Gue Bisa Bantu Gimana

Biskuit beton yang sebenarnya bukan lagi kilogram malahan sudah kuintal ini berbincang dengan batang kayu bulat yang bobotnya sama. Berat. Susah gesernya. Masing-masing bilang sudah tak mampu bertahan dan hendak memulai baru kemudian. Menjadi pertanyaan bagi yang mendengarkan, karena potensi berat itu adalah untuk bertahan sedangkan untuk bergerak dengan beban sedemikian rasanya melawan fitrah. Apalagi saat mereka berkata bahwa dengan bergerak lah menjadi fitrah.

7160938496?profile=RESIZE_710xYa, sudah lah. Ucap kerikil kepada bunga di ruang sebelah. Dengan penasaran bunga menceritakan bahwa banyak ketidak sukaan yang menjadi penghambat, kemudian dengan bertahan malahan menjadi jalan. Karena ketidak sukaan menjadi kesukaan membutuhkan pergerakan, bukan sekadar gerakan yang malahan membuat kesukaan jadi ketidak sukaan. Pergerakan membutuhkan kesadaran bahwa arah kebersamaan adalah satu, mendukung yang di depan menjadi penuh. Agar dengan kepenuhannya membina yang di belakang bukannya membingungkan. Kalau yang di belakang sibuk memenuhi diri dengan keseharusnyaan, yang didepan akan selalu merusuhi dan membimbangkan, karena yang di depan ya di depan dan yang di belakang ya di belakang.

Gelap mulai datang bersama pasangannya si lampu penerangan. Berbincang mereka sambil berjalan karena keduanya pasangan, kalau berjalan tanpa berbincang kan sekadar kenalan yang janjian ketemuan untuk saling meninggalkan saat beres urusan. Isinya adalah perlu posisi dan peran yang dijalani dengan setia, biarkan yang memulai mengakhiri dan yang mendukung menjalani, tanpa saling menghakimi menghukumi. Agar yang mendukung menjalani dapat memulai mengakhiri dan yang memulai mengakhiri dapat mendukung menjalani. Caranya bagaimana, sepakati dulu kenapa.

Lalu? Lupa! Pastinya.

Makanya butuh mantra untuk selalu menjaga rasa, "gue bisa bantu gimana."

Koq pake titik bukan tanda tanya? Ya, sudah lah.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.