AES08 - Habis Gelap Terbitlah Mbuh

Kita sering dengar peribahasa “badai pasti berlalu”. Mungkin ini mirip dengan "hujan ge aya raatna" kalau di peribahasa Sunda. Badai atau hujan memang akan berakhir. Tapi, apakah artinya badai tidak akan datang lagi? Tentu tidak. Badai atau hujan akan terus datang, dengan bentuk dan intensitasnya masing-masing. Itu siklus alamiah. Sama alaminya dengan konsekuensi logis yang dinamakan kesengsaraan, kesedihan, dan sejenisnya itu.

Ada juga peribahasa sejenis namun sedikit berbeda yaitu “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Sebenarnya peribahasa ini harusnya ada tambahannya yaitu bersakit-sakit lagi, lalu bersenang-senang lagi, eh terus sakit lagi, terus senang lagi, nah habis ternyata masih ada sakit lagi, sebelum akhirnya senang lagi. Eh belum akhir juga deng soalnya akhir nya justru bukan senang atau sakit. Akhirnya "mbuh", atau teuing, teu nyaho, entahlah, idk. 

Selain peribahasa tentu ada quotes juga yang sering didengar seperti ucapan dari R.A Kartini, "habis gelap terbitlah terang". Kenapa sih, kita kok sebegitu tidak maunya bercengkrama dengan gelap. Seolah-olah gelap ini bisa dianggap kalau ada terang setelahnya. Seolah-olah gelap ini perannya seperti karpet merah yang membuat terang muncul berjalan dengan lebih elegan. Padahal posisi terang itu bisa juga sebelum gelap. Jam 5.45 sore misalnya. Atau minum-minuman manis sebelum akhirnya kena diabetes. Aaah atau main game semalaman sebelum akhirnya ngantuk di kelas. Itu semua terang sebelum gelap bukan?

Kalau dipikir lagi, badai berlalu, sakit dulu senang kemudian, atau habis gelap terbitlah terang ini adalah coping mechanism umat manusia terkhusus manusia Indonesia. Kita memang merasa perlu mendambakan keadaan yang lebih baik agar bisa kuat menghadapi keadaan yang kita anggap buruk. Mungkin itulah manfaatnya. Tapi itu juga bisa jadi sisi ketidakbermanfaatannya. Mungkin, itu jadi penyebab kenapa kita, umat manusia secara kolektif, jadi tidak pernah bisa puas. Dengan bantuan peribahasa atau quotes-quotes itu kita jadi dibiasakan untuk selalu berharap/melihat bahwa ada yang lebih baik dari apa yang kita punya sekarang. 

Oh iya, sebenarnya ada satu lagi peribahasa yang bisa dikategorikan ke himpunan peribahasa-peribahasa yang pseudo-beneficial ini yaitu "rumput tetangga selalu lebih hijau". Ini peribahasa favorit lelaki yang sudah berpasangan untuk menjustifikasi mata jelalatannya atau wanita yang tidak pernah puas dengan kulkas, TV, dan mesin cuci yang dia punya saat ini.

Sebenarnya peribahasa-peribahasa ini hampir tidak mengandung kebijaksanaan. Kenapa? Coba aja dinegasikan maka akan kita temukan bahwa nilai kebenarannya tetap sama dan tetap akurat mencerminkan realita. “Badai pasti datang” nilainya sama dengan “badai pasti berlalu”. "Habis terang terbitlah gelap" juga terdengar cukup realistis. Bahkan, bersenang-senang dulu bersakit-sakit kemudian malah lebih realistis lagi. Peribahasa yang terakhir itu sedang panen raya bukti-buktinya saat ini. Kelakuan manusia yang mementingkan kesenangan saja bukankah sedang mendulang sakitnya saat ini? Kesenangan revolusi industri di masa lalu contohnya, bukankah kita sedang merasakan sakitnya perubahan iklim atau kurikulum yang terlanjur industrisentris saat ini? Lalu jadi mikir, jangan-jangan revolusi 4.0 ini juga menyimpan kesakitan laten yang siap tumbuh dan ngajadi di masa depan? hmmmm....  

Pandangan saya di atas memang secara sadar saya sempitkan, saya khususkan pada sisi negatif dari berbagai peribahasa-peribahasa tersebut. Saya sedang ingin saja berpikir secara negatif. Saya sadar kok bahwa ada konteks dari peribahasa itu dan juga manfaat serta makna positif mendalam dibaliknya. Tapi rasanya asyik untuk mengulik hal-hal yang dianggap secara status quo sudah positif ternyata ada sisi sebaliknya juga.

Jadi, apakah habis gelap terbitlah terang? Ya, mbuh.....

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Setuju, Kak Jere. Beberapa "kebijaksanaan" lama itu tidak logis sama sekali. Bisa menimbulkan harapan palsu dan bikin orang jadi delusional. 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa