Bersentuhan (Kembali) dengan Bumi

 

5274408464?profile=RESIZE_400x

Tulisan kali ini akan mengoneksikan beberapa hal yang kebetulan jadi perhatian saya selama #dirumahaja. Pemicunya adalah beberapa video Sadhguru yang mengajak kita untuk experience life. Hidup dan kehidupan di luar diri kita. 

Salah satu pandangan spiritualitas yang mendasar adalah bahwa hidup ini adalah satu - there is only one life - walaupun secara badaniah kita seakan terpisah-pisah. Pandangan ini berangkat dari pemahaman tentang badan kosmik (cosmic body) bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini - jasad seluruh mahluk hidup di alam semesta ini, termasuk badan kita masing-masing dibangun dari apa yang ada di alam semesta ini. Kata Sadhguru, secara sederhana badan kita adalah hanya kepingan dari planet ini. Badan kita bertumbuh dari makanan kita - yang semuanya adalah bagian dari planet ini. Dalam prosesnya ada inteligensi (kecerdasan) luar biasa yang bisa mengubah sebuah apel, sepotong roti, atau apapun yang kita makan menjadi mekanisme tubuh yang sangat kompleks - hanya dalam waktu beberapa jam saja. Kemudian setelah kita mati - jasad kita akan kembali ke tanah dan kembali jadi bagian dari planet ini. 

Inteligensi yang sama juga hadir di setiap jenis makhluk hidup - setidaknya di atas planet bumi ini. Dalam upaya menghayati ini, saya mencoba berkebun - menanam sayur. Dan menaruh perhatian sepenuhnya terhadap proses kehidupan dari biji kecil - menjadi sebentuk kehidupan yang luar biasa.

Kesadaran tentang ini dapat mengubah persepsi kita secara mendasar. Termasuk bagaimana kita perlu mengasihi planet ini - karena secara harfiah, kita adalah bagian daripadanya.  

Dalam proses belajar berkebun ini saya teringat pengalaman saya di Bumi Langit Institute, Imogiri sekitar 6 tahun yang lalu di mana saya mendapatkan cerita tentang bagaimana tanah (soil) adalah elemen fundamental yang perlu dikenali secara mendalam. Saat kita ingin menanam sesuatu, tanah harus menjadi sesuatu yang hidup. Tanah yang mati (kering, gersang) secara harfiah memang tidak mampu menyokong kehidupan. Hal itulah yang pertama dilakukan teman-teman di Bumi Langit Institute saat mengelola tempat itu melalui konsep pertanian Perma Kultur. Pertama-tama mereka berusaha mengembalikan kehidupan ke dalam tanah yang sebelumnya kering dan berbatu - kondisi yang khas ditemukan di perbukitan Imogiri. Jadi tanah adalah salah satu elemen terpenting yang perlu mendapatkan perhatian. Elemen berikutnya adalah air. Keduanya, tanah dan air adalah elemen mendasar kehidupan, selain itu ada udara, api dan ruang. Jadi lima elemen mendasar untuk eksistensi segala sesuatu terdiri dari ke lima elemen tersebut (earth, water, fire, air and space) - termasuk di dalam tubuh kita. Dalam ranah pengetahuan Yoga (Yogic Sciences), memelihara ke lima elemen tersebut di dalam tubuh kita disebut sebagai Buttha Shudhi

Kita perlu memahami hal-hal tersebut dan kaitannya satu sama lain. Hal itulah yang sedang saya coba lakukan. 

Dalam pengalaman itu saya berusaha belajar tentang tanah... mengamati warnanya, aromanya, memahami teksturnya, bagaimana rasanya di dalam genggaman kita. Kenapa ada tanah yang subur dan tanah yang tidak... Pada saat yang sama saya juga mengamati betul pertumbuhan tanaman yang sedang bertumbuh... berusaha mengamati betul... paying absolute attention karena tanaman ini adalah juga sebuah dimensi kehidupan dengan segala prosesnya - sama seperti apa yang terjadi di dalam tubuh kita. Melihat bahwa tanaman kecil adalah sebuah keajaiban eksistensial - seperti halnya hidup kita manusia.   

Video dari Sadhguru di bawah ini menggambarkan dengan jelas bagaimana sebetulnya koneksi antara manusia dan tanah - planet bumi, kemudian bagaimana kehidupan masyarakat modern - semakin menjauhkan (mendiskoneksi manusia dengan bumi). 

 

Mendengarkan paparan Sadhguru, saya diingatkan lagi tentang pentingnya bersentuhan dengan bumi. Mungkin kita baru sampai tahap tahu, tapi belum betul-betul paham. Video di atas menjelaskan secara utuh. Salah satunya disampaikan - bahwa kalau kita melakukan Earthing 30 menit sebelum kita makan, bagaimana badan kita mengambil manfaat dari apa yang kita makan juga akan sanget berbeda. 

Walaupun Semi Palar sudah cukup lama menerapkan kebiasaan bertelanjang kaki (klik di sini untuk posting tentang Earthing tahun 2013) - sepertinya kita belum benar-benar memahaminya). Karena belum betul-betul memahaminya, kita juga belum sepenuhnya menghayati saat kita mengalaminya.  

Dalam proses selanjutnya saya juga menemukan video dokumenter terkait Earthing - yang bercerita tentang kajian ilmiah dari apa yang disampaikan Sadhguru di atas ini. Secara ilmiah, Earthing sudah banyak dibuktikan manfaatnya. Earthing segera berdampak pada sirkulasi darah yang sangat besar pengaruhnya terhadap metabolisme tubuh manusia. Earthing terbukti mengatasi banyak masalah kesehatan - beberapa di antaranya sangat serius. Dalam situasi hari ini - di tengah pandemi COVID19, Earthing sangat bermanfaat karena meningkatkan imunitas tubuh secara signifikan. Dalam salah satu segmennya (menit 40), Deepak Chopra juga menjelaskan lebih jauh tentang konsep Badan Kosmik - bahwa planet bumi adalah bagian dari badan kosmik manusia - dan sebaliknya. Silakan saksikan videonya di bawah ini.  

Jadi, mari... bersentuhan kembali dengan bumi... 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • 😱😱😱 aku gk nyangka pengaruhnya sebesar itu. baiklaaah.. masukin sebagai kegiatan rutin #MumpungDiRumah 😌🙏🏼

  • Wah ini menarik sekali kak. Sangat menambah pandangan tentang tanah. Juga tentang earthing atau grounding yg juga sedang lebih rutin saya lakukan di masa pandemi ini. Karena kerterbatasan pemahaman, selama ini saya menggabungkan earthing/grounding dengan mindfulness. Jadi saya mencoba fokus pada semua rangsangan yg diterima kaki saya dari tanah, kerikil, batu, rumput, dll

  • Komentar pertama malah dari saya lagi... Hari ini saya menemukan lagi satu dokumenter berjudul The Grounded yang terkait dengan tulisan saya di atas ini... Silakan teman-teman dicermati, dihayati dan dicoba... Tidak ada salahnya...

     

This reply was deleted.

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.