AES09 - Jangan Ingat Bahagia

Hukum kedua Newton itu tentang kelembaman yaitu benda cenderung mempertahankan posisinya. Kalau dia diam, dia cenderung terus diam. Kalau dia bergerak dengan kecepataan X, dia lebih cenderung bertahan dengan kecepatan itu. Untuk bisa memperlambat atau mempercepat gerak kita butuh gaya eksternal. Uniknya, gaya eksternal yang paling alami muncul lebih sering memperlambat gerak. Coba saja dorong benda, secara alami dia akan berhenti. Agar terus bergerak perlu terus ada gaya dari luar.

Rasa-rasanya, manusia juga begitu ya. Sebagaimanapun kita bergerak entah membangun kebiasaan baru atau mencoba mencapai titik tertentu, seringkali hal-hal eksternal itu terasa lebih banyak menghambat daripada mendukung. Dalam mencapai kebahagiaan juga mungkin demikian. Seringkali kita melihat quotes-quotes dari luar dan itu membuat kita merasa termotivasi. Tapi quotes ini biasanya seiring dengan waktu akan kehilangan daya magisnya. Quotes itu seringkali merupakan intisari dari kedalaman berpikir dan pengalaman si penulisnya. Nah di situ masalahnya, itu lahir dari si penulis, orang lain, bukan kita.

Lalu bagaimana sih caranya biar kita tetap maju? Sebenarnya tidak ada yang namanya maju atau mundur tanpa konteks arah pandang dan titik mula. Bagi tukang korupsi, pertambahan pundi rupiah di rekeningnya itu kemajuan, meski dengan jalan yang membuat dia mundur secara moral. Tidak tahu juga sih baiknya bagaimana.

Kalau menilik sistem alam semesta ini, yang paling bertahan lama itu biasanya yang berada dalam keadaan equilibrium. Tata surya kita itu bisa dibilang equilibrium. Semua setimbang, bergerak dengan mempertimbangkan dirinya dan sekitarnya. Bumi, mars, dan yang lainnya bergerak dengan konstan dan nyaman karena tetap “saling memperhitungkan” pengaruh sekitarnya. Mereka semua pasif menerima kodrat sebagai benda yang digerakkan oleh suatu gaya yang berhubungan erat dengan sekitarnya.

Lalu apa hubungannya dengan manusia dan gerak kemajuan? Saya tidak tahu. Dari semua kebijaksanaan yang sering manusia hasilkan, biasanya menemukan analogi alaminya di semesta raya ini. Mungkin saja di balik equilibrium yang ada di tata surya kita, tersimpan sebuah kebijaksanaan yang menunggu untuk dikuak. Kebijaksanaan yang bisa menginspirasi kita menemukan makna "gerak maju" yang lebih sahih dan fundamental.

Lalu apa hubungan judul dengan tulisan ini? Tidak tahu juga haha. Tadi ketika mau menulis ini saya teringat orang-orang banyak yang berkata “jangan lupa bahagia”. Saya sering bertanya seberapa efektif sih kata-kata itu. Apakah itu membuat orang jadi, “Oh iya, baiklah, saya harus bahagia” atau malah “haduuuh, udah mah saya lagi sedih, sekarang disuruh-suruh pulak untuk bahagia”. Kata-kata itu seperti mengganggu seseorang yang sedang ada dalam equilibriumnya. Karena sedih itu bagian dari hidup yang seimbang bukan? Kalau kita coba ganggu dengan kata kata “jangan lupa bahagia”, dia jadi ga seimbang lagi. Eh..eh.. Begitu bukan ya cara berpikirnya? Haha entahlah. Tulisan ini lebih baik saya akhiri disini, sudah terlalu banyak ketidaktahuan yang saya bagikan.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa