AES31 Rambut Putih Pertamaku

AES31 Rambut Putih Pertamaku

Bulan depan, 7 tahun kesekian hidupku. Begitu banyak perubahan yang signifikan terjadi, namun kali ini aku sudah lebih siap menerimanya. Kerutan di wajah sudah mulai terlihat, lemak tubuh di beberapa bagian, belum lagi ukuran baju yang berubah dari S jadi L, termasuk rambut putih pertama. Ya… Aku menerima kalau diriku sudah tak lagi muda…

Teringat beberapa tahun kebelakang, ketika perubahan menghampiri dan aku menolaknya. Alhasil… Depresi…

Bukan hanya beberapa tahun kebelakang, seumur hidup aku belum pernah bisa menerima diri. Masih selalu menyalahkan, mengapa begini dan mengapa begitu. Menyalahkan siapapun, orangtua, bahkan Tuhan juga pernah ku salahkan atas hidupku. Tetapi, dari hati terdalam aku sangat menyalahkan diriku sendiri.

Pernah ada niat mengakhiri hidup? Jangan ditanya!! Tapi itu waktu masih muda, masih dalam masa pencarian.

Semesta berkata lain, mungkin ia ingin aku tetap hidup untuk mencari apa yang sebetulnya kucari. Minimal ketika akhir nanti, aku menerima diri ini dengan segala buruk dan baiknya, dan tanpa penyesalan. Semesta ingin aku berakhir dalam bahagia.

Aku selalu memandang diri ini negatif, karena ingatan itulah yang tertanam dalam benak ketika semua orang terdekatku mengatakan hal buruk tentangku. Bertahun-tahun aku hidup dalam ke-AKU-an yang tinggi, hanya ada AKU, hidup untuk AKU, oleh AKU. Hal ini membuat hubungan sosialku buruk, karena aku selalu menganggap tidak ada tulus untukku.

Sampai di satu titik, ketika aku sangat ingin menyerah. Tuhan memberiku pasangan, semesta memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan sosial dan menurunkan sedikit ke-AKU-an dalam diri. Aku jadi punya sudut pandang lain dalam melihat dunia. Setahun kemudian, Tuhan memberi karunia anak pertama. Dari sinilah semua dimulai, Postpartum Depression yang menghampiri menjadi titik balik kehidupan ini.

Masih hangat dalam ingatan, Teh Aisyah menjelaskan tentang “Valley of Despair”. Aku shock ketika hidupku berubah 180° setelah memiliki anak, selalu berusaha menolak diriku, frustasi karena tak bisa lari kemanapun. Hingga pada akhirnya aku sampai pada titik depresi, aku mulai mencari pertolongan. Beberapa kali konsultasi ke Psikolog, hati kecilku berbisik, “Segala jawaban obatnya ada dalam dirimu sendiri.

9216128878?profile=RESIZE_710x

Sejak itu aku mengakhiri sesi konsultasi, dan mencari webinar atau seminar Self healing. Meditasi, olah nafas, transfer energi sangat membantu pemulihan diri. Selama proses pemulihan, hanya satu kunci untuk benar-benar pulih, mencari kedalam diri, dan menerima segala situasi dan kondisi diri. Self acceptance

Seseorang pernah berkata, “Ketika kau terluka sangat dalam, dan berhasil menyembuhkannya, kelak kau akan menjadi manusia yang kuat.” 

Setelah ‘menerima’ diri, aku merasa jauh lebih baik dan lebih siap menghadapi dunia.

Jadi, sebetulnya rambut putih pertamaku ini menandakan diri yang sudah jauh lebih matang. (menolak tua) Aku menyimpan rambut putih pertamaku ini dalam buku harian, sebagai pengingat, doa, dan harapan. Semoga diri ini menjadi jauh lebih bijak dan lebih bajik.


Salam, 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Terima kasih banyak, Kak Fifin, sudah berbagi kisah hidup yang sangat personal di AES ini. 🙏 Semoga Smipa dapat menjadi support system bagi mental health kita semua. Mari kita saling dukung dan saling menguatkan.

    Btw, bulan depan itu 7x4 atau 7x5 -kah?

    • Bukan lebay curhat yaaa... semoga menginspirasi... benar, harus saling menguatkan...

      klo saya sebut shio, udah pasti bisa nebak ya.... wkwkwkkwkwk.... 

      yang penting jiwa selalu muda laaahhh... ya Pak Ahkam Nasution (^,^)v

    • Sangat menginspirasi, Kak Fifin. 

      Setuju, yang penting jiwa selalu muda...💪😎

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa