AES40 Slow Down! Enjoy More!

Seminggu ini saya sedang mencoba menghayati tentang menghadirkan diri secara utuh untuk masa sekarang (being present). Melihat situasi sekarang yang sedang tak terkendali, dunia kacau, banyak nyawa meninggal dunia karena pandemi ini. Akibatnya bukan hanya pada aspek ekonomi, namun sosial dan kemanusiaan.

 

Menjadi generasi yang merasakan hidup di dua masa, menjadi keseruan tersendiri untuk saya. Dengan kapasitas sekarang, saya sempat terpikir untuk kembali ke masa lalu. Dunia saya dulu aman tentram, masa Sekolah Dasar masih merasakan bermain di sungai. Sebuah kesenangan, pulang sekolah ganti baju dan bermain di sungai. Namun, dalam waktu beberapa tahun sungai tempat bermain sudah berwarna pekat dan dipenuhi sampah. Sungai itu menjadi buangan limbah industri tekstil di dekat rumah.

 

Dan kini, saya memasuki masa dimana semua sudah serba digital. Dunia modern yang menuntut manusianya bergelut dengan waktu, menjadi terburu-buru. Ironis memang, ketika komputerisasi dan digitalisasi diciptakan untuk memudahkan segala pekerjaan, namun malah menuntut kita untuk sibuk dan bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Hidup bergerak dengan begitu cepat sampai tanpa terasa waktu berlalu tanpa benar-benar kita menikmatinya.

 

Namun, bukan berarti kita tunduk pada situasi ini. Kita berhak memilih untuk diburu waktu atau bergerak lebih lambat dari dunia yang bergerak cepat ini dan masih dapat menikmatinya. Meluangkan waktu untuk menikmati udara pagi, sebelum masuk ke dunia dengan hiruk-pikuknya. Menikmati apapun yang dilakukan, menikmati alam, fokus bercengkrama dengan lawan bicara, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Alih-alih terhubung dengan handphone, laptop, tugas yang menanti, dan kesibukan lainnya.

 

Slowing down is a conscious choice, and not always an easy one. But it leads to a greater appreciation for life and a greater level of happiness.” -Zen Habit-

 

Untuk dapat menikmati hidup, berarti kita memilih untuk memperlambat hidup. Mungkin beberapa saran dari Zen Habit ini dapat kita lakukan;

 

  1. Melakukan lebih sedikit kegiatan. Fokus pada apa yang benar-benar penting, membuat list prioritas yang harus dilakukan.

  2. Hadir secara utuh untuk saat ini. Ketika kita teringat hal yang sudah lampau, atau bahkan memikirkan masa depan yang belum jelas, cobalah untuk menggiring pikiran kita kembali ke saat ini, pada apa yang sedang dilakukan, pada orang-orang yang sedang ada disekitar kita saat ini. Hal ini tidak mudah dilakukan, butuh latihan yang konsisten.

  3. Memutuskan hubungan. Ketika kita selalu terhubung dengan gadget, handphone, media sosial, terlalu banyak informasi yang masuk ke otak kita. Pikiran kita bisa jadi overload, sedikit-sedikit melihat pesan yang masuk, gadget addict. Putuskan sambungannya, bahkan jika perlu untuk waktu tertentu sebaiknya matikan perangkat seluler, putuskan diri dengan dunia luar, dan melakukan hal untuk diri sendiri. Waktu jeda atau waktu hening.

  4. Fokus pada orang-orang. Seringkali kita banyak mengobrol, diskusi, bersama beberapa orang. Tapi apakah kita benar-benar terhubung dengan mereka? Sepertinya kebanyakan dari kita mengobrol tapi pikiran sedang menelusuri isi dalam telepon genggam kita. Kita tidak sepenuhnya hadir dan terhubung bersama orang-orang. Ketika sedang bersama orang lain, ada baiknya jauhkan diri dari gadget, dan fokus pada apa yang dibicarakan, menatap mata lawan bicara. Ini berarti kita benar-benar terhubung dengan mereka lebih daripada hanya sekedar kehadiran kita diantara mereka.

  5. Kembali ke alam. Jauhkan gadget, coba hirup udara segar, melihat hijaunya dedaunan, menangkap suara-suara alam. Bahkan sebaiknya kita lebih banyak melakukan aktifitas diluar ruangan, berjalan, yoga, atau meditasi.

  6. Perlambat kegiatan. Seperti saat makan, nikmati aromanya, nikmati tekstur makanannya, tidak perlu terburu-buru. Mencuci piring, mencuci baju, dan lainnya. Nikmati setiap prosesnya. Seperti yang pernah Kak Andy katakan, mencuci piring dengan air yang sangat pelan, menikmatinya.

  7. Lakukan satu tugas utama. Jika memang sedang banyak pekerjaan dan menuntun kita untuk melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, waktu jeda sangat dianjurkan.

  8. Olah napas. Ketika kita menemui situasi yang membuat stress dengan semua kesibukan, jeda, dan menarik napas. Nikmati setiap hembusan napas yang mengalir kedalam tubuh, akan membuat rileks dan membawa kita ke saat ini.

 

Hiduplah untuk saat ini, fokus pada apa yang dilakukan, dan nikmati setiap prosesnya.



Salam,

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Suka banget baca esai yang ini, saya pikir ini bentuk kesadaran yang penting banget, bahwa kita bergerak terlalu cepat dan memahami hal-hal yang bisa dilakukan untuk memperlambat. Kalau kita ga sadar terlalu cepat kan ya bahaya, kalo lagi jalan bisa keserimpet, kalo lagi sepedahan bisa kejungkel, kalo bawa mobil bisa nyenggol orang-orang di jalanan... Makasih kak Fifin mudah2an kita bisa mempraktikannya ya. 

    https://semipalar.ning.com/blog/aes054-mari-segera-memperlambat?edi...

    AES054 Mari Segera Memperlambat
    Dari hari ke hari, membaca dan menulis di AES semakin seru, karena kok ternyata apa yang dituangkan dalam tulisan kita bisa jadi sambung menyambung.…
    • bener pisan kak andy... jd terhubung ya... 

      salah satu bentuk kesadaran tea,, learn to see and realize that everything connect to each other (leonardo da vinci) tea... 

      mungkin ini jg bentuk kesadaran yg sdg terolah dlm diri sy jg kak @andy 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa