LAYAR PEKARANGAN

Pekarangan di rumah menjadi bioskop terbaik selama masa wabah ini. Tak ada yang lain. Bukan tontonan tv apalagi gunjingan di media sosial. Semburat mentari pagi ibaratnya menjadi mesin projektor bagi saya. Ada layar putih kehidupan yang membentang dengan harmonis.Si belalang yang menyamarkan diri dan bersembunyi di pucuk daun jeruk. Kupu-kupu liar terbang bebas menikmati hangatnya mentari. Di pojok dinding rumah terlihat laba-laba setia di jaringnya. Dan burung-burung liar berkicau dengan nyaringnya.Mereka hidup bebas tanpa ketakutan. Mereka selaras dengan semesta. Baginya, hidup bukanlah sebuah tuntutan. Semesta adalah dunia yang ajaib dan mengagumkan.Pagi ini saya begitu cemburu pada belalang, si kupu-kupu, dan si laba-laba. Sejak dari pagi mereka bertingkah sesuka hatinya. Berkeliaran di pekarangan tanpa prasangka. Ketika hujan mereka terlihat asik menikmati bulir-bulir segar yang jatuh dari langit. Seperti saat kita bocah yang tak peduli dengan halilintar.Saya menjadi manusia paling bodoh di dunia ini. Diam di rumah. Berlindung di balik dinding dan genteng-genteng yang mulai bocor. Dan meratapi hidupnya sebagai manusia yang begitu brengsek.Hidup kita terkunci oleh keadaan oleh sesuatu yang kasat mata. Kita menyebutnya virus. Dan kita menjadi satu-satunya makhluk paling lemah di muka bumi ini. Manusia si pongah yang merasa hidupnya paling hebat.Seburuk apapun keadaan, si makhluk-makhluk tak berotak itu tetap hidup sewajarnya. Secukupnya. Ya, secukupnya. Si belalang makan pucuk muda daun jeruk. Semut-semut mencari remah-remah di bebatuan. Si laba-laba tetap menjadi makhluk paling sabar. Dan si kupu-kupu mengisap saripati bunga yang bermekaran.Saya teringat cerita Masanobu Fukuoka. Lelaki yang menyaksikan dampak hebat dari bom nuklir Hirosima Nagasaki. Jepang porak poranda. Bom menghancurkan kehidupan Jepang. Tak hanya manusianya saja. Tapi juga alam Jepang pasca perang dunia ke-2.Tak ada yang bisa dilakukan oleh warga Jepang selain meratapi kepedihan itu. Dan Masanobu pun melihat bagaimana alam menyembuhkan dirinya sendiri. Serangga-serangga hidup kembali. Dan memberi inspirasi bagi Masanobu. Dan sejak saat itu, Masanobu mengenalkan prinsip pertanian organik. Dimana keseimbangan menjadi kunci kehidupan.Kisah ini ditulis dalam buku Revolusi Sebatang Jerami. Sebuah buku klasik yang relevan untuk dipelajari kembali.Pagi ini saya belajar pada belalang. Begitulah plot-plot kecil yang anggun ada di layar pekarangan kita.
E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Jadi penasaran mencari bukunya. Revolusi Sebatang Jerami 👍

  • Mantap... memang kita seringkali lupa berguru pada alam... 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa