Kembali ke dasar, mundur ke esensi

4323653418?profile=RESIZE_710x

Beberapa waktu lalu, saya terima gambar ini di salah satu pesan WA saya dari anak saya Inka (kalau ada yang nonton filem Hunger Games, adegan tersebut pastinya sangat berkesan). Sambil tertawa miris, ini memang kenyataan hari ini. Sudah lewat beberapa minggu, milyaran warga kota besar dan kecil di seluruh dunia harus mengunci diri di rumah masing-masing. Hanya keluar rumah kalau ada yang penting, sambil mempersiapkan diri fisik dan mental - sambil membawa perlengkapan untuk melindungi diri kita dari apa yang ada di luar sana...

Seperti jaman purbakala, jaman manusia gua. Mereka hanya keluar kalau ada yang penting karena keluar tempat tinggal adalah pergi ke dunia penuh bahaya... Bedanya dulu mereka berhadapan dengan harimau gigi pedang atau mastodon, hari ini kita harus berhati-hati terhadap benda tak kasat mata, virus corona... Singkat kata, kita ibarat sedang dipaksa merasakan kembali apa yang disebut dengan bertahan hidup... survival. Disadari atau tidak kita semua sedang dipaksa kembali ke dasar, merasakan kembali kehidupan yang paling esensial. Tanpa asesoris, tanpa embel-embel. Dalam kondisi survival, semua kembali ke dasar...

Secara sosial, kita dikondisikan untuk tinggal di rumah (home) dalam arti sebenar-benarnya. Kita tidak punya tempat pergi, untuk menghindar atau kabur. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa dipaksa berhadapan dengan kenyataan mengenai bentuk relasi dan interaksi kita dengan orang-orang yang (semestinya) terdekat dengan kita - keluarga kita: pasangan, anak atau orangtua - siapapun yang ada di rumah. Banyak juga yang ternyata begitu gelisah dan tidak betah di rumah - di tempat yang semestinya jadi tempat teraman atau ternyaman buat kita manusia. Dalam situasi seperti ini, tanpa bisa menghindar kita diajak untuk menyadari - dengan kembali ke hal-hal kehidupan kita yang paling mendasar - memaknai kembali apa yang disebut dengan keluarga. 

Makanan, tidak punya banyak pilihan. Sebelumnya kita begitu leluasa untuk memilih jajanan atau makan di luar rumah. Sekarang pilihan jadi sangat terbatas, beruntung masih ada abang Grab atau GoJek yang bersiap untuk mengantar makanan pesanan kita. Tapi dengan kita berada di rumah dalam jangka waktu tertentu, buat banyak keluarga, kembali memasak jadi pilihan menarik juga. Selain menghemat waktu, mengirit biaya juga... kembali ke dasar... Saat bahan persediaan menipis, kadang kita makan jadi sangat sederhana, mungkin nasi dan telur dadar bisa jadi sesuatu yang sangat nikmat...  

Beberapa minggu setelah #dirumahaja, saya memutuskan untuk mencoba gagasan yang sudah lama saya pikirkan, tapi belum menemukan momennya, berkebun. Menanam sayur sendiri. Mencoba konsep yang disebut-sebut sebagai kemandirian pangan. Kembali ke dasar...

Sempat di berbagai media sosial dan semua orang jadi heboh soal berjemur... Para ahli berdebat bagaimana cara berjemur yang paling tepat - setelah sekian lama tidak peduli sama matahari, tetiba berjemur - berinteraksi dengan sumber segala enerji di atas muka bumi ini jadi sesuatu yang penting... Kembali ke dasar

Lebih jauh lagi, banyak dari kita yang dikondisikan setidaknya dihadapkan dengan kesempatan untuk bercermin terhadap diri kita sendiri - bagaimana situasi mental dan pikiran kita. Apakah kita takut, gelisah, bosan, memikirkan apa yang di luar sana, atau tidak menerima situasi... Apakah kita marah terhadap kenyataan yang ada atau lainnya... Tidak ada teman kerja, tidak bisa ke cafe, tidak bisa makan enak di restoran atau nonton bioskop, tidak bisa shopping atau hang out... Kita dalam situasi dibatasi secara sosial, kita hanya berada dengan orang-orang terdekat dan diri kita sendiri.. Segala sesuatu yang kita rasakan atau pikirkan adalah pikiran dan emosi kita sendiri... Kembali ke dasar.

Pada akhirnya kalau kita merenungkan cukup mendalam, kita bisa merenungkan lagi tentang makna hidup, apa itu hidup dan kehidupan... Karena toh sekarang ini dengan segala keterbatasannya kita hidup... Lalu apa itu sebetulnya segala kesibukan yang biasanya selalu kita jalani selama ini tanpa henti... Apakah semua itu kehidupan? Apakah kita bisa menemukan makna dan hakikat hidup yang sesungguhnya di dalam kesempatan ini, di mana segala sesuatu terhenti dan kita bisa punya keheningan untuk melihat dan merenungkan segala sesuatu secara jernih... 

Luar biasa ya virus corona ini... Sejak lama saya meyakini, tidak ada peristiwa kebetulan... Tentunya hal terjadi ada maksudnya. Kalau segala sesuatu hanya terhenti tanpa kita temukan maknanya - dengan hebatnya peristiwa yang terjadi di seluruh dunia, dengan segala pengorbanan yang ada... tentunya semua itu jadi sia-sia...  

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa