AES31 menular..

AES31 menular..

“Kita sendirilah yang menentukan atau membatasi kapasitas kita dalam membaca” (Jane Healy, Endangered Minds)

Bahasa adalah  fondasi dari banyak hal. Ketika bicara tentang bahasa, tidak sekadar bicara tentang pelajaran bahasa di kelas. Kemampuan bahasa menunjukkan diri seseorang. Dengan dasar kemampuan bahasa yang baik, seseorang bisa menjadi manusia pembelajar, mampu mengolah, mampu menghadirkan diri, punya kepekaan dan rasa yang terasah. Bagi yang sudah dewasa tentunya perlu mulai dari diri sendiri dulu. Cara termudah, cara pamungkas untuk membangun kemampuan berbahasa adalah dengan banyak membaca buku-buku yang tentunya bermutu.

Menurut Jane Healy, kalau iliterate adalah tidak adanya kemampuan membaca, maka aliterate adalah istilah untuk sindroma rendahnya minat baca. Orang yang bisa, tapi memilih untuk tidak membaca. Orang yang tidak menganggap membaca sebagai sumber kesenangan, lebih suka mencari informasi dari media audiovisual daripada tulisan. Sehingga biasanya hanya memperoleh informasi seadanya. Secara substansial jadinya tidak lebih baik daripada mereka yang belum mampu membaca.

Semakin sulit dengan tidak adanya keteladanan. Tengok orang dewasa di sekitar anak. Kalaupun ada yang membaca, bahan bacaannya biasanya tabloid atau koran. Survei terhadap mahasiswa keguruan mendapati cukup banyak responden yang mengaku tidak suka membaca. Kalaupun terdesak membuat tugas makalah, mereka cenderung mencari bahan bacaan yang pendek, “Google saja, beres!”. Bagaimana kelak literasi anak dan siswanya kalau minat baca gurunya demikian?

Salah seorang kakak beberapa tahun lalu pernah berbagi pengalamannya membangun kesukaan membaca di kelas 5. Ia mulai dengan memberi opsi lalu menyepakati bersama buku wajib baca yang akan dituntaskan. Meski sudah seluruh seri ia baca, ia sendiripun membaca kembali, di saat istirahat, ketika Jabawaskita. Awalnya baru beberapa anak yang mulai dengan semangat. Lalu ia bertanya kepada anak-anak ini, sejauh mana mereka sudah membaca. Akhirnya mereka saling bercerita tentang tokoh dan bagian kesukaan. Seru sekali ketika membahas bagian-bagian yang lucu. Gelak tawa, keseruan bercerita ini kemudian membangkitkan rasa ingin tahu mereka yang belum mulai. “Duh aku belum sampai bagian itu…!”, “Waaa.. aku mau baca yang itu ah..” Semangat, rasa ingin tahu, kesukaan itu segera menular bagai virus pandemi. Tak lama hampir seluruh kelas membaca serial buku wajib yang memang seru dan kocak tersebut. (btw, serial Anak Mamaknya Tere Liye memang bagus..) Sebuah pencapaian besar bagi si kakak dan semua anak-anak di kelompoknya. Selalu bahagia, adem dan haru ketika mendengar pengalaman-pengalaman mendalam seperti ini di kelas..

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa