85609-poster-film-bumi-manusia-dok-falcon-pictures.png

Tahun Rilis Film : 15 Agustus, 2019 (Indonesia)

Rating usia :17+

Genre :Drama, Novel Sejarah, Fiksi Sejarah

Rumah Produksi :PT Falcon

Sutradara :Hanung Bramantyo

Pemeran :Mawar Eva De Jongh, Iqbaal Ramadhan, Ine Febriyanti , Jerome Kurnia, Giorgino Abraham

Durasi : 3 jam 1 menit

 

Pembuka

 

Bumi Manusia menceritakan tentang seseorang Pribumi bernama Minke yang jatuh cinta, di zaman kolonial. Film ini diadaptasi kan dari buku yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Film ini cocok ditonton anak kalangan remaja, karena menceritakan banyak tentang perbedaan ras di zaman tersebut. 

unknown.png

Sinopsis Film

 

Film ini menceritakan tentang seorang pribumi bernama Minke yang jatuh cinta kepada perempuan bernama Annelies setengah pribumi, setengah Belanda, di zaman Kolonial. Di zaman tersebut orang-orang pribumi dianggap kelas rendahan. Hubungan Minke dan Annelies mendapatkan penolakan dari beberapa pihak, karena Ibunya Annelies, Nyai Ontosoroh adalah orang pribumi.

 

Ulasan Film

 

Film ini mempunyai cerita yang dalam dan kompleks, film ini menjelaskan ceritanya dengan baik. Film ini dibandingkan dengan bukunya lebih mudah dipahami ceritanya, tetapi tidak sedetail bukunya. Buku Bumi Manusia menggunakan bahasa yang lebih kompleks membuatnya sulit dipahami oleh orang-orang. Tetapi dengan bahasa buku tersebut Bumi Manusia bisa menceritakannya dengan detail yang tidak dirasakan di filmnya. Menurutku kita bisa membaca bukunya dahulu, karena jiwa ceritanya berada di buku, setelah membaca bukunya kita bisa menonton filmnya. Untuk karakternya menurutku kurang cocok beberapa pemainnya salah satunya Iqbaal sebagai Minke kurang ada kemiripan. Saya paham bahwa Iqbaal dipilih untuk menarik perhatian generasi milenial, tetapi film ini diceritakan di zaman kolonial, dan Iqbaal mempunyai penampilan fisik lebih modern, dan saya belum menangkap jiwa dan sosok Minke di film Bumi Manusia. Karakter yang menurutku sudah bagus adalah Nyai Ontosoroh. Kita bisa melihat jiwa, dan ekspresi Nyai Ontosoroh yang dimainkan oleh Ine Febriyanti. Visual film ini dengan tepat menggambarkan latar belakang tempat dan waktu kisah Bumi Manusia, menurutku gedung-gedung, dan properti lainnya sudah membuatnya mempunyai rasa seperti mereka sedang berada di zaman kolonial, propertinya sudah menggambarkan suasana tersebut. Tetapi yang aku tidak suka adalah koreksi warna terlalu tajam dan terkadang membuatnya tidak enak dilihat dan berkesan terlalu intens untuk dipandang santai. Selama aku menonton film tersebut tidak ada CGI buruk yang terlihat di film, semuanya dibuat dengan baik. Banyak orang yang juga agak skeptis saat melihat durasi film 3 jam ini, biasanya film bioskop akan mempunyai durasi rata-rata sekitar 90 menit sampai 2 jam, sedangkan film ini menayangkan durasi 3 jam. Tetapi menurutku mereka menggunakan waktunya dengan baik, bahkan ada beberapa orang yang bilang bahwa itu kurang. Tetapi menurutku durasi 3 jam sudah cukup untuk mengantarkan cerita. Untuk akhirnyanya, menurutku sangat menarik, karena ku kira akhirnya bakal akhir yang menyenangkan, ternyata aku terkejut karena akhir film bumi manusia adalah yang sedih. Dan disana menurutku adalah momen terbaik dari film Bumi Manusia. Setelah itu aku perasaan yang aneh bukan sedih dan bukan senang, tetapi lebih ke rasa putus asa. Menurutku ini salah satu ending terbaik dari film-film yang kutonton.

unknown.png

Penutup/Simpulan

 

Kesimpulannya film Bumi Manusia mempunyai cerita yang legendaris, dan telah ditampilkan di layar dengan baik. Aku merekomendasikan film ini untuk ditonton bersama teman-teman atau keluarga.


Rating/nilai Film Secara Keseluruhan: 8.5/10

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa