cara berbagi.

Read more…

Terima kasih adalah salah satu kata yang dikategorikan sebagai kata ajaib, bersama maaf dan tolong. Mengapa begitu?

Pada sebuah artikel di djkn.kemenkeu.go.id yang berjudul; Tiga Kata Ajaib Kunci Keberhasilan Komunikasi mengatakan: "Tanpa disadari ada beberapa kata yang memiliki banyak manfaat 'ajaib', bahkan kata-kata tersebut dapat membuat orang menjadi bahagia. Ada tiga kata ajaib yang dapat menjadi kunci keberhasilan komunikasi dengan umpan balik (feedback) positif sebagaimana yang diharapkan oleh komunikator (pemberi pesan). Tiga kata tersebut adalah kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Tiga kata ini memiliki kekuatan yang luar biasa, jika diucapkan dengan cara yang benar dan tepat waktunya. Efek positif dari penggunaan ketiga kata ini mampu mengubah lawan menjadi kawan, mengubah benci menjadi cinta, bahkan menyulap amarah menjadi kasih sayang."

Kata kuncinya ada 3;
1. Membuat orang menjadi bahagia;
2. Adanya umpan balik atau efek positif;
3. Mengubah lawan menjadi kawan, benci jadi cinta, dan amarah jadi kasih sayang.

Menarik sekali bukan? Paling tidak, 3 poin itu yang membuat 3 kata itu memiliki julukan kata ajaib. Terkhusus untuk kata 'terima kasih', saya pernah membahasnya dari sudut pandang saya sendiri. Menurut saya, pada kata 'terima kasih', ada  2 peran sekaligus pada kedua pihak. Ada saling dan silang. Saling memberi dan silang bertukar kasih.

Pemberi; memberi pemberian dan menerima kasih dari sang penerima. Dan penerima; menerima pemberian sekaligus memberi kasih pada pemberi. Terima kasih.

Bahasa Indonesia mengajarkan; 'sama-sama' untuk membalas ucapan terima kasih. Dan memang itu yang lazim diucapkan. Namun saya senang sekali membalas ucapan terima kasih menggunakan; 'dengan senang hati'. Ini tidak mudah, saya bertahun-tahun melatih diri untuk menghindari mengucapkan 'sama-sama'. Karena itu sudah otomatis terucap begitu saja.

Kabar baiknya, sekarang sudah terbiasa menggunakan 'dengan senang hati'. Walau sesekali masih sering kembali pada 'sama-sama'. Alasannya sederhana; 'terima kasih' dan 'dengan senang hati' itu lebih serasi. Karena siapa menerima kasih, ia pasti senang hatinya. Dan siapa memberi kasih, membuat senang hatinya dan orang lain. Terima kasih, dengan senang hati. Serasi.

Read more…

AES10 Reframing (Memaknai ulang)

Untung aja cuma segini. Untung saja tidak semua. Untung saja masih ada. Untung saja bisa lagi. Dan untung saja, untung saja yang lainnya. 'Untung saja' ini merupakan senjata ajaib yang bisa dipakai untuk menemukan rasa syukur dari sebuah musibah atau kejadian kurang menyenangkan. 'Untung saja' ini juga sering sekali kita temui di masyarakat kita. Namun, akhir-akhir ini tampaknya mulai luntur.

Saya masih ingat banyak cerita tentang kejadian kurang menyenangkan saat saya kecil yang diselamatkan oleh 'untung saja'. Sehingga saya tetap menemukan ruang bersyukur dan belajar dari banyak kejadian-kejadian tak nyaman. 'Untung saja' membantu saya menikmati setitik bahagia di lingkaran kemalangan.

Seperti saat kaki saya sobek menginjak beling, nenek bilang; "Untung saja hanya satu beling yang kena."

Ketika patah tulang jatuh dari sepeda. Bapak bilang: "Untung saja langsung di bawa ke Rumah Sakit."

Begitu pula saat kepleset dari sepeda motor di jalanan sepi di antara gunung Sindoro dan Sumbing. Ibu bilang: "Untung ada yang tolong."

Begitu pula puluhan bahkan ratusan cerita 'untung saja' lainnya. Tak terhitung lagi jumlahnya.

Kemudian teringat salah satu bab di buku The Danish Way of Parenting; Reframing (Memaknai ulang). Denmark adalah negara yang menjadi langganan peringkat pertama dunia, sebagai negara yang paling bahagia penduduknya. Banyak yang meneliti dari sisi ekonomi, politik, geografis, dan aspek lainnya namun tak kunjung ketemu. Mengapa warga Denmark bisa menjadi sebahagia itu?

Hingga akhirnya disimpulkan bahwa dalang utama penyebab Denmark sering menjadi negara yang paling bahagia ialah; pola asuh. Pola asuh sering disepelekan dan jarang menjadi perhatian untuk membangun desa, daerah, kota, apalagi negara. Mungkin karena dinilai kurang menguntungkan secara ekonomi. Padahal ada kaitannya, namun bisa dibahas lain waktu.

Nah, yang menarik; bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh danish (orang Denmark) ialah 'untung saja'. Atau dalam bahasa mereka disebut reframing (memaknai ulang). Bab ini membahas tentang keterampilan reframing yang dimiliki orang Denmark. Mereka mampu mengubah cara pandangnya terhadap sesuatu yang mereka alami menjadi lebih positif. Misalnya, daripada mengeluh tentang suatu masalah, mereka memilih melihat adanya sisi positif dari masalah yang bisa disyukuri. Mirip sekali dengan 'untung saja', kan? Reframing juga berbicara tentang penggunaan kalimat atau bahasa. Daripada menggunakan bahasa yang konotasinya negatif, orang Denmark memilih kosakata yang lebih membangun dan positif.

Reframing ini sangat bisa kita terapkan dalam peran kita sebagai fasilitator. Memaknai ulang setiap kejadian dalam proses fasilitasi yang dirasa kurang menyenangkan, tak nyaman, maupun saat jenuh. Dalam penggunaan kalimat pengantar juga bisa menjadi jurus ampuh yang agar lebih diterima dengan baik oleh anak-anak.

Penggunaan kalimat atau pemilihan bahasa ini sangat saya rasakan perbedaan baiknya di jenjang SD kecil, khususnya saya di SD 1. Saya ingat benar kalimat Kak Andy yang mengatakan bahwa dunia anak-anak itu penuh bahagia, tak perlu takut-takuti mereka dengan masalah-masalah orang dewasa. Termasuk diskusi dengan Kak Ine tentang penggunaan kata; 'jangan'. Dengan anak usia 0-7 tahun lebih baik jangan menggunakan kata 'jangan'. Mengganti 'jangan' dengan diksi yang lebih positif dan membangun. Misal; "Jangan lari!" menjadi "Jalannya pelan-pelan saja, ya."

Tentu saja keajaiban reframing tak terbatas pada pola asuh. Tetapi juga dalam keseharian kita. Reframing masih sangat bisa diandalkan. Mari renungkan, tarik napas, dan maknai ulang.

Read more…

AES09 Perihal Menjadi Baik

"Jadilah orang yang baik sekali hingga orang lain pun bingung mau membenci dari aspek mana lagi."

Sebuah kutipan saya temukan di status WA teman. Sekilas bagus dan baik sekali kalimat itu. Menjadi baik, bahkan baik sekali. Diibaratkan; sampai-sampai orang lain tidak punya celah untuk membenci. Namun adakah yang melihat kejanggalan dalam kalimat itu? Silakan renungkan sejenak sebelum melanjutkan membaca paragraf kedua.

Ya, betul sekali! Pertama, kenapa berbuat baik hanya agar tidak dibenci? PoV si pembuat kutipan ini sudah melenceng. Tujuan manjadi baik hanya agar tidak dibenci. Padahal jika kita sadar kita ini baik dan meghidupinya, kebaikan akan menjadi hal yang otomatis. Seperti di Jawa ada tata krama dan sopan santun. Tata krama itu sikap hati, sopan santun itu buah (perbuatan) dari sikap hati yang benar (tata krama).

Kedua, jadilah diri sendiri! Ketika kita menjadi diri sendiri yang sejati, kita sadar bahwa dibenci atau disukai bukanlah tanggung jawab kita. Itu semua ada di luar kita. Datang dari respon orang lain terhadap kita. Bukan tanggung jawab kita. Perihal membenci; bencinya selalu menjadi milik si pembenci. Yang dibenci takkan ternoda oleh kebencian itu. Dan diri kita terpisah dari label dibenci, disukai, dihormati, direndahkan. Itu semua datang dari luar diri kita. Fokusnya; jadi diri sendiri. Kalau kita memiliki kebaikan, yang keluar dari diri kita adalah kebaikan. Karena kita hanya bisa memberi apa yang benar-benar kita miliki.

Ketiga, apa yang baik belum tentu benar. Ini perlu kita renungkan. Banyak perbuatan baik yang ternyata tidak benar. Bagaimana mengukurnya? Kembali lagi; jawabannya selalu di dalam diri. Ada alarm dalam diri yang memberi tanda jika ada sesuatu yang tidak benar. Seperti apa bunyi alarmnya? Jawabannya juga ada di dalam diri kita masing-masing.

Keempat; kita sering merasa harus selalu baik. Mbah Tedjo pernah bilang; "di wayang, tokoh paling bebas adalah Rahwana. Karena dia tak perlu membuktikan dirinya baik." Tidak sepenuhnya benar. Tetapi menarik. Jika kita percaya pemilik kebaikan ialah Ar Rahim dan Ar Rahman. Seharusnya kita juga percaya bahwa kita hanya alat yang dipakaiNya. Artinya, jika dalam sebuah kejadian kita tidak memiliki panggilan (hati tergerak tulus) untuk berbuat baik; ya jangan dipaksakan! Mungkin ada 'alat lain' yang harusnya dipakaiNya Namun sering kali kita justru mengambil alih kesempatan itu. Berbuat baik bukan karena kita mampu atau bisa, tetapi karena ada 'Invisible Hand' yang menggerakkan. Jika kebaikan membelenggu kita, uji lagi! Tak perlu berusaha selalu terlihat baik. Karena kebaikan harusnya juga membebaskan.

Kelima, menurut teman-teman apa?

Kok, jadi ribet ya mau berbuat baik? Sederhana, jadi diri sendiri.

Read more…

"Kata Medis dan Meditasi berasal dari akar kata yang sama. Kata 'heal', 'whole', dan 'health' dalam bahasa Inggris juga berasal dari akar kata yang sama. Bahwa sehat itu perlu upaya holistik (whole) yang bukan hanya intervensi raga, namun juga ruhani." Begitu tulis mas Faisal di instagramnya.

Kemarin siang seorang teman bertanya apakah saya sudah vaksin. Ia juga bertanya apakah saya sudah pernah tes covid? Jawaban kedua pertanyaan itu tentu saja sama; sudah. Dan pekan lalu pun saya tes lagi, hasilnya negatif. Tanpa diduga ia mengatakan bahwa itu berkat mindfulness. Saya hanya menanggapinya dengan ucapan syukur dan emotikon tersenyum.

Kemarin malam seorang teman membuat saya melihat acara TV dan saya kaget dengan pemberitaan covid. Karena saya sudah tidak pernah nonton TV. Sejak 2010 saya sudah tidak menyaksikan TV. Kalau pun ada yang mau dilihat, akan dipilih di youtube. Baru tahu kalau di TV begitu menyeramkan pemberitaannya. Tak sampai 5 menit saya tidak mau lagi menyaksikannya. Saya sangat menjaga jarak dan membatasi akses terhadap pemberitaan covid. Dari teman, media sosial, TV, perbincangan, dan media lainnya, saya batasi benar. Kini bukan kita yang menjaga jarak, jarak yang menjaga kita. Termasuk jarak dengan segala pemberitaan covid.

Saya belajar meyakini; bahwa dalam segala kemungkinan (baik atau buruk) akan tetap 'baik-baik' saja. Berhenti takut. Berhenti menghakimi. Meski tak bisa dipungkiri segala bentuk kehilangan dan kesedihan itu nyata dan ada, namun saya memilih memberi jarak padanya. Saya sangat amat membatasi akses pada berita tentang pandemi. Bahkan kabar duka dari orang-orang terdekat, saya tetap tak mau masuk terlalu dalam. Secukupnya saja.

Memberi jarak seperti ini membuat saya lebih tenang. Tetapi ada yang tak terhindarkan di luar sana sekarang, yang juga sangat berbahaya. Mulai terasa ada kubu-kubu antara si A, B, C, dan D. Mulai saling menyalahkan dalam kondisi sekarang ini. Bukankah itu jebakannya. Seharusnya, ada yang tak bisa dikalahkan oleh pandemi; ialah kemanusiaan dan kebaikan. Tetapi curiga, prasangka, kebencian, saling menghakimi, menyalahkan malah semakin tumbuh subur. Jangan-jangan pandemi adalah ujian kita (manusia) untuk belajar tidak membenci, untuk belajar tidak mengahakimi, tidak berprasangka, dan untuk menyadari bahwa kita bukan yang 'paling', dan untuk menerima segala yang terjadi dengan lebih jujur.

Sebab yang perlu dilahirkan dari rahim derita adalah kesetiaan. Setia pada kehidupan. Semoga damai menjaga dan memberi kesiapan kita menempuh jalan ini. Semoga mampu menikmati dengan lebih jujur; derita sebagai derita dan bahagia sebagai bahagia.

Read more…

AES06 Respon Warganet

Hari ini ada 2 hal yang ingin ditulis. Padahal judul lain sudah ada dalam list. Tetapi keduanya menarik dan cukup menggelitik. Mari kita lihat, cerita mana yang akhirnya saya ketik!

Pertama, tentang superhero. Iya, superhero? Pahlawan deh, biar lebih sederhana. Tapi ini bukan hari pahlawan! Tak apa. Mirip hari kasih sayang, meski setahun sekali diperingati tetapi setiap hari kita merasakannya. Kasih sayang begitu dekat di kehidupan kita. Kalau pahlawan kan jauh? Tidak juga. Pahlawan itu begitu dekat di keseharian kita. Biar saya tebak, teman-teman pasti sedang membayangkan siapa saja yang bisa disebut pahlawan di sekitar kita. Betul. Semuanya benar!

Saya teringat ucapan Pak Muhidin; "anak sekarang tahunya pahlawan itu Sudirman, Patimura, Kartini, dll, padahal di dekat mereka banyak pahlawan. Pak Muhidin mengatakan hal ini setelah menceritakan sebuah terowongan air di sebuah lembah di daerah Cidadap. Terowongan itu menembus bukit berbatu/cadas. Berkat adanya terowongan itu, ada banyak sekali kebun dan sawah yang mendapat aliran air. Hingga menghidupkan pertanian dan perkebunan warga. Bahkan sungai itu melintas jauh ke beberapa desa. Terowongan ini pun sekarang terpampang sebagai mural di Teras Cirateun, dekat polsek Cidadap.

Usut punya usut, terowongan itu dibuat oleh Eyang Ngabeui dan beberapa rekannya. Mereka membuat terowongan itu sekitar abad 16 atau 17. Artinya; mereka membuatnya dengan peralatan seadanya. Belum ada teknik dan kecanggihan mesin di jaman itu. Menurut Pak Muhidin, cerita itu didapatkan dari penuturan kakeknya. Kabar itu diwartakan turun-temurun di keluarganya dan warga kampung sekitar. Di dekat terowongan berdiri sebuah monumen untuk mengenang jasa Eyang Ngabeui, dan kawan-kawannya. Jika tidak pandemi, mereka menggelar kesenian tradisional secara rutin di monumen itu. Pertunjukkan tari daerah, arak-arakkan, doa bersama, dan berbagai bentuk rasa syukur warga tumpah ruah di sana. Saya hanya melihatnya di gambar pada gawai Pak Muhidin.

Lokasi monumen ini sebenarnya tak jauh dari Jalan Ir. Soekarno, namun jarang ada yang tahu tempat ini. Bahkan teman-teman saya yang sejak kecil atau lahir di Bandung dan ada yang rumahnya tak jauh dari monumen ini pun tak tahu menahu keberadaan dan cerita tentang monumen ini. Padahal bisa dikatakan; Eyang Ngabeui ini pahlawan bagi daerahnya (desa/kecamatan).

Pilihan topik menulis yang kedua ialah tentang seorang anak yang ditanya Presiden Jokowi tentang pembelajaran daring atau luring. Anak itu menjawab; ia lebih suka belajar daring. Jawaban itu tampak biasa saja. Namun, alasannya lebih suka belajar daring cukup memicu respon menggelitik dari warganet. Padahal, menurut saya alasannya sangat masuk akal dan tidak salah. Justru menunjukkan kemampuan anak itu untuk merdeka belajar. Walau memang seolah menyudutkan cara/proses pembejalaran di sekolahnya. Tetapi warganet terburu memberi respon yang jauh dari inti gagasan anak tersebut. Menurut teman-teman bagaimana?

Read more…

AES05 Panjang Umur Komedi

Stand up comedy menjadi salah satu hiburan wajib yang sering saya ikuti. Beberapa kompetisi stand up comedy di TV juga selalu saya saksikan (meski dari youtube). Ternyata 13 Juli 2021 menjadi ulang tahun ke 10 komunitas Stand Up Indo. Komunitas yang menaungi para komika Indonesia hingga sekarang mereka sebesar ini dan memiliki karir yang cukup baik di dunia hiburan tanah air. Salah satu pendirinya ialah Ernest Prakasa.

Apa yang menarik dari Ernest Prakasa? Pada peringatan 1 Dekade Stand Up Indo justru #terimakasihernest yang muncul dan ramai di media sosial. Penasaran, saya mulai akses dan mencari tahu. Ternyata Ernest Prakasa tak hanya memprakarsai berdirinya Stand Up Indo, tetapi 'membukakan pintu' untuk banyak komika baru. Banyak cerita kesuksesan Ernest menukangi film-film komedi terbaik Indonesia beberapa tahun terakhir. Salah satu ramuan jitunya ialah; Ernest mengajak teman-teman komika dari yang senior sampai wajah-wajah baru untuk terlibat. Tak hanya menjadi pemeran, sampai tim dapur dibangunnya bersama para komika yang ia percayai. Tak heran jika video dalam #terimakasihernest isinya bermacam ucapan terima kasih. Dari para pendiri Stand Up Indo lain sampai komika kelas open mic yang juga tak luput dari percikan kebaikan Ernest.

Yang paling merah dari sambungan benang ucapan terima kasih para komika kepadanya yaitu; 'menghargai kecil'. Ernest melihat kecil tidak sebagai kecil saja. Tetapi sebagai awal dari besar. Caranya mendukung dan menyentuh orang-orang begitu sederhana, hal kecil yang sering luput di sosial kita. "Gua yakin lu bisa!" Ucap seorang komika mengenang kalimat sederhana dari Ernest yang memecut jiwanya. Ernest merangkul benih yang tergeletak di tanah berbatu atau semak belukar. Dibawanya pada tanah subur dan membiarkannya tumbuh. Dari jauh ia saksikan benih-benih itu tumbuh, tanpa merasa menjadi yang paling layak untuk memanen.

Ia menghargai kecil tidak hanya sebagai kecil. Ia melihat kecil sebagai detail yang memberi warna besar. Pada sebuah film garapannya, ia ciptakan sebuah karakter yang unik namun sarat pesan. Seorang perempuan beragama Kristen yang bekerja di toko jilbab. Nama tokohnya; Maria. Sangat sederhana. Seorang gadis berrambut kribo, berkulit hitam, asal Papua yang merantau ke Jakarta dan menjadi pegawai toko jilbab. Maria bukan tokoh utama, namun warnanya kuat. Sebuah detail kecil yang tentu saja menjadi aksen manis pada semangkuk karya besar. Dan ternyata karakter ini diambilnya dari materi seorang komik open mic (bisa dikatakan pemula). Seorang founding father Stand Up Indo, mau mengapresiasi dan jeli melihat hal kecil yang berpotensi besar.

Menghargai kecil ini juga sangat-sangat perlu dimiliki setiap pendidik. Jeli melihat benih sebagai sesuatu yang otentik. Piawai memfasilitasi si benih untuk menemukan tanah (nutrisi) untuk tumbuh. Menyiraminya dengan air ketulusan. Dan yang tak kalah penting ialah; untuk tidak merasa menjadi yang paling berhak memanen. Menyadari bahwa ada begitu banyak cara semesta menyalurkan kebaikan si benih yang telah tumbuh. Melalui angin, serangga, atau orang lain yang juga diutus sebagai tangan kebaikan. Suatu kebaikan tak pernah berdiri sendiri, selalu ada campur tangan kebaikan lain yang menyelinap dalam wajah keheningan. Kelak akan ada benih-benih baru yang bertaburan. Dan menjadi tunas bagi cerita-cerita lainnya.

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa