AES26 Tungku

AES26 Tungku

Aromanya seketika mengantarkan ingatan pada rumah panggung yang berdiri kokoh di atas bukit. Asapnya menempel pada langit-langit rumah, dan aroma bakarannya tersimpan rapi pada setiap bagian kayu rumah. Saya pertama kali melihat tunggu di sana, di rumah panggung milik Kakek saya, saat usia saya masih sekitar 7 tahun. Dan setiap kali melihat tungku, dan menghidu aroma dari kepulan asapnya, selalu mengantarkan ingatan pada moment itu.

Selain mengantarkan pada ingatan akan moment itu, saya juga selalu merasa penuh kekaguman dan hormat untuk sebuah tungku. Setiap usaha dan cinta ada di dalamnya, Bapak mengambil kayu untuk dijadikan bahan bakar, menyusun kayu, dan menyalakan apinya untuk dapat memasak. Ibu menyiapkan setiap alat dan bahan yang akan dimasak. Sesekali meniupi bara api dari kayu yang sudah terbakar, dan menggeser-gesernya ke kanan dan ke kiri agar tetap terjaga. Bapak memberi, Ibu menjaga.

Tungku juga menghantarkan sebuah kehangatan dalam sepiring nasi putih yang ditemani sayur dan lauknya. Prosesnya panjang, perlahan, tak terburu-buru. Ada penantian didalamnya, ada sabar di dalam prosesnya. Selama ini, saya sudah tidak pernah bertemu lagi dengan tungku. Jika ingin memasak, tinggal "cetlek" kompor menyala, tak ada asap, ataupun aroma dari kayu bakar. Memasak jadi proses yang cukup singkat, dan mudah. Hingga sore ini saya bertemu kembali dengan tungku. Lengkap dengan kayu bakarnya, asapnya, aromanya, dan juga warna hitam yang menempel di sekelilingnya. Rasanya tetap sama, hangat!

Lantas saya teringat saat sarapan bersama Ibu, Bapak, di satu pagi. Sarapannya berbeda, meski tak disajikan lewat tungku, tapi rasanya sama hangatnya. Dengan segala aroma yang ada bersamanya. Kira-kira di dalamnya ada campuran haru dan bahagia merasa dimiliki oleh orang yang terkasih, dengan kuah hangat yang membuat tubuh bergetar tak tertahan. Nak, bagaimanapun keadaan mu, kamu tetap yang paling berharga di mata Bapak, dan Ibu. Isi suapan terakhir untuk sarapan kami. Hingga saat ini, rasanya tetap sama, hangat!

Hal-hal sederhana memang selalu mengagumkan.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa