AES072 Fake Art

AES072 Fake Art

Ketika AES baru dimulai, saya mengirimkan atomic essay kelima saya yang berjudul Komodifikasi Seni kepada Rico. Tulisan itu mengungkap keprihatinan saya terhadap degradasi seni rupa.

Begini komentar Rico: “haha tebakan aku modern art itu jadi front untuk money laundering xD. kan mereka bisa assign value apapun ke benda apapun.”

Dulu saya menyangka modern art hanya semacam money game yang sustainable. Tidak seperti Ponzi scheme yang lama-kelamaan akan jadi bubble, dan pecah pada waktunya. Jika komunitas investor dan art buyers percaya pada value sebuah lukisan "jelek tapi mahal", maka ketika seseorang membeli karya tersebut, dia yakin suatu saat akan ada orang lain yang rela menebusnya dengan harga lebih tinggi. Dan begitu seterusnya.

Hipotesis Rico membuat saya penasaran. Saya coba baca-baca. Ternyata Rico benar.

Karya seni rupa sudah dijadikan medium pencucian uang ilegal. Skemanya sederhana. Duit haram, entah hasil korupsi atau tansaksi narkoba, dibelikan lukisan. Kemudian lukisan itu dibawa ke balai lelang. Setelah laku terlelang, duit haram itu kini suci. Ia adalah uang hasil penjualan lukisan. Kerahasiaan jual-beli barang-barang seni diatur oleh UU jadul. Kalau di US, ada Bank Secrecy Act tahun 1970 yang melindungi anonimitas art market, barang-barang antik, dan art dealers.

Selain untuk money laundering, karya seni juga digunakan sebagai sarana tax avoidance dan tax evasion. Skemanya lebih canggih. Saya tidak tertarik memahami mekanismenya. Terlalu menyita waktu dan energi otak. Bagi saya, yang penting poin saya bahwa karya seni modern sudah jadi sampah telah terkonfirmasi.

Standar bagus dalam seni sudah kacau. Jika kita mengatakan “bagus itu relatif”, atau lebih parah lagi: “semua karya adalah bagus”—ini sama saja dengan mengatakan “tidak ada karya yang bagus”. Itu merusak standar seni. Dan merusak bahasa juga. Makna kata bagus menjadi tidak jelas.

Kalau kita pikir kita harus menjaga perasaan orang-orang yang tak mampu menggambar, lalu bagaimana dengan seniman-seniman yang beneran berbakat dan telah bersusah-payah membuat karya yang beneran bagus? Siapa yang menjaga perasaan mereka? Tidak ada lagi kebanggaan berkarya bagi mereka karena “semua karya adalah bagus.” Harusnya sportif aja dong. Masih banyak hal lain yang orang-orang tak berbakat menggambar itu bisa kerjakan. Seperti saya dulu suka menggubah lagu. Hasilnya jelek. Ya, udah. Saya tau diri. Hahaha.

Tapi tidak hanya seniman tulen yang jadi korban praktik money laundering. Masyarakat luas pun ikut merasakan akibatnya. Di Kolombia, selain membeli barang-barang seni, para drug lords juga mengoleksi properti. Mereka membeli tanah di mana-mana. Mereka tak peduli dengan harga karena, toh, pakai easy money ini. Dampaknya, harga-harga tanah membubung tinggi. Masyarakat yang hendak membeli tanah untuk keperluan tempat tinggal jadi kelabakan.

Sebagai penutup, saya persembahkan sebuah absurditas seni rupa modern. Ada beberapa “lukisan” berharga fantastis yang cuma cat putih doang. Putih. Sepenuh kanvas. Harganya ada yang mencapai 20 juta dolar.

Elisabeth Sherman, seorang assistant curator di Whitney Museum of American Art membela “lukisan-lukisan” putih itu dengan argumen berikut: "White isn't really a pure thing. White is always tinted in some way."

Dia betul. Warna putih pada lukisan-lukisan itu tidak murni 100% putih. Dalam skala RGB, putih sempurna nilainya R:255 G:255 B:255 (hexadecimal colour code: #ffffff). Putih bisa semu merah R:250 G:240 B:240 (#faf0f0). Bisa semu kuning, biru, hijau, dsb. Tapi argumen dia aneh dan lemah sekali: karena tidak 100% putih, lantas sekonyong-konyong kanvas kosong itu jadi indah? Apa hubungannya???

 

"The impulse of modern art was this desire to destroy beauty."Barnett Newman

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa