(Cerpen) Rantai Kehidupan

(Cerpen) Rantai Kehidupan

Rantai kehidupan

Oleh Haegen

*ceritanya fiktif, subjek utama ‘anonymous’

 

Di saat hari-hari terasa berjalan dengan tenang, disanalah permasalahan terjadi. Di saat ia seperti telah menghilang, justru adalah saatnya ia beraksi. Kehidupan memang selalu begitu, naik-turun dan terombang-ambing. Bagaikan detak jantung, pasti mati kalau lurus dan hanya biasa-biasa saja. Makna tersebut, seringkali kutemui dalam peristiwa sehari-hari. Tidak hanya masalah-masalah kecil, tapi besar pun bisa terjadi.

 

Sebuah pagi yang tenteram datang menyapa kami, yang sedang mempersiapkan sebuah hari besar. Sebentar lagi, aku dan kakakku akan pergi liburan! Kami sudah mempersiapkan tiket untuk pergi ke suatu negara yang agak jauh, dimana ada banyak pegunungan yang dapat aku jelajahi. Nanti pun, pasti aku juga bisa pergi ke beberapa monumen, salah satunya adalah tembok yang panjanggg sekali. Disana pun, secara industri negara tersebut sangat maju, teknologinya pun tak kalah dengan bangsa-bangsa Barat. Duh, sudah tidak sabar lagi nih! Apalagi kalau soal membeli oleh-oleh, itu sih pastinya favoritku saat liburan. Oleh-oleh dari setiap lokasi memiliki keunikan dan ‘bagus’nya masing-masing

 

Pesawat udara yang akan kami tumpangi sebentar lagi akan berangkat. Maka aku, langsung secara sigap mengambil dan mempersiapkan hal-hal yang akan kubawa. Tidak lupa lagi, membawa binatang peliharaan kesayanganku yang bernama Kiko bersama. Baru saja mau pergi, Kak Rendi berkata kepadaku, ‘Dek, binatang peliharaan itu gak boleh dibawa ke pesawat’. Yah, mau gimana lagi harus kutinggalkan Kiko. Kami pun segera berangkat ke bandara dan menaiki pesawat.

 

Pesawat yang kami tumpangi sangat besar. Badannya bagai dilumuri warna biru dari atasnya. Kokpit yang terihat sangat ‘berisi’ pun juga menarik perhatian kami. Gema dari suara mesin jet yang sangat bergemuruh, saat aku dan Kak Rendi memasuki pintu pesawat. Di dalam pesawatnya, terlihat juga beragam jenis kalangan orang-orang; ada yang membawa kamera dan peralatan; ada yang membawa tongkat dan topi hijau belang, pun juga yang membawa koper hitam formal yang berukuran kecil.

 

Saat pesawat mulai berangkat, Kak Rendi bergumam “It’s gon’ be a long flight”. Aku hanya menyengir tipis, Kak Rendi memang sangat menyukai bahasa asing dan sering mengucapkannya mau di rumah pun di perjalanan seperti ini. Wajar pula, Kak Rendi yang lebih sering mengunjungi negara-negara dan kebudayaan lain dibandingkan denganku. Tak lama kemudian, kami pun tertidur bersama banyak penumpang pesawat lainnya.

 

Saat bangun, tidak terasa sore hari sudah tiba. Melihat dari sisi jendela kapal, ada banyak gedung-gedung tinggi yang menjulang di sisi kota, penuh dengan cahaya petang dari setiap jendela. Kulihat kembali perangkat elektronik di sisi tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 di daerah yang kami tinggal, artinya di negara yang akan kami kunjungi, sudah pukul 18.00. Aku pun kembali melirik ke arah kota melalui jendela, yang langitnya sudah mulai menjadi oranye. Tidak lupa lagi kuambil perangkat gawai dan memotret keindahan alam tersebut.

 

Tiba-tiba suara pramugari memecah keheningan yang berlanjut beberapa waktu sebelumnya. “Flight 4041, ready to land 10 minutes soon on Beijing Airport”, begitulah ucapan pramugari yang kutangkap. Aku pun langsung membangunkan Rendi yang masih terlelap. Tak lama setelahnya pun kami sudah berada di darat kembali.

 

Aku ternyata melupakan sesuatu saat berada di pesawat, yaitu makan. Perutku baru keruyukan pada saat turun dari pesawat. Sehingga, aku pun langsung bergegas keluar, menemui udara padat kota malam hari setelah keluar dari pintu bandara. Pengurusan paspor dan visa sangatlah terasa lama bagiku. Pikirku, alangkah baiknya kalau makan di bagian bandara saja. Pada akhirnya kita makan bebek peking dengan harga 25 yuan. Bebek tersebut nikmat, rasa kecap dan juicy memenuhi pikiran saat kami balik ke penginapan.

 

Keesokan harinya, aku terbangun pada terbitnya fajar merah, diikuti sapaan hawa dingin dan akupun langsung bersiap-siap memakai jaket dan menyikat gigi, tidak menghiraukan Kak Rendi yang masih tidur lelap. Pikirku, memang sudah kebiasaan malas Kakak. Sehingga aku mengambil uang, tiket bus, dan langsung membangunkan Kak Rendi. Sehabis bus fajar menjemput di stasiun, sang pengemudi bus berkata sesuatu yang Kak Rendi dapat terjemahkan. Katanya, perjalanan akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Seiring lama berjalannya waktu di bus, aku terus terpikir soal oleh-oleh yang bisa aku dapatkan, apalagi dari Tembok Besar. Sampai rencana-rencana kecil pun aku berpikir, saking terobsesi dengan oleh-oleh setiap kali liburan.

 

Pikiran membuatku tidak sadar sudah tiba di Tembok Besar. Saat turun, kulihat berbagai orang-orang dari kalangan berbeda-beda, semua berkerumun dan tampak berjalan kaki ke arah monumen. Sambil rileks sebentar, aku membeli oleh-oleh di bagian belakang monumen, oleh-oleh yang kudapatkan adalah gantungan kunci. Hari sudah menjelang siang, sehingga kubuka dan kusimpan jaketku di dalam tas kecil yang kubawa. Menaiki tangga, kerumunan sudah mulai sesak karena adanya penyempitan jalur. Di atas tembok, aku hanya bisa memotret pemandangan yang diberikan alam, kabut saja yang menghalanginya. Kupakai ilmu fotografi yang telah kupelajari sebelumnya sehingga menghasilkan foto yang luar biasa. Sebagian waktu kuhabiskan dengan Kakak mengobrol terkait pengalaman liburan selama ini.

 

Akhirnya, tidak terasa hari sudah siang. Akupun langsung turun, membeli oleh-oleh makanan, dan menaiki bus lagi. Hari ini terasa lelah, dari bangun pagi, perjalanan, hingga hawa yang sangat terik di siang hari. Di tengah perjalanan, kami berhenti di suatu tempat makan. Ada banyak makanan menarik disana, misalnya martabak khas disana, ayam panggang, nasi goreng, dan makanan modern lainnya seperti boba. Akhirnya aku pun kenyang sehingga tertidur saat menaiki bus. Sementara kakak, tidak seperti biasanya malah mengajak ngobrol salah satu penumpang lain, tidak malas seperti biasanya.

 

Hari-hari berikutnya dipenuhi kunjungan ke Kota Terlarang, lapang Tiananmen, pantai di bagian timur, dan juga suatu kuil/pura lokal yang populer. Tidak terasa sudah hari terakhir ketika ingin berangkat menuju bandara. Saat aku mengecek koper di bus menuju sana, saya tiba-tiba teringat soal oleh-oleh. Oleh-oleh yang biasanya saya utamakan untuk beli, kok tiba-tiba tidak ada? Jangan-jangan ketinggalan di penginapan nih! Aku pun langsung panik dan kaget setengah mati, meskipun kakak di sampingku hanya cuek, mengetahui apa yang terjadi. Tidak terbayang beberapa hari sebelumnya sibuk mencari oleh-oleh, yang seketika hilang saat dibawa pulang. Terutama sebagai peminat oleh-oleh, pastinya aku sedih sekali.

 

Aku hanya bisa menggerutu dan cemberut selama di bus, tidak ingin berpikir solusi akan bagaimana.  Hingga suatu saat Kak Rendi berkata, “santai aja dan berpikirlah dengan kritis”, maka aku jadi kepikiran untuk menelepon pemilik penginapan. Aku hanya ingin barang itu sampai, meskipun biaya tambahan ada. Pemilik penginapan dimana sebelumnya kami menginap pun juga mencari solusi yang cerdas. Karena kalem, beliau pun menyarankan untuk dikirim melalui paket ke Indonesia saja. Oke deh, akhirnya aku pun santai.

 

Namun muncullah masalah baru. Di perjalanan menuju bandara, ada kemacetan yang besar, menyebar di seluruh jalanan. Sehingga aku juga khawatir, pesawat berangkat dahulu sebelum kami sampai. Kali ini, aku langsung mencari solusi. Tidak panik duluan. Tetapi bagaimanapun juga, sepertinya masalah kemacetan ini bagaikan tidak mungkin untuk diatasi. Akhirnya, Kak Rendi dan aku juga pasrah saja.

 

Tiba di bandara, seperti sudah telat untuk menyusul pesawat tersebut. Tetapi jadwal berkata lain, pada pengumuman ternyata semua penerbangan ditunda 30 menit. Hal tersebut dikarenakan beberapa kondisi, salah satunya adalah kemacetan besar di ibukota tadi. Perasaan lega menyelimuti setiap orang yang terkena macet tadi, seusatu yang belum pernah aku lihat. Terlihat dari gestur tubuh dan reaksi, orang-orang yang masuk seakan-akan panik tetapi setelah ada pengumuman mereka lebih kalem.

Tidak terasa istirahatnya hanya sebentar, karena muncullah pengumuman pesawat yang akan kami tumpangi, siap untuk ditumpangi. Di pesawat, aku bermain gawai saja, meskipun khawatir akan oleh-oleh yang dipaket tersebut, jangan-jangan tidak sampai. Setibanya di Indonesia, tepatnya di ibukota aku langsung pulang ke rumah, menyapa anggota keluarga yang lainnya, dan tidur seketika. Esoknya, belum sempat beberes sudah ada dengung bel. Rupaya paket oleh-oleh tersebut yang sampai, saking semangatnya berasumsi hingga tak sadar itu hanya seorang tukang bakso. Siangnya, paket barulah datang, serta juga ada titipan salam dari pemilik penginapan.

 

Meskipun ada banyak masalah, tetapi pasti dapat ditemukan solusi. Tidak mungkin tidak ada masalah, tetapi yang ada adalah memperbaiki masalah tersebut terus menerus. Kita tidak boleh pasrah saja, tetapi harus berfikir secara sadar untuk mengatasinya. Rantai kehidupan selalu berpola seperti ini, selalu ada masalah baru, tetapi harus diatasi

 

Sekian dan terimakasih telah membaca, mohon maaf jika kurang optimal mungkin dalam segi cerita.

Rantai kehidupan

Oleh Haegen

*ceritanya fiktif, subjek utama ‘anonymous’

 

Di saat hari-hari terasa berjalan dengan tenang, disanalah permasalahan terjadi. Di saat ia seperti telah menghilang, justru adalah saatnya ia beraksi. Kehidupan memang selalu begitu, naik-turun dan terombang-ambing. Bagaikan detak jantung, pasti mati kalau lurus dan hanya biasa-biasa saja. Makna tersebut, seringkali kutemui dalam peristiwa sehari-hari. Tidak hanya masalah-masalah kecil, tapi besar pun bisa terjadi.

 

Sebuah pagi yang tenteram datang menyapa kami, yang sedang mempersiapkan sebuah hari besar. Sebentar lagi, aku dan kakakku akan pergi liburan! Kami sudah mempersiapkan tiket untuk pergi ke suatu negara yang agak jauh, dimana ada banyak pegunungan yang dapat aku jelajahi. Nanti pun, pasti aku juga bisa pergi ke beberapa monumen, salah satunya adalah tembok yang panjanggg sekali. Disana pun, secara industri negara tersebut sangat maju, teknologinya pun tak kalah dengan bangsa-bangsa Barat. Duh, sudah tidak sabar lagi nih! Apalagi kalau soal membeli oleh-oleh, itu sih pastinya favoritku saat liburan. Oleh-oleh dari setiap lokasi memiliki keunikan dan ‘bagus’nya masing-masing

 

Pesawat udara yang akan kami tumpangi sebentar lagi akan berangkat. Maka aku, langsung secara sigap mengambil dan mempersiapkan hal-hal yang akan kubawa. Tidak lupa lagi, membawa binatang peliharaan kesayanganku yang bernama Kiko bersama. Baru saja mau pergi, Kak Rendi berkata kepadaku, ‘Dek, binatang peliharaan itu gak boleh dibawa ke pesawat’. Yah, mau gimana lagi harus kutinggalkan Kiko. Kami pun segera berangkat ke bandara dan menaiki pesawat.

 

Pesawat yang kami tumpangi sangat besar. Badannya bagai dilumuri warna biru dari atasnya. Kokpit yang terihat sangat ‘berisi’ pun juga menarik perhatian kami. Gema dari suara mesin jet yang sangat bergemuruh, saat aku dan Kak Rendi memasuki pintu pesawat. Di dalam pesawatnya, terlihat juga beragam jenis kalangan orang-orang; ada yang membawa kamera dan peralatan; ada yang membawa tongkat dan topi hijau belang, pun juga yang membawa koper hitam formal yang berukuran kecil.

 

Saat pesawat mulai berangkat, Kak Rendi bergumam “It’s gon’ be a long flight”. Aku hanya menyengir tipis, Kak Rendi memang sangat menyukai bahasa asing dan sering mengucapkannya mau di rumah pun di perjalanan seperti ini. Wajar pula, Kak Rendi yang lebih sering mengunjungi negara-negara dan kebudayaan lain dibandingkan denganku. Tak lama kemudian, kami pun tertidur bersama banyak penumpang pesawat lainnya.

 

Saat bangun, tidak terasa sore hari sudah tiba. Melihat dari sisi jendela kapal, ada banyak gedung-gedung tinggi yang menjulang di sisi kota, penuh dengan cahaya petang dari setiap jendela. Kulihat kembali perangkat elektronik di sisi tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 di daerah yang kami tinggal, artinya di negara yang akan kami kunjungi, sudah pukul 18.00. Aku pun kembali melirik ke arah kota melalui jendela, yang langitnya sudah mulai menjadi oranye. Tidak lupa lagi kuambil perangkat gawai dan memotret keindahan alam tersebut.

 

Tiba-tiba suara pramugari memecah keheningan yang berlanjut beberapa waktu sebelumnya. “Flight 4041, ready to land 10 minutes soon on Beijing Airport”, begitulah ucapan pramugari yang kutangkap. Aku pun langsung membangunkan Rendi yang masih terlelap. Tak lama setelahnya pun kami sudah berada di darat kembali.

 

Aku ternyata melupakan sesuatu saat berada di pesawat, yaitu makan. Perutku baru keruyukan pada saat turun dari pesawat. Sehingga, aku pun langsung bergegas keluar, menemui udara padat kota malam hari setelah keluar dari pintu bandara. Pengurusan paspor dan visa sangatlah terasa lama bagiku. Pikirku, alangkah baiknya kalau makan di bagian bandara saja. Pada akhirnya kita makan bebek peking dengan harga 25 yuan. Bebek tersebut nikmat, rasa kecap dan juicy memenuhi pikiran saat kami balik ke penginapan.

 

Keesokan harinya, aku terbangun pada terbitnya fajar merah, diikuti sapaan hawa dingin dan akupun langsung bersiap-siap memakai jaket dan menyikat gigi, tidak menghiraukan Kak Rendi yang masih tidur lelap. Pikirku, memang sudah kebiasaan malas Kakak. Sehingga aku mengambil uang, tiket bus, dan langsung membangunkan Kak Rendi. Sehabis bus fajar menjemput di stasiun, sang pengemudi bus berkata sesuatu yang Kak Rendi dapat terjemahkan. Katanya, perjalanan akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Seiring lama berjalannya waktu di bus, aku terus terpikir soal oleh-oleh yang bisa aku dapatkan, apalagi dari Tembok Besar. Sampai rencana-rencana kecil pun aku berpikir, saking terobsesi dengan oleh-oleh setiap kali liburan.

 

Pikiran membuatku tidak sadar sudah tiba di Tembok Besar. Saat turun, kulihat berbagai orang-orang dari kalangan berbeda-beda, semua berkerumun dan tampak berjalan kaki ke arah monumen. Sambil rileks sebentar, aku membeli oleh-oleh di bagian belakang monumen, oleh-oleh yang kudapatkan adalah gantungan kunci. Hari sudah menjelang siang, sehingga kubuka dan kusimpan jaketku di dalam tas kecil yang kubawa. Menaiki tangga, kerumunan sudah mulai sesak karena adanya penyempitan jalur. Di atas tembok, aku hanya bisa memotret pemandangan yang diberikan alam, kabut saja yang menghalanginya. Kupakai ilmu fotografi yang telah kupelajari sebelumnya sehingga menghasilkan foto yang luar biasa. Sebagian waktu kuhabiskan dengan Kakak mengobrol terkait pengalaman liburan selama ini.

 

Akhirnya, tidak terasa hari sudah siang. Akupun langsung turun, membeli oleh-oleh makanan, dan menaiki bus lagi. Hari ini terasa lelah, dari bangun pagi, perjalanan, hingga hawa yang sangat terik di siang hari. Di tengah perjalanan, kami berhenti di suatu tempat makan. Ada banyak makanan menarik disana, misalnya martabak khas disana, ayam panggang, nasi goreng, dan makanan modern lainnya seperti boba. Akhirnya aku pun kenyang sehingga tertidur saat menaiki bus. Sementara kakak, tidak seperti biasanya malah mengajak ngobrol salah satu penumpang lain, tidak malas seperti biasanya.

 

Hari-hari berikutnya dipenuhi kunjungan ke Kota Terlarang, lapang Tiananmen, pantai di bagian timur, dan juga suatu kuil/pura lokal yang populer. Tidak terasa sudah hari terakhir ketika ingin berangkat menuju bandara. Saat aku mengecek koper di bus menuju sana, saya tiba-tiba teringat soal oleh-oleh. Oleh-oleh yang biasanya saya utamakan untuk beli, kok tiba-tiba tidak ada? Jangan-jangan ketinggalan di penginapan nih! Aku pun langsung panik dan kaget setengah mati, meskipun kakak di sampingku hanya cuek, mengetahui apa yang terjadi. Tidak terbayang beberapa hari sebelumnya sibuk mencari oleh-oleh, yang seketika hilang saat dibawa pulang. Terutama sebagai peminat oleh-oleh, pastinya aku sedih sekali.

 

Aku hanya bisa menggerutu dan cemberut selama di bus, tidak ingin berpikir solusi akan bagaimana.  Hingga suatu saat Kak Rendi berkata, “santai aja dan berpikirlah dengan kritis”, maka aku jadi kepikiran untuk menelepon pemilik penginapan. Aku hanya ingin barang itu sampai, meskipun biaya tambahan ada. Pemilik penginapan dimana sebelumnya kami menginap pun juga mencari solusi yang cerdas. Karena kalem, beliau pun menyarankan untuk dikirim melalui paket ke Indonesia saja. Oke deh, akhirnya aku pun santai.

 

Namun muncullah masalah baru. Di perjalanan menuju bandara, ada kemacetan yang besar, menyebar di seluruh jalanan. Sehingga aku juga khawatir, pesawat berangkat dahulu sebelum kami sampai. Kali ini, aku langsung mencari solusi. Tidak panik duluan. Tetapi bagaimanapun juga, sepertinya masalah kemacetan ini bagaikan tidak mungkin untuk diatasi. Akhirnya, Kak Rendi dan aku juga pasrah saja.

 

Tiba di bandara, seperti sudah telat untuk menyusul pesawat tersebut. Tetapi jadwal berkata lain, pada pengumuman ternyata semua penerbangan ditunda 30 menit. Hal tersebut dikarenakan beberapa kondisi, salah satunya adalah kemacetan besar di ibukota tadi. Perasaan lega menyelimuti setiap orang yang terkena macet tadi, seusatu yang belum pernah aku lihat. Terlihat dari gestur tubuh dan reaksi, orang-orang yang masuk seakan-akan panik tetapi setelah ada pengumuman mereka lebih kalem.

Tidak terasa istirahatnya hanya sebentar, karena muncullah pengumuman pesawat yang akan kami tumpangi, siap untuk ditumpangi. Di pesawat, aku bermain gawai saja, meskipun khawatir akan oleh-oleh yang dipaket tersebut, jangan-jangan tidak sampai. Setibanya di Indonesia, tepatnya di ibukota aku langsung pulang ke rumah, menyapa anggota keluarga yang lainnya, dan tidur seketika. Esoknya, belum sempat beberes sudah ada dengung bel. Rupaya paket oleh-oleh tersebut yang sampai, saking semangatnya berasumsi hingga tak sadar itu hanya seorang tukang bakso. Siangnya, paket barulah datang, serta juga ada titipan salam dari pemilik penginapan.

 

Meskipun ada banyak masalah, tetapi pasti dapat ditemukan solusi. Tidak mungkin tidak ada masalah, tetapi yang ada adalah memperbaiki masalah tersebut terus menerus. Kita tidak boleh pasrah saja, tetapi harus berfikir secara sadar untuk mengatasinya. Rantai kehidupan selalu berpola seperti ini, selalu ada masalah baru, tetapi harus diatasi

 

Sekian dan terimakasih telah membaca, mohon maaf jika kurang optimal mungkin dalam segi cerita.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6, 2020

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.