AES41 Nusia Berkesadaran

Diceritakanlah sebuah negeri antah berantah bernama Imub, yang dihuni oleh makhluk bernama Nusia. Suatu masa Nusia yang hidup di Imub terkena wabah virus yang mematikan. Beberapa percaya dan beberapa mengabaikannya, sudah sampai dua generasi kehidupan wabahnya tak kunjung selesai.

Angka kematian Nusia meningkat pesat di suatu ketika, sayangnya tak dibarengi dwngan meningkatnya kesadaran para Nusia yang masih saja mengabaikan.

Di sebuah wilayah bagian barat Imub, bernama Erlong. Tinggalah keluarga Pipito yang sangat menjaga keluarganya dari wabah. Mereka menjaga kebersihan rumah, setiap pagi berjemur, makan bergizi, karena keluarga Pipito mempunyai seorang bayi.

Seorang anggota keluarga Sii yang tinggal disebelah rumah Pipito, ternyata terkena wabah virus. Pipito dilanda keresahan.

Apa hal yang membuat Pipito resah?

Konon katanya, salah seorang anggota keluarga Sii tersebut sudah terjangkit virus dari seminggu yang lalu. Tapi Sii baru mengabari keluarga Pipito pagi tadi. Pipito resah karena orang tersebut seminggu yang lalu masih terlihat keluar motor-motoran, membeli makanan, bahkan pergi membeli kue untuk merayakan ulang tahun anaknya di rumah bersama keluarga besar Sii. 

Pipito tak habis pikir… Kenapa dia yang terkena wabah virus bisa sewajar itu, merasa dia baik-baik saja. Bukankah dengan sikap cueknya itu bisa membahayakan orang-orang disekitarnya, termasuk keluarga Pipito…

Akhirnya, Pipito mengambil keputusan untuk membawa keluarganya menginap di rumah kerabat lain. Pipito resah karena dia memiliki seorang bayi. Pipito berpikir, biarlah dirinya saja yang waras diantara orang-orang yang begitu tak peduli pada sekitar bahkan pada dirinya sendiri.

Wabah virus yang melanda negeri Imub mungkin masih akan menghancurkan dan meluluhlantakan Imub. Sepertinya wabah akan datang dengan mutasi yang lebih hebat. Belum ada obatnya, kalaupun ada harganya pasti mahal.

Pipito semakin resah. Bagaimana bisa Nusia yang tinggal di negeri Imub ini sangat masa bodo terhadap wabah virus yang melanda. Pipito khawatir pada keluarganya, pada seorang bayi yang selalu ia dekap.

Pipito hanya bisa berharap, semoga wabah segera berakhir. Ia selalu berdoa agar wabah menjauh dari keluarganya, dan agar Nusia menjadi makhluk yang berkesadaran.

 

-Cerita ini diangkat dari kisah nyata-

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa