AES23 bawang

AES23 bawang

Writing is like peeling yourself layer by layer. Because humans are like onion. The deeper layer you go through, the spicier it tastes. It burns your hand, and your eyes. Everybody’s normal until you get to know them better. Everything’s fine on the outside. And then you get to know them layer by layer. One step at a time. They slowly burn your hands, hurts your eyes. Create pain in your soul.” ~ Lala Bohang, The Book of Invisible Questions.

Kutipan yang menarik. Biasanya, sesuatu jadi menarik karena ada relevansi dengan diri. Meski nuansanya sedih, karena dikaitkan dengan rasa pedih, tapi bahwa manusia serupa bawang, buat aku ada benarnya. Kita melihat diri ataupun orang lain dari tampilan luar. Kesan pertama ada yang menggoda, ada yang menarik, ada yang biasa saja, ada yang mengganggu, bahkan menyebalkan. Tapi itu misteri dan ga jaminan bahwa di dalamnya juga demikian. istilahnya setelah kenal dekat, aslinya baru terlihat. Pun demikian sebaliknya, orang menangkap kesan-kesan sepintas, dari tampilan, cara bicara, kebiasaan yang dilakukan, sisi luar saja.

Aku bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Sampai di lapis tertentu, ada kecenderungan untuk menjaga jarak. Dulu aku tidak menyadari hal ini. Sekali waktu seorang teman menyampaikan tentang metode mengupas bawang, untuk mencari jawaban atas kesulitan yang sedang dihadapi. Di situ mulai ngeh dengan kecenderungan tersebut. Ternyata memang seperti bawang, di dalam diri ini ada yang pedes sekali. Di satu sisi tidak ingin orang tahu dan jadi emosi karena kepedesan. Di sisi lain, khawatir tidak bisa menghadapi pedasnya bawang lain. Tapi memasak bawang kalau ga dikupas juga kan ga enak, ga baik ya.. Jadilah aku belajar untuk lebih terbuka, 2 arah; mendengar dan bercerita, dengan salah seorang teman sejak kecil yang masih berkontak dari waktu ke waktu. Semakin kenal, jadi tahu juga pedes-pedesnya dia, pun sebaliknya. Lalu bareng-bareng menangis ataupun menertawakan kekonyolan diri. Ga selalu ada atau mendapat solusi, karena bukan itu tujuannya. Namun jadi seperti terapi yang melegakan untuk kedua pihak. Sometimes, being with your best friend is all the therapy you need.

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Kupas bawang yuk, kak 😁

    Sepertinya bisa juga untuk membangun tim/partner kelas ya, kak. Meski tidak persis dg metode kupas bawang, saya pernah mencoba saat di sekolah dulu. Dan ajaib sih efeknya, kak. Karena sudah merasakan pedih saat mengupas bersama, jadi tahu harus pakai kacamata kalau mau ngupas lagi 😁

    • Haha.. pake kacamata ya 🤓 menarik ya ka, tp kalo tim saya ga kebayang malah.. 

  • Dan jika diolah dengan baik, rasanya akan indah dan luar biasa!!!! Thank you for sharing, this is awesome!

    • Sama2 pak, kalo pak Jo pake kosakata 'indah' untuk makanan, kesannya enak banget.. ☺️👍🏼

  • Nice post kak Ine 🙏😇

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa