Comparing? Nah! Don't!

6118650283?profile=RESIZE_710x

 

 

Menjadi orang tua itu sebuah pekerjaan yang paling sulit di dunia. Jika ada orang tua yang mengatakan bahwa mendampingi anak-anak itu pekerjaan mudah, aku sama sekali tidak percaya. Tidak ada orang tua ideal, ini juga aku yakini seribu persen karena setiap orang itu unik, tidak ada duanya sehingga jika kita merasa menjumpai orang tua yang hebat, belum tentu cocok dan bisa dijadikan "prototype" yang cara-caranya dapat digunakan di setiap rumah. Menjadi orang tua itu selalu harus menghadapi proses trial dan error yang tidak pernah berkesudahan. Anak-anak tumbuh dan berkembang demikian juga proses pendampingan di rumah yang tidak akan pernah habis menghadapi banyak tantangan. Sebagai orang tua, tidak ada hari tanpa belajar.

 

Pagi ini ada kehebohan ketika aku terbangun. Ada acara menarik di Smipa, yaitu Musik Sore Online 2020. Wah ini acara yang seru dan lain dari yang lain karena ini baru pertama kali dilakukan. Musik sore adalah acara tahunan yang dulu selalu aku hadiri. Di sini komunitas Smipa "unjuk diri" dalam berbagai bentuk kreativitas dari mulai menyanyi, bermusik, bahkan seingatku dulu ada stand up comedy dan tari-tarian. pokoknya seru.

 

Sambil bersiap-siap pergi ke kantor aku menikmati acara ini. Mendengarkan penampilan musik sambil membuat kopi dan menyiapkan bekal untuk sarapan di kantor. Pagi ini menjadi agak berbeda dari biasanya.

 

Smipa memang keren karena anak-anak tampil dengan rasa percaya diri yang mumpuni. Lihat saja MC nya mereka sangat luwes, natural dan tampak santai tidak seperti pembawa acara upacara yang kaku dengan intonasi monoton. Yang ini hebat, apalagi ketika ngobrol dengan salah satu kakak yang sudah berkarir di tempat lain atau cerita jual ikan lele ke Michael Jordan, pemain basket Chicago Bulls tahun 90an. Hahaha kok kepikir ide seperti ini? lalu ada tampilan siswa yang bermain piano maupun saxophone, menyanyi lagu yang jazzy dengan sukses menemani aku bekerja di kantor, wah nikmat banget sambil nyeruput kopi!!! (sttt!!!aku nonton 2x loh hehehe)

 

 

Oke, kekaguman Musik sore online ini kemudian tanpa sadar membuat aku berpikir pada anakku semata wayang. Suatu hal yang wajar sebagai orang tua ingin mengetahui "posisi" anak sendiri diantara anak-anak yang lain. Tidak jarang orang tua berusaha membandingan anaknya dengan yang lain.

 

"Tuh liat si A! kenapa kamu engga bisa seperti dia? pinter, santun, jago main basket, jago main drum. bla bla bla.."

 

Ini sering dijumpai bukan? kekaguman kita terhadap anak-anak yang berprestasi, yang menonjol memiliki kelebihan dalam bidang-bidang tertentu seperti sebuah anak panah yang memiliki 2 ujung. Satu sisi kita dipenuhi rasa kagum, di sisi lain kita melihat kondisi anak kita. Betul begitu bukan?

 

Mempunyai pemikiran itu aku langsung berusaha mecari informasi, apakah hal tersebut baik dilakukan atau tidak. Dalam hati aku yakin bahwa ini sesuatu yang tidak baik, tapi aku ingin menyelusuri lebih dalam untuk mengetahui sebetulnya apa saja ketidak baikannya.

 

Dari yang aku baca, ternyata aku betul! Dalam siatuasi saat ini yang sangat kompetitif, orang tua memang selalu berusaha dan mendorong anak-anaknya untuk bisa menonjol dan mampu menghadapi segala bentuk tantangan, tetapi membandingan anak-anak dengan yang lain itu sangat counter-productive! Anak-anak itu masih rapuh dan belum mampu mencerna kritik negatif dengan baik.

 

Menurut para ahli ada beberapa efek negatif terhadap sang anak jika kita terus menerus membandingan dengan anak-anak yang lain. Pertama, memberikan efek ragu terhadap diri sendiri. Semakin sering kita membandingan, semakin si anak merasa dia "kurang" dan tidak cukup baik. Sebagai orang tua kita seharusnya membimbing mereka dan mendukung mereka dalam setiap langkah serta keputusan yang mereka ambil, bukannya membandingkan mereka dengan yang lain.

 

Kedua, menimbulkan kecemburuan. Rasa cemburu bukan merupakan perasaan yang sehat. Terlalu sering dibandingan dengan yang lain membuat anak-anak tidak menghargai diri sendiri dan menimbulkan kebencian. Benci akan diri sendiri karena terus merasa "kurang" dan benci pada orang lain yang memberikan perasaan cemburu.

 

Ketiga, memupuk perasaan negatif. Karena terus menerus melihat orang lain melejit dengan hebat dalam banyak hal sementara diri sendiri tercabik-cabik dengan perasaan ketidak-mampuan, maka si anak akan menjadi sangat negatif. "Untuk apa mencoba? toh aku tidak akan pernah dapat menjadi seperti dia!" Kita ingin anak-anak kita selalu berpikir positif dan menjadi agen kebahagiaan bagi sekelilingnya, bukan?

 

Keempat, menghancurkan relasi orang tua dan anak. Sayangnya aku punya contoh kisah nyata mengenai hal ini. Pada saat aku masih kecil, SD atau SMP, aku punya seorang teman bermain lumayan lengket. Dia memang agak berbeda karena pendiam, serius dan bukan anak yang ceria. Orang tuanya terlalu mengontrol. "Kris tuh contoh Jo, belajar bareng sana supaya kamu pintar seperti dia!" "Kris, kamu harusnya seperti si A jago berenang!" "Kris, kenapa nilai bahasa kamu cuma segini, masa kalah dengan Adi?" itu beberapa contoh dari ribuan ungkapan-ungkapan yang biasa aku dengar ketika bermain bersama. Kris memang jadi super kikuk dan sering jadi ajang bahan tertawaan serta bully. Ketika dewasa dia semakin pendiam dan semakin aneh. Aku dengar dia pernah menembak bokong ayahnya dengan senapan karena menolak melakukan sesuatu untuk dia. Ujungnya dia masuk rehabilitasi untuk orang yang memiliki masalah mental lalu entah mengapa dikabarkan meninggal dunia di usia relatif muda. Relasi dia dengan orang tuanya tidak pernah baik karena dia selalu menghindari orang tuanya, jangankan memperoleh dukungan dalam menghadapi masalah, yang dia peroleh semata-mata reaksi negatif yang menjatuhkan harga dirinya. Stress, depresi, lalu sakit lepas dari kenyataan dan akhirnya lepas dari kehidupan!

 

Membanding-bandingkan juga membentuk orang menjadi sebuah pribadi yang gugup dan sangat tertekan, ya seperti Kris yang tadi aku ceritakan.

 

Setiap anak itu spesial dan unik. Setiap pribadi itu berbeda. Daripada membandingan dengan orang lain, sebagai orang tua sebaiknya justru menyemangati dan mendukung mereka menjadi diri sendiri yang lebih baik, to better themselves daripada berusaha menjadikan mereka lebih baik dari orang lain! kata Mark twain: Comparison is the death of joy!

 

Anyway, kembali ke Musik sore. Ini acara luar biasa, beberapa penampilan sangat menyentuh terutama menjelang akhir akhir, mengharukan sekali dan malah menambah rasa kangen. Bravo Smipa!***

 

http://justjosite.wordpress.com/2020/06/19/comparing-nah-dont/

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Good ! Ini masalah yang sedang kuhadapi sekarang, Orangtuaku suka membanding-bandingkanku dengan sepupuku. Orangtuaku pikir, dengan cara ini, aku jadi berusaha lebih hebat dari sepupuku atau selevel dengan sepupuku. Namun, saat kubaca artikel tirto.id, di artikel itu bahwa hal ini malah membuat anak tidak bisa maju dan lama-lama membenci ortu dan orang yang dibandingkannya, dan, masih dari artikel tersebut, dikatakan bahwa jika hal ini terbawa sampai dewasa, akan berbahaya.

  • Wah... Terima kasih sudah mengangkat isu yang amat sangat penting ini, Pak Jo. Terima kasih banyak. Saya setuju sekali dengan semua yang Pak Jo sampaikan.

    Kuncinya ada di bagian yang ini:

    ______________________________

    Setiap anak itu spesial dan unik. Setiap pribadi itu berbeda. Daripada membandingan dengan orang lain, sebagai orang tua sebaiknya justru menyemangati dan mendukung mereka menjadi diri sendiri yang lebih baik, to better themseves daripada berusaha menjadikan mereka lebih baik dari orang lain! kata Mark twain: Comparison is the death of joy!

    ______________________________

    Compare yourself to who you were yesterday, not to who others are today.

    Setelah membaca postingan Pak Jo, saya jadi tergugah untuk bikin tulisan yang juga menyangkut hal ini. Sebab, menurut saya, salah satu peran terpenting kita sebagai orang tua adalah membimbing anak-anak kita untuk bukan hanya bisa menerima dirinya apa adanya, namun BANGGA dengan dirinya, dengan pilihan-pilihannya, dengan hidupnya.

    Oh iya, karena topik ini sangat penting, jika Pak Jo berkenan, saya usul agar tulisan Pak Jo dimuat sebagai postingan utuh di blog Ririungan — supaya semua pengunjung Ririungan bisa langsung membacanya. Di akhir tulisan, Pak Jo bisa cantumkan tautan ke sumber aslinya di website Pak Jo.

    • siap.. saya akan copy di ririungan 🙂

      Ini mantap sekali:  "Compare yourself to who you were yesterday, not to who others are today." 

  • Keren Joe 👍🏽👍🏽 jangan pernah membandingkan anak satu dengan yang lain, tidak mudah untuk kita lakukan, karena dulu juga kita suka dilakukan begitu oleh generasi diatas kita...

    Kedua anak ku, sangat berbeda, punya kelebihan & kekurangan masing2... Aku tinggal melihat, menikmati perbedaan yang ada, sambil mencoba menuntun mereka tetap pada "jalurnya" masing2... 

    • mantap ini... pokoknya memutuskan rantai kebiasaan buruk ya 😊

    • Yes, seperti tulisanmu, dibandingkan, akan membuat anak menjadi tidak berguna / merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, malah semakin berbahaya buat anak yang sedang berusaha mencari bintangnya..

  • Wah langsung ada responnya. Terima kasih Jo. 
    Setuju banget - tidak ada 2 individu yang sama di atas muka bumi ini... 
    Di depan rumah saya pohon mahoni yang setiap tahun rontok seluruh daunnya. Pernah saya sambil nyapu di depan rumah - duduk di depan tumpukan besar daun kering yang sudah terkumpul, saya ambil dua helai dan berpikir... bisa ga ya kita menemukan dua helai daun yang sama... betul2 sama dan serupa. 
    Tidak mungkin ya... itulah hebatnya semesta - hebatnya Sang Pencipta... Pohon dan rerumputan aja saya yakin ga ada yang sama. Kalau ada yang berbeda pendapat - boleh buktikan sebaliknya :)

    Keberagaman adalah hakikat kehidupan - fitrahnya semesta, hanya benak manusia yang punya kecenderungan membanding-bandingkan - karena memang intelektualitas kita bekerja demikian - yang sebetulnya bekerja untuk kebutuhan bertahan hidup (survival)...
    Nuhun pisan tulisannya.   

    • Setuju kak Andy. Tapi kebiasaan orang tua dulu suka menular ke generasi berikutnya.. Untung sekarang banyak artikel, informasi buat belajar tinggal unduh, biar jadi rambu2 tidak meneruskan kebiasaan buruk jaman dulu. 

  • Betul pak, membanding-bandingkan itu berbahaya.

    • Bener kak. Setuju sekali.

This reply was deleted.

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.