AES30 gambreng..

AES30 gambreng..

Hom Pim Pah Alaium.. Gambreng.. (Dari Tuhan, kembali ke Tuhan.. mari bermain.. )

Tiap tahun kami di Smipa mencari topik yang menarik untuk nama kelompok. Tahun ini kesepakatan jatuh pada permainan tradisional. Sesuai situasi 'di rumah saja' saat ini, mudah-mudahan bisa menginspirasi kegiatan bersama keluarga. Spiritnya, menggalakkan kembali permainan lokal yang sebenarnya jauh lebih seru, lebih kreatif, dan punya nilai-nilai luhur. Yang mungkin memang sudah semakin jauh dari keseharian, tergeser oleh mainan2 ‘made in.. ‘ dan ikut perkembangan teknologi yang mendunia.

Diawali dengan mencari referensi dari berbagai sumber, kakak-kakak setiap kelompok kemudian membahas dan bersama anak-anak memutuskan nama salah satu permainan yang sesuai untuk kelompok mereka. Salah satu sumber referensi handal untuk bidang ini tentunya adalah kang Zaini Alif, penggagas komunitas Hong, pelestari permainan tradisional.

Bermain di alam ternyata sudah menjadi bagian dari keseharian beliau sejak kecil di desa. Ketika kuliah di Bandung, yang dicari ya tempat bermain. Permainan tradisional tetap dan terus menjadi fokusnya. Ia meneliti mulai dari permainan-permainan di daerah tatar Sunda, lalu ke berbagai daerah lain di Indonesia, hingga ke berbagai negara.

Menarik sekali saat mendengar wawasan dan pengetahuannya mengenai permainan tradisional; konsep, filosofi, nilai / makna, manfaat, hingga ke cara bermain. Menurut kang Zaini, anak-anak kalau bermain itu selalu serius, ga main-main, sungguh-sungguh ikut aturan. Iya banget ya.. coba perhatikan anak saat bermain, sepenuh hati.. Orang dewasa saat harus serius malah main-main, ga bisa ikut aturan. Karena manusia pada dasarnya makhluk bermain.

Berbagai konsep hidup dari leluhur yang dikandung dalam permainan tradisional. Lewat berbagai permainan tradisional anak-anak diajak untuk mengenal diri, mengenal Tuhan, mengenal alam; air, api, angin, batu, ilalang, sawah, tanah, pohon... Mengenal nilai-nilai kebaikan dan luhur seperti doa, usaha dan kerja keras, kerja sama, menabung, memimpin dengan baik, empati, kalah-menang... Belajar tanpa banyak berteori tentang matematika, berhitung, fisika, menyanyi, olah tubuh, koordinasi, ketrampilan jemari, mengelola emosi... Tengoklah filosofi dalam permainan congklak / dakon, sasalimpetan, engklek / sondag, injit-injit semut, gobaksodor / galah asin, gatrik, damar seru, babalonan sarung, kitiran / kolecer, layang-layang.. ternyata dahsyat semua.. Mangga disimak..

Setiap negara punya permainan tradisional, pun setiap daerah di Indonesia. Namun Indonesia punya sangat banyak, ratusan. Warisan besar yang perlu dilestarikan. 

 

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Wah, saya nggak nyangka sama sekali bahwa itu arti "hompimpa alaium gambreng". Tapi kayaknya kalau ada orang meninggal, lalu kita ngucapin "hompimpa alaium gambreng", keluarganya pasti marah ya. Padahal maknanya sama dengan "ashes to ashes, dust to dust". 😬

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa