AES13 Gunung Rinjani

AES13 Gunung Rinjani

Mari bercerita tentang rinjani, gunung tertinggi yang pernah aku daki 3726 Mdpl. Gunung ini terletak di lombok Nusa Tenggara Barat. Rinjani adalah gunung terakhir yang kudaki, setelah rinjani hasrat mendaki gunungku aga berkurang sepertinya, kebanyakan ritme orang setelah mendaki rinjani itu akan menuju ke leuseur atau tambora namun aku tahu kapasitasku sepertinya belum mampu untuk mendaki dua gunung itu ditambah lagi kuliahku yang sudah memasuki semester akhir dengan segala kesibukan tugas akhirnya jadilah setelah rinjani aku tidak mendaki lagi.

Aku berangkat bersama dua orang temanku, ya kami hanya bertiga (regu paling sedikit yang pernah kulakukan di cerita pendakianku) memang susah sih kalo ngajak naik rinjani karna di luar pulau jawa dan banyak pertimbangannya mulai dari biaya, waktu perjalanan, fisik juga. Dua hari sebelum berangkatpun seniorku masih bertanya pada kami, yakin mau naik? Ini rinjani loh mending gausah daripada lu cari mati. Tapi akhirnya dengan keteguhan hati kami berangkat.

Dari bandung kita naik kereta ke lempuyangan lalu sambung kereta lagi ke banyuwangi, dari banyuwangi kita nyebrang ke gilimanuk selama 15 menit lalu dari gilimanuk kita nyebrang lagi ke padangbay selama 45 menit setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan bis dan mobil bak terbuka sampai ke bawanau (basecamp sebelum memulai pendakian). Perjalanan menuju kaki gunungnya saja sudah memakan waktu 2 hari, karna waktu itu kita masih mahasiswa miskin yang belum mampu beli tiket  pesawat jadi kita lebih baik mengorbankan waktu kita hahaha.

Kita mulai pendakian di pagi hari, sekitar jam 6 pagi kita sudah siap dan mulai melakukan perjalanan, rinjani ini berbeda dengan gunung tropis yang ada di jawa vegetasinya terbuka sehingga dari bawah pun puncak sudah terlihat, treknya padang savana yang panas sekali mulai aga rimbun sih setelah masuk ke bukit penyesalan. Trek rinjani ini aga unik, treknya  memberikan banyak harapan palsu hahaha dari bawah terlihat bahwa diatas landai (kalo landai itu bonus trek bagi kami) tapi setelah sampe ternyata bukan itu hanya ilusi, ternyata hanya belokan. Perjalanan dari bawanau ke pelawangan sembalun sekitar 12 jam, saat itu kami sampai jam 6 sore. Selama perjalanan tidak banyak trouble sih, paling di awal kakiku sempat kram beberapa kali karna aku pake jeans tapi setelah aku ganti jeansku dengan celana lapangan kramnya tidak datang lagi.

Besoknya kami mulai summit jam 2 pagi, waktu ideal kalo kamu mau dapet sunrise di puncak. Dari pelawangan sembalun ke puncak ini jalannya sangat berdebu ditambah lagi saat itu banyak pendaki dari luar dengan postur tinggi-tinggi jadi aku yang pendek ini kebagian debu ampas jalan mereka. Belum lagi jalur trek yang pasir mengakibatkan kita naik dua langkah turun satu langkah frustasi sekali saat itu, dan ini adalah summit dengan jalur terlama yang pernah aku jalani biasanya kalo summit kita paling makan waktu 2 jam paling lama tapi ini sampai 4-5 jam. Aku sempat menyerah dan menangis ditengah jalan, karna sungguh emosi jiwa ga sampe sampe sedangkan matahari sudah mulai terbit tapi untungnya aku bersama teman-teman yang baik, mereka tidak meninggalkanku mereka tetap memaksaku untuk terus berjalan walaupun aku tahu mereka sedikit kesal dengan rengekanku. Akhirnya kita sampai di puncak jam 8 siang, kita tidak kebagian sunrise tapi jadinya puncak itu kosong hanya untuk kita karna yang lain sudah turun ke bawah. Bahkan kita sempat tidur mungkin selama satu jam di puncak, iya kita tidur di puncak rinjani yang panas itu hahaha tapi karna udaranya dingin dan banyak angin kita tidak merasa kepanasan sih kalo di rumah mah serasa lagi moyan aja di depan rumah.

Hari selanjutnya kita turun ke danau segara anak, perjalanan sekitar 4 jam. Treknya turun sih jadi tidak memerlukan energi yang banyak. Sampai danau kita buka tenda dan menikmati hari, kita sempat berbincang dengan pendaki-pendaki lain dan bahkan kita mancing. Uniknya di segara anak ini mancing umpannya pake ubi bukan cacing seperti biasanya. Kita menghabiskan dua hari di danau, serasa mager mau pulang karna menikmati sekali moment di segara anak, kalo saja persediaan makanan kita masih ada kita mungkin akan bermalam satu atau dua hari lagi. Hari ke lima kita turun gunung lewat jalur senaru, berbeda dengan jalur sembalun jalur senaru ini vegetasinya lebih rapat dan tertutup jadi tidak terlalu panas. Selama turun sebenernya lututku terasa sakit sih tapi untungnya aku bisa menahan sampai ke basecamp karena anjuran dari beberapa teman bahwa jangan ngecamp di jalur senaru semalam apapun lebih baik jalanin sampe pos, katanya sih angker. Dan alhamdulillah kita sampai jam 5 sore di pos bawah. Tadinya kita merencanakan untuk stay dulu di lombok beberapa hari yaaa sekedar nengok pink beach atau jalan-jalan santai. Tapi karna temanku ternyata sudah dipanggil dan di cari dosen jadi kami memutuskan untuk kembali ke bandung dengan segera.

Rinjani ini menawarkan pemandangan yang luar biasa indah sih, kalo kalian pernah lihat foto gunung rinjani entah itu puncaknya, danaunya atau savananya itutuh sebagus itu memang sebagus itu. Sayangnya saat itu kita ga bawa perlengkapan dokumentasi yang mumpuni sih hanya pakai kamera hape saja. Kalau temenku bilang ‘kita mendokumentasikannya dengan mata kita’.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa