Bumi Manusia: Film dengan Ending yang Bikin Resah.

Ditulis oleh:Karel Knoch


Hasil gambar untuk film bumi manusia


Tahun Rilis Film :2019

Rating usia :Lulus sensor 17+

Genre :Drama sejarah.

Rumah Produksi :Falcon Picture

Sutradara :Hanung Bramantyo

Pemeran :
Iqbal Ramadhan sebagai Minke
Mawar Eva de Jongh sebagai Annelies Mellema
Sha Ine Febriyanti sebagai Ontosoroh/Sanikem
Amanda Khairunnisa sebagai Sanikem muda
Giorgino Abraham sebagai Robert Mellema
Bryan Domani sebagai Jan Dapperste/Panji Darman
Jerome Kurnia sebagai Robert Suurhof
Donny Damara sebagai Bupati B, ayah Minke
Ayu Laksmi sebagai Ibu Minke

Dewi Irawan sebagai Mevrouw Telinga

Durasi : 3 Jam 1 Menit



Pembuka

 

Halo, ini adalah Resensi film Bumi Manusia yang saya buat.  Sinopsis film ini hanya pemahaman yang saya dapat dari menonton film pertama kali, dan hanya sekali menonton jadi wajar jika ada bagian-bagian yang saya lupakan karena saya sudah lewat beberapa minggu setelah menonton film itu dan membuat resensi ini.

 

Sinopsis Film

 

Film ini mengambil waktu di era kolonial, di masa-masa sulit bagi pribumi. Film ini memiliki karakter utama bernama Minke seorang pribumi, anak dari kepala daerah.
Minke adalah pribumi yang disekolahkan di sekolah orang Eropa, ia tinggal di pondok sederhana. Suatu saat Minke dan temannya Robert pergi ke rumah Nyai Ontosoroh yang bernama Boerderij Buitenzorg


Saat Minke tiba, ia bertemu seorang Nyai yang ia anggap sangat hebat karena bisa mempekerjakan banyak orang dan mengatur ekonomi sendirian. Ia juga bertemu dan jatuh cinta dengan anaknya Nyai Ontosoroh yang bernama Annelies Mellema.
Ia juga bertemu dengan kakaknya Annelies yang namanya sama dengan temannya yaitu Robert Mellema. Selain nama mereka sama, mereka juga sama-sama penikmat pertandingan sepak bola. 


Annelies mengajak Minke untuk melihat-lihat rumahnya dan halaman belakang rumahnya yang sangat besar, ada hutan, peternakan, sawah dan lain-lain. Suatu saat Minke mencoba untuk mencium Annelies, ia sudah berhasil mencium Annelies lalu ia sempat panik karena Annelies sempat melarikan diri, tetapi ia sudah kembali tenang karena ia bukannya kesal karena di cium tapi karena ia malu dan melarikan diri ke kamarnya.


Lalu  tiba saat nya waktu untuk makan malam, itu adalah saat pertama kali nya Minke bertemu dengan ayahnya Annelies yang bernama Herman Mellema atau dipanggil Tuan Mellema. Minke sangat tidak beruntung karena ia dibentak saat pertama kali Herman bertemu Minke, tapi untung ada Nyai dan Annelies yang membela Minke. Robert Mellema dan Robert Suurhof bukannya membantu, mereka malah ikut meninggalkan ruang makan tanpa hormat. Sama-sama tidak ada sopan santunnya.


Karena kejadian itu, Minke memutuskan untuk pulang, saat ia mau naik ke dokar untuk pulang tiba-tiba ia dipanggil oleh Nyai dan ditanyai tentang apakah benar ia mencium Annelies. Lalu Minke menjadi panik dan saat itu juga ia disuruh mencium kembali Annelies untuk membuktikan bahwa ia benar-benar menciumnya. 


Saat perjalanan pulang ia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
Singkat cerita, Minke sudah 2 minggu sejak bertamu ke rumah Annelies, ia selalu memikirkan kejadian-kejadian yang terjadi selama ia di rumah itu. Suatu saat ia dapat surat dari Nyai Ontosoroh, tetapi ia kurang mengerti isi dari surat itu, kurang yakin dengan isinya.
Jadi dia meminta bantuan ke temannya yang bernama Jean Marais atau yang dipanggil Mevrouw Telinga. Saat ia bertanya tentang suratnya banyak hal yang terjadi dan ada suatu hal yang membuat Minke semakin paham tentang kehidupan temannya.


Kemudian Minke jadi sering ke rumah Annelies, dan suatu saat Minke, Nyai dan Annelies ke suatu tempat yang sering didatangi Herman Mellema. Di tempat itu ada Herman Mellema dan Robert Mellema. Sesuatu hal mengerikan terjadi di sana dan Darsam ikut campur dan sempat terluka. Lalu karena kasus itu keluarga Mellema jadi terlibat kasus kepolisian sehingga Nyai, Annelies, dan Minke jadi sering ke kantor polisi untuk urusan kasus itu.
Singkat cerita kasus selesai dan akhirnya mereka dapat hidup tenang. Selama ini Minke masih sekolah di ELS . Suatu saat ia lulus dari sekolahnya dan mendapat nilai tertinggi.
Pas sekali Minke dan Annelies mau menikah, jadi mereka mengundang teman-teman kelasnya untuk datang ke pernikahannya. Lalu tiba lah saatnya ketika mereka menikah. Lalu terlewat beberapa hari setelah menikah tiba-tiba ada kabar dari keluarga Mellema dari anak nya Herman dari istri yang lain bahwa Annelies harus dibawa ke Eropa. Dan tibalah saat nya ketika Minke dan keluarga di Hindia Belanda harus berpisah dengan Annelies.


Ulasan Film

 

Untuk film nya menurutku itu adalah salah satu dari film era kolonial yang menurutku bagus. Aku sudah nonton beberapa film yang mengambil era kolonial sebagai waktunya.. Hal yang aku suka dari film ini adalah suasana dari kejadian-kejadian yang terjadi di film terlihat seperti asli. Ditambah lagi pemerannya yang lumayan bagus. Untuk perbandingan film dan novel, kira-kira 10 halaman di novel itu setara dengan 2 menit di film tersebut. Di film tidak terlalu diceritakan hal-hal detail tetapi walaupun tidak diceritakan hal detailnya, beberapa orang tetap akan dapat cerita dari filmnya itu. 

Hal yang lumayan mengecewakan aku adalah rumah Nyai atau Boerderij Buitenzorg.
Saat membaca novelnya saya kira rumah mewah itu tembok dan banyak hal di rumahnya berwarna cerah, dan memiliki ruangan-ruangan yang luas. Ternyata di film tersebut suasananya lebih gelap dan ruangan-ruangannya jauh lebih sempit dari yang aku bayangkan saat membaca novel Bumi Manusia. Lalu setelah rumahnya, aku juga memikirkan bahwa halaman belakang rumahnya lebih keren dari yang di film. Ternyata semuanya lebih kecil dan suasananya terlalu sempit menurut aku. Tapi sepertinya memang begitu yang dipikirkan si penulis.
Hasil gambar untuk boerderij buitenzorg


Satu hal lagi yang lumayan aku kecewa. Di buku dituliskan bahwa Minke dan Mevrouw Telinga tinggal di pemondokan. Hal yang terbayangkan oleh ku adalah, rumah ini tidak bertingkat. Jadi ruangan-ruangannya tidak menyambung lebih seperti puri, aku tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya pokoknya bangunan ini seperti penginapan yang luas dan memiliki 1 bangunan utama, pokoknya tempat yang indah. 

 

Walaupun banyak hal yang membuatku kecewa dari setting tempat di film tersebut aku tidak kecewa sama sekali dengan cara akting orang-orang di film. Aku suka saat mereka berbicara dengan bahasa mereka terasa seperti keadaan yang sebenarnya terjadi. Saat menonton film ini aku terasa seperti masuk ke era tersebut. 


Rating yang aku berikan adalah 7/10 karena film Bumi Manusia tidak mengubah cerita aslinya dan detail yang tidak diceritakan tidak terlalu penting. 







Rating/nilai Film Secara Keseluruhan:
7-10
Hasil gambar untuk boerderij buitenzorg

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6, 2020

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.