New Normal? bagaimana dengan New Story?

 

Waktu adalah Penentu

Kalau kita ingat di bulan Maret kita mulai dengan #dirumahaja selama 2 minggu. Kita semua berpikir "OK... kita bisa lah 2 minggu di rumah..." setelahnya #dirumahaja diperpanjang lagi 2 minggu... Sambil ngomel-ngomel kita nurut dan diam di rumah 2 minggu berikutnya. Kita semua terus beradaptasi ... lalu 1 bulan berganti jadi 2 bulan. Sekarang sudah hampir 3 bulan..., kita semua semakin menyadari apa sesungguhnya kita hadapi... Kita mulai berhadapan dengan realita bahwa proses ini akan panjang. Kita semua mulai bicara tentang akhir tahun 2020 dan lebih jauh dari itu, tahun depan dan seterusnya. 

Saat ini semua mulai bicara tentang New Normal. Apapun itu artinya... Pada saat yang sama muncul juga kekhawatiran tentang gelombang ke dua (the second wave) dari pandemi ini. Masuk akal karena dari pengalaman, pandemi terdahulu (Spanish Flu) meledak setelah tahap awal pandemi sepertinya teratasi. Masyarakat mulai kehilangan kewaspadaannya, karena berbagai alasan kembali ke rutinitas hariannya. Di sisi lain, tenaga kesehatan mungkin sudah kehabisan enerji dan sumberdaya untuk menekan serangan pandemi di tahap2 awal. Di sisi lain, kebutuhan ekonomi dan lainnya tidak bisa dihindari - semua harus bergerak lagi. \

Dalam situasi pandemi ini, WAKTU adalah penentu... Kalau semua teratasi dalam waktu singkat, semua akan kembali ke situasi sebelumnya. Apabila proses ini akan makan waktu panjang - kita semua akan dikondisikan untuk berpikir berbeda dan mungkin juga melakukan sesuatu dengan cara-cara berbeda. Dalam situasi seperti ini, waktu adalah penentu

 

New Normal? bagaimana dengan New Story?

4460252703?profile=RESIZE_710xLalu bagaimana? Jujur saya pribadi tidak terlalu tertarik pada new normal... Semua berusaha mendefinisikan bagaimana hidup berdamai atau berdampingan dengan COVID-19. Ahli kesehatan dunia Allana Shaikh dalam TED Talknya mengatakan : Corona Virus is our Future. Dalam paparannya dia bilang bahwa Pandemi global (bukan hanya COVID-19 ini) akan jadi New Normal... Apa yang dimaksud Allana adalah dalam kondisi global seperti ini akan hadir pandemi2 lain selain COVID-19 lagi karena sistem peradaban seperti inilah yang menyebabkan pandemi seperti ini terjadi.

Saat ini kebanyakan dari kita hanya memainkan the waiting game. Kita semua hanya berusaha bersabar untuk kembali ke situasi sebelumnya di mana hampir dipastikan kualitas kehidupan kita akan lebih buruk daripada sebelum pandemi terjadi... 

Teman-teman, coba cermati apa yang disampaikan Arundhati Roy di gambar sebelah kiri ini - terutama baris-baris terakhir : 

 

This one is no different. It is a portal, a gateway between one world and the next. We can choose to walk through it, dragging the carcasses of our prejudice and hatred, our avarice*, our data banks and dead ideas, our dead rivers and smoky skies behind us.

Or we can walk through lightly, with little luggage, ready to imagine another world. And ready to fight for it.

*avarice means extreme greed or material wealth


Menurut saya inilah kesempatan bagi kita semua untuk menuliskan kembali narasi baru kehidupan : new story of humanity atau new story of the people... Buat keluarga besar Smipa mudah2an ingat bahwa tajuk-tajuk itu sudah hadir dalam ruang wacana kita sejak 3-4 tahun yang lalu lewat video2 pendek yang dibawakan Charles Eisenstein dan Satish Kumar - yang sempat kita saksikan bersama di Taki-taki.  

Kenapa saya tidak tertarik dengan New Normal, pada dasarnya karena saya meyakini sesuatu yang lebih mendasar : The More Beautiful World Our Hearts Know Its Possible... di lubuk hati yang terdalam - ada keyakinan bahwa ada kehidupan - dunia yang lebih indah yang dimungkinkan.

Bagi saya New Normal adalah sekedar beradaptasi - dan menyesuaikan diri... Menuliskan Narasi Baru adalah merancang dan merealisasikan sesuatu yang baru. Kalau kita yakin bahwa tidak ada peristiwa kebetulan, pandemi ini hadir mengajak kita semua merenungkan segala aspek kehidupan kita dan memberi peluang untuk kita merancang kembali kehidupan kita seindah yang bisa kita bayangkan... Ini dilakukan atas kesadaran bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang berbeda - bukan sekedar beradaptasi dan menyesuaikan diri - lalu menyebutnya sebagai New Normal... 

Dalam retrospeksi - Rumah Belajar Semi Palar dulu juga dilahirkan dalam situasi krisis - di tahun 1998 saat kita semua berhadapan dengan krisis ekonomi global. Gagasan2 tentang Semi Palar muncul di saat itu...  

 

Inspirasi

5480065296?profile=RESIZE_400x

Dua hari yang lalu saya mendapatkan tautan tentang World Localization Day. Tautan saya terima dari Misbah (ayah Kiran) anggota keluarga besar Semi Palar di grup WA PhD (Pengen Hidup di Desa).

Tautan itu segera menarik perhatian saya karena nama-nama yang saya sebut di atas muncul di laman tersebut. Nama-nama seperti Satish Kumar, Charles Eisenstein, Vandana Shiva, Hellen Norberg-Hodge di luar tokoh-tokoh lainnya. Mereka ini adalah tokoh-tokoh yang banyak jadi acuan selama Semi Palar berusaha memahami berbagai aspek pendidikan holistik berdasarkan visi tentang kehidupan yang holistik. 

Yang tidak kalah menarik adalah penjelasan singkat tentang Localization. Apa maksudnya? Situs itu tidak menjawab secara definitif, tapi mengajak kita semua untuk mengimajinasikan kehidupan yang bisa dicapai melalui localization itu. 

 

Saya tampilkan screenshots dari beberapa narasi yang ditampilkan di laman tersebut :

5480120092?profile=RESIZE_584x

Mari imajinasikan : dunia yang berbeda

 |||

5480811655?profile=RESIZE_584x

Mari imajinasikan : satu dunia di mana kebanyakan pangan kita datang dari petani terdekat
yang merupakan bagian dari komunitas kita dan memastikan ketahanan pangan sepanjang tahun.

 |||

5480812055?profile=RESIZE_584xMari imajinasikan : Bayangkan anak-anak bebas bermain dan mengeksplorasi dunianya dengan aman
di bawah pengawasan tetangga yang kita kenal dan percayai

 ||| 5481001087?profile=RESIZE_584x

Mari imajinasikan : Bayangkan uang yang kita manfaatkan sehari-hari terus berputar di dalam ekonomi lokal,
membangun kesejahteraan komunitas sepanjang jalan.

 |||

5481048287?profile=RESIZE_584x

Mari imajinasikan : Bayangkan bisnis lokal yang bertumbuh dan menyediakan kesempatan kerja yang bermakna,
dibandingkan uang yang kita peroleh disedot oleh berbagai korporasi-korporasi besar yang berjarak dari kita.  

||| 

Let's imagine : that we could realize this together as a community, as a family...

|||
 
Mari imajinasikan : bahwa hal-hal di atas ini bisa kita wujudkan bersama sebagai sebuah komunitas, sebagai sebuah keluarga 

 

 

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Situasi sebelum pandemi itu "Tidak Normal" (kesenjangan ekonomi, kerusakan ekologi, keterasingan sosial). Kalaupun bisa kembali ke situasi itu, sebenarnya kita rugi. Apalagi kalau terpaksa menyerah, "berdamai" dengan "New Normal" itu. Sangat yang tidak seru. Mari kita rumuskan bersama-sama New Story kita. Pandemi ini adalah kesempatan buat kita untuk memikirkan dan membangun peradaban baru: setidaknya untuk komunitas kita, keluarga Smipa. Mari kita sambut wacana localization yang sudah makin menguat di berbagai belahan dunia.

  • Yaa Kak Andi... sejalan dengan pemikiran kak Andi yang kurang menaruh ketertarikan pada terminologi atau istilah "NewNormal" yang sedang digaungkan, karena nampaknya tereduksi pada upaya adaptasi dan penyesuaian diri. Maka dari beberapa seri NormalBaru yang sempat di post, sejak awal adalah upaya saya untuk mencoba mereproduksi makna dari "NewNormal" walaupun masih menggunakan istilah tersebut karena belum sempat menemukan istilah yang cocok atau setidaknya belum berani menggunakan terminologi tandingan. Dan termilologi "NewStory" cenderung relevan dengan pandangan dan keyakinan bahwa ada kehidupan - dunia yang lebih indah yang dimungkinkan.

     

This reply was deleted.

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.