AES#4 Dari Alergi jadi Mengenal Diri

Dua tahun terakhir ini, saya mendapati reaksi berbeda setelah memakan ikan tawar/laut dan ayam potong. Padahal ikan merupakan menu favorite. Sejak kecil sudah akrab dengan ikan atau olahan ikan, bagaimana tidak? Lahir dan tumbuh di daerah pesisir yang melimpah akan hasil laut maupun tambak. Ikan tawar maupun laut merupakan makanan sehari-hari. Namun, entah mengapa saat ini merasakan nikmatnya makan ikan harus membuat saya berpikir dua kali sebelum menyantapnya.

Sebelum ini, saya tidak memperhatikan lebih detail makanan yang masuk dalam tubuh (yang penting halal dan tidak banyak minyak). Namun saat ini, ketika badan saya bereaksi gatel-gatel (pada malam hari). Pikiran saya pun langsung mengingat-ingat “tadi seharian makan apa ka?”, “ohiya makan ini, diinget ya kalau makan X reaksi tubuh mu seperti ini?”, atau ketika rasa ingin menyantap ikan tak tertahan saya pun sudah tahu konsekuensinya.

Alergi ini menjadi salah satu media dalam pengenalan diri. Pertanyaan yang biasa saya tanyakan saat sedang mengalami alergi, saya terapkan pula pada reaksi kondisi psikis . Sesederhana, ketika saya merasa kesal. Saya ingat-ingat kembali factor penyebab mengapa saya kesal. Setelah saya ingat: “oh saya kesal ketika ada orang berbicara dengan intonasi tinggi”, bagaimana agar saya menjaga mood layaknya mengajar luring? Jawabannya “kemarin saya nge-zoom cuma berkerudung tanpa olesan sedikit make up , hari ini pakai setelan dan sedikit make up rasanya lebih bersemangat. Oke deh berarti penampilan juga berpengaruh pada mood”.

Mengetahui bagaimana diri, factor menyebab, cara mengatasi, memvalidasi emosi menurut saya sesuatu yang penting dalam proses pengenalan diri. Saya baru mulai sedikit mengenal dan memahami diri sendiri ketika usia dewasa. Pada usia anak-anak dan remaja sepertinya apa yang dirasa atau dialami diri seperti angin lalu, berlalu tanpa validasi maupun refleksi. Kata orang bijak “tidak ada yang terlambat” bersyukur ketika diusia menuju kepala tiga, Semesta memberi kesempatan dalam proses mengenal diri, cara mengatasi, memvalidasi setiap emosi yang muncul, mengenal refleksi diri, atau tidak apa-apa jika sedang tidak baik-baik saja yang terpenting bagaimana cara merespon, bukan begitu?

Ternyata muncul alergi membuat saya lebih mengenal diri. Memang yaa setiap hal ada hikmahnya :)

Tulisan ini terinsiprasi dari rasa gatel semalam karena siang harinya makan ikan yang sudah sangat lama tidak memakan jenis ikan tersebut, bagaimana tidak tergodaaa :D

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • yeaaay... 

    Kalau soal makanan saya termasuk yang ga berani ambil resiko untuk nyoba-nyoba sih... saya juga punya alergi seafood, tapi kalau makan olahannya enak, meskipun alergi udang, tetep aja dimakan... hahahahha.... 

    • Wakakka iyaa kabita kan yaaaa :D 

  • kak Ika makan ikan apaa? haha sebagai penggemar makanan laut jadi kepo... 
    Tulisannya bagus kak Ika betul banget. Salah satu bagian dari kesadaran diri adalah kesadaran jasmani. 
    Saya juga menerapkan ini sejak beberapa tahun lalu. Dulu saya cuek, udah mau flu makan gorengan... Sekarang tenggorokan gatel dikit saya lebih aware karena badan saya menyampaikan sesuatu kepada saya. Ya sejauh ini rasanya saya jauh lebih sehat dan ga gampang sakit... 

    Selamat buat esainya yang ke empat. Tolong tambahkan kode AES04 di depan judul. Lalu catatkan judul esai di tabel Atomic Essay di sini.




    Atomic Essay Smipa
    Input Data 1-15 lembar 1,Info :,Rekan2 penulis, silakan update di bawah kolom nama masing2 sesuai tanggal pembuatan esai. Isikan dengan urutan nomor…
    • ikan yang diasap kak :) kalau di Semarang disebutnya ikan mangut :) 
      matur nuwun kak Andy :)

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa