Bumi Manusia: Masa Muda Tempo Dulu

Judul Resensi: Bumi Manusia: Masa Muda Tempo Dulu

8537262900?profile=RESIZE_400x

Ditulis oleh: Yasmin.R

 

Tahun Rilis Film    : 2019

Rating usia        : 17+

Genre            : Drama/Drama Sejarah

Rumah Produksi    : Falcon Pictures

Sutradara        : Hanung Bramantyo

Pemeran        : Mawar Eva de Jongh (Annelies Mellema), Iqbaal Ramadhan (Minke), Ine Febriyanti (Nyai Ontosoroh), Jerome Kurnia (Robert Suurhof), Giorgino Abraham (Robert Mellema).

Durasi        : 181 menit



Pembuka

Sekitar 2 minggu lalu, aku diminta untuk menonton film Bumi Manusia di pelajaran Bahasa Indonesia. Ini adalah kali kedua aku menonton film Bumi Manusia, karena sebelumnya aku sudah pernah menonton saat filmnya baru ditayangkan. Saat aku menonton kemarin, rasanya masih saja sangat seru, mungkin karena memang ada beberapa adegan yang aku sudah lupa. Namun dengan aku menonton ulang, aku merasa sedikit lebih mengerti tentang filmnya dibandingkan saat pertama kali menonton. Saat pertama kali menonton, aku merasa kesulitan memahami bagaimana alur ceritanya dan apa pesan dibalik filmnya.



Sinopsis Film

Bumi Manusia adalah sebuah film yang mengisahkan tentang seorang pemuda Jawa bernama Minke, ia memperjuangkan Jawa dari ketidakadilan orang-orang Belanda. Walaupun Minke seorang Jawa, namun Minke bersekolah di HBS yang notabenenya adalah sekolah untuk anak-anak keturunan Eropa, khususnya Belanda atau orang-orang Indo yang memiliki keturunan atau golongan tinggi. Suatu hari Minke diajak Robert Suurhof pergi ke Wonokromo untuk bertemu seorang teman, lalu di sana ia bertemu dengan perempuan keturunan Belanda dan pribumi, bernama Annelies Mellema. Saat itu ia merasa jatuh cinta, dengan paras cantik dan anggun seorang Annelies Mellema. 

8537264890?profile=RESIZE_710x

Sifat Annelies sangat amat berbeda dengan sang kakak, Robert Mellema sangat mengejutkan.Annelies yang baik hati juga ramah dan tidak malu untuk mengatakan bahwa ia seorang pribumi padahal berwajah seorang Belanda, berbeda dengan Robert Mellema yang sombong, dan merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari para pribumi hanya karena memiliki darah keturunan Belanda. Di sana Minke bertemu dengan sosok yang hebat, Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh adalah seorang istri simpanan seorang Belanda yang berada di golongan tinggi atau terpandang, Tuan Mellema, itu bagaimana orang-orang memanggilnya. 

 

Ibu dari Annelies Mellema itu mengalami banyak kesulitan karena predikat seorang “Nyai” yang ia dapatkan sebagai seorang istri simpanan, karena itu juga ia harus mendapatkan banyak ketidakadilan. Di kediaman keluarga Mellema, Minke juga melihat bagaimana seorang kepala keluarga yang jarang berada di rumah dan bagaimana seorang ibu dan anak perempuan harus bekerja untuk kehidupan keluarga. Hingga suatu hari keluarga Mellema mendapatkan banyak permasalahan, sehingga akhirnya Annelies harus pergi ke Belanda karena Annelies Mellema dianggap masih di bawah umur oleh kejaksaan Belanda meski ia sudah menikah dengan Minke Nyai Ontosoroh juga tidak memiliki hak asuh terhadap Annelies karena pernikahannya dengan Herman Mellema dianggap tidak sah.

8537265879?profile=RESIZE_710x

Ulasan Film

Film Bumi Manusia adalah film yang menceritakan tentang perjuangan seorang pemuda Jawa yang memperjuangkan keadilan untuk bangsanya. Di film ini kita diajak untuk masuk ke dalam filmnya, seperti seolah-olah kita ikut merasakan segala macam hal yang terjadi. Sebagai remaja, menurut aku wajib menonton film Bumi Manusia, supaya tahu bagaimana kondisi kehidupan tempo dulu, karena di film ini cukup tergambarkan bagaimana sulitnya kehidupan zaman dulu, bagaimana kita harus berjuang untuk keadilan. Film ini juga mengajarkan apa artinya saling menghargai, dan mengajarkan bahwa berjuang itu tidak harus selalu berakhir dengan kata ‘menang’. 

 

Suasana filmnya terasa seperti nyata dan hidup, karena saat adegan sedih kita seperti ikut terbawa suasana sedih, lalu saat senang kita jadi ikut terbawa senang. Objek-objek nya juga seperti benar-benar ada di tahun 1900-an jadi terlihat nyata. Setiap pemainnya sangat mendalami peran, bicara bahasa Belandanya pun terlihat alami dan lancar. Untuk pemerannya cukup sesuai ekspektasi, apalagi peran Ine Febriyanti yang menurut aku sangat cocok dengan sosok Nyai Ontosoroh yang memiliki aura tersendiri. Oh iya, selain itu pemeran “Darsam” di film ini juga gak kalah keren, tampang gagah dan menyeramkan seorang pendekar. 

8537267053?profile=RESIZE_710x

Yang aku sukai dari film Bumi Manusia yaitu, pesan-pesan moralnya cukup tersampaikan, lalu dengan alur filmnya naik turun, bisa senang namun tiba-tiba ada saja hal yang terjadi dan suasana menjadi sedih atau muram. Aku juga suka dengan suasana 1900-an nya terasa sangat nyata seperti benar-benar ada disana dan bagaimana semua tokoh berbahasa/berbicara bahasa Belanda dan Jawa menjadi satu. Namun, walaupun film ini sangat bagus untuk ditonton ada juga adegan yang mungkin kurang pantas untuk dilihat oleh anak di bawah umur, ada juga beberapa bagian adegan yang sedikit sulit untuk dipahami sehingga bisa saja penyampaian pesannya kurang tersampaikan. Selain itu menurut opini pribadiku seorang Iqbaal Ramadhan sedikit kurang cocok memerankan Minke di film karena terlihat sedikit terlalu muda dari peran yang seharusnya, tapi walaupun begitu peran Iqbaal di film juga sangat bagus, dari bicara Belanda nya terlihat sangat alami dan jelas sampai bagaimana dia menyampaikan emosinya. 

8537266894?profile=RESIZE_584x

Penutup/Simpulan

Menurut aku film Bumi Manusia cocok untuk ditonton oleh anak remaja dan cocok ditonton oleh orang yang suka dengan sejarah. Banyak sekali pesan moral yang kita dapatkan setelah menonton. Suasana 1900-an nya pun membuat kita seakan ikut masuk ke dalamnya.



Rating/nilai Film Secara Keseluruhan: 9/10.

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa