Cocok kah Adaptasi Suatu Maha Karya (Bumi Manusia)?

 

Ditulis oleh: Sarah


8539700089?profile=RESIZE_400x



Tahun Rilis Film : 9 Agustus 2019.

Rating usia : 17 tahun keatas.

Genre : Fiksi, Sejarah

Rumah Produksi : Falcon Pictures

Sutradara : Hanung Bramantyo

Pemeran : Iqbaal Ramadhan (Minke), Mawar Eva De Jongh (Annelies), Ine Febriyanti (Nyai Ontosoroh).

Durasi : 3 jam 1 menit.



Pembuka

 

Film yang diadaptasi dari novel karya besar Pramoedya Ananta Toer, menceritakan tentang kisah cinta seorang Pribumi berpikiran revolusioner dan maju, Minke (Iqbaal Ramadhan). 

 

Sebagai seorang pelajar, guru saya merekomendasikan sebuah buku berjudul Bumi Manusia untuk dibaca. Alurnya yang dibawakan secara menyentuh dan ceritanya yang penuh konflik, membuat saya penasaran dengan adaptasi filmnya.



Sinopsis Film

 

Sosok Minke yang digambarkan sebagai pemuda yang sederhana, pemberani, dan terpelajar. Ia jatuh hati kepada gadis bungsu Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh). Kedudukan Nyai sebagai istri simpanan menyebabkan adanya banyak pihak yang menolak hubungan mereka. Namun Minke memandangnya dengan sudut pandang yang berbeda. Minke harus berusaha memerangi hukum kolonial pada zaman itu untuk mendapatkan akhir bahagia yang ia impikan sebagai seorang pemuda berdarah pribumi.

8539704477?profile=RESIZE_710x

Ulasan Film

Pada dasarnya, film yang berada dalam arahan Hanung Bramantyo ini alurnya menurutku agak terlalu cepat jika dibandingkan dengan buku. Tapi karena dikemas dalam bentuk film, bagian yang penting masih ada dan durasinya cukup pas. Ada beberapa plothole kecil seperti hilangnya Robert, penyebab sakitnya Ann, dan lain-lain. Tapi secara garis besar, alur cerita dibawakan dengan baik, karena makna dan pesan intinya tersampaikan.

 

Pada skenarionya, penggunaan bahasa dan dialog sudah tepat. Sesuai dengan kedudukan peran masing-masing, juga realistis dengan zaman itu. Pemilihan peran cocok, tapi menurut saya pribadi perawakan Iqbaal Ramadhan membuat Minke nampak lebih kekanak-kanakan dibanding yang saya bayangkan. Tetapi ia memainkan perannya dengan baik, semangat pemuda Minke tersalurkan dengan baik melaluinya. Pada tokoh-tokoh lain seperti Ann dan Nyai juga sesuai ciri-ciri fisik dan perawakannya. Salah satu pemain yang aktingnya patut diapresiasi adalah Ine Febriyanti (Nyai Ontosoroh). Karena, sesuai dengan yang kubayangkan, beliau dapat membawakan sisi tegas, kuat, percaya diri dan bijak dari Nyai dengan baik. 


8539707701?profile=RESIZE_710x

Kostum, bangunan dan tata rias semua sangat estetik dan rapi, tapi kurang realistis. Contohnya adalah Darsam. Perawakannya sesuai dengan yang digambarkan di buku, akan tetapi di kehidupan nyata sepertinya tidak ada yang bentuk kumisnya begitu tebal dan lancip. Beberapa bangunan terlihat masih sangat baru dan sangat rapi, seperti baru saja dibangun/dicat. Di kehidupan nyata, pasti akan berbeda. 

 

Suara pemain terdengar dengan baik, dan soundtracknya pun sesuai dengan  tema yang dibawakan. Terutama lagu Ibu Pertiwi yang dibawakan oleh musisi tiga generasi, Once, Iwan Fals dan Fiersa Bersari. Saat mendengar lagu tersebut, rasanya film ini tidak sekedar mengisahkan kisah cinta pemuda masa lampau, tapi juga perjuangannya di negeri sendiri. Soundtrack ini membangkitkan rasa nasionalisme bagiku pribadi, bahkan sampai merinding.



Penutup/Simpulan

 

Untuk ukuran film Indonesia, film ini sangat berkualitas. Semacam pijakan dibandingkan dengan kualitas sinetron dan semacamnya. Sesuai dengan ratingnya, orang-orang yang cocok menonton film ini adalah remaja. Saya juga merasa yakin kalau film ini ditujukan untuk remaja zaman sekarang, dengan tujuan berperan sebagai museum dari masa lalu. 

 

Dengan begitu, saya menyimpulkan kalau film ini sangat direkomendasikan untuk orang lain tonton. Alur ceritanya yang kompleks karya Alm. Pramoedya Ananta Toer, disajikan dalam bentuk karya film yang tak kalah bermakna.



Rating/nilai Film Secara Keseluruhan: [Skala 1 - 10] 

 

Ku beri rating 8/10. Karena masih ada bagian yang bisa diperbaiki seperti bangunan dan lainnya. Tapi film ini termasuk film yang sangat keren untuk film Indonesia.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa