AES32 Desa Rasa Kota

AES32 Desa Rasa Kota

Tiba-tiba teringat kampung halaman Bapak… Situraja, Sumedang…

Orangtuaku mulai pindah ke desa sekitar tahun 2005 silam, aku tidak ikut pindah karena kupikir hidup di desa pasti membosankan. Kedua adikku pindah sekolah disana, hanya aku yang tetap kuliah di Bandung.

Sejak SD aku sering main kesana, Kakek dan Nenek masih ada. Bermain di pematang sawah, mengambil petai, alpukat, dan makanan lainnya di kebun sudah biasa. Jalan kaki dari rumah yang jaraknya berkilo-kilo meter, sama sekali tidak terasa lelah. Mungkin dulu suasananya masih sangat asri, khas pedesaan. Sepanjang perjalanan melihat hamparan sawah, kalau bertemu orang lain saling menyapa.

Dirumah saja semua bahan makanan tersedia, di depan, disamping, maupun di belakang rumah ada kebun, peternakan kecil, serta kolam ikan. Ada pohon rambutan, durian, nangka, mangga, ceremai, cecenet (ga tau nih bahasa Indonesianya apa), sawo, dan alpukat. Juga ada pohon singkong, tomat, cabai, kangkung, dan bayam. Kolam ikan tentu penuh, ada ikan mas bahkan ikan mujair dan lele juga tersedia. Hewan ternak, ayam, domba, kelinci, dan bebek. Ketahanan pangannya luar biasa ya… Bahkan kalau kami bingung mau makan apa, daun dan bunga pohon nangka pun bisa diolah menjadi makanan.

Setiap pagi kami menghangatkan badan duduk di depan perapian, orang desa bilang namanya "siduru" sambil menikmati surabi dan tahu Sumedang yang krenyess. Kakek hobinya melinting tembakau, dan Nenek pasti setiap hari tak pernah absen membuat 'leupeut'.

Namun, terakhir aku berkunjung kesana tahun 2016 lalu, semua sudah tak lagi sama. Desaku sudah ingin jadi kota. Di depan rumah, jalan sudah dirapikan. Tak ada lagi delman, sudah sangat jarang pejalan kaki, sekarang ojek jadi transportasi utama. Apalagi yang keluarganya tinggal di kota, ketika pulang ke Sumedang mereka pasti membawa mobilnya. Keluarga disana masih berpandangan bahwa sukses itu ketika anak-anak mereka bekerja di kota.

Jalan menuju sawah sudah bukan lagi tanah, dan sudah bisa dilalui mobil. Sawah pinggir jalan sudah jadi rumah. Kalau siang sudah sama panasnya dan berdebu seperti Jakarta. Kolam ikan sudah mengering, sebagian sawah dan kebun juga sudah dijual.

Sekarang entah sudah bagaimana bentuk rupa rumah disana, semua sudah tak ada. Aku malah enggan pulang ke desa. Karena desaku sudah rasa kota.

Mungkin suatu saat nanti, aku akan rindu desaku lagi… Yang benar-benar desa… Jangan ingin jadi kota…


Salam,

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Nah, nambah satu lagi nih yang ingin hidup di desa. 🤩

    • nunggu Kak Andy, Pak Ahkam, Pak Jo buat Desa Smipa.... saya gabung.... (^.^)v

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa