AES071 Keunikan Seni Memasak

AES071 Keunikan Seni Memasak

Tulisan ini saya persembahkan untuk Pak Jo. Kemarin malam saya berkomentar di esai Pak Jo bahwa ada hal-hal unik dari culinary arts. Unik bagi saya. Bagi orang lain mungkin saja trivial.

Saya tidak punya keahlian dan bakat memasak. Betapa seru kalo saya jago masak seperti Pak Jo. Saya tentu bisa membuatkan makanan yang enak-enak untuk keluarga dan teman-teman. Dan menikmati proses membuatnya. Asyik banget keliatannya orang yang sedang memasak.

Seni memasak itu sangat subtil. Mirip desain grafis.

Dulu saya memandang enteng desain grafis. Apa sih, cuma pilih-pilih fonts. Layout: geser kiri dikit, atas dikit, dst. Tapi setelah saya coba sendiri, ternyata susahnya minta ampun. Karena elemen-elemennya saaaangat halus. Kita bingung apa yang mesti digimanain biar semuanya terlihat bagus. Lain sekali dengan menggambar. Kita langsung sadar jika garis kita mencong-mencong atau bentuknya nggak karuan.

Seni memasak pun begitu. Takaran bumbu kurang atau berlebih sedikit saja, hasilnya langsung dapat kita rasakan. Saya mungkin sudah menyantap ratusan rendang sepanjang hidup saya. Rendang yang dimasak orang-orang berbeda dengan takaran bumbu berselisih tipis. Tapi hasilnya ada yang super enak, ada yang “lumayan enak kalau sedang benar-benar lapar".

Kita mengonsumsi berbagai macam seni. Tapi hanya seni memasak yang karyanya kita konsumsi secara harfiah. Karyanya menjadi bagian dari diri kita—secara harfiah juga.

Seni memasak menghasilkan karya yang hanya bisa dinikmati satu kali saja. Sekejap, lalu hilang. Tak bisa “disetel" ulang. Jenis masakan yang telah kita makan memang bisa dibuat kembali, tapi itu bukan karya yang sama lagi.

Dan tentunya, masakan ibu. Tiada yang lebih lezat ketimbang masakan ibu. Masakan dari masa kecil kita. Sejak kita masih disuapi. Makanan-makanan yang disiapkan dengan penuh cinta kasih.

Anton Ego yang dingin, wajahnya selalu masam. Bicaranya ketus. Dia menatap sinis ratatouille yang disajikan Linguini malam itu. Masakan tradisional rakyat jelata yang tak ada istimewanya telah dipilih sang chef untuk dinilai food critic paling ditakuti. Tapi sesaat setelah Anton Ego mencicipinya, ia terperangah dan membeku. Kenangan masa kecil dimanja ibunya datang bertubi-tubi. Penanya yang tajam jatuh. Ego Anton Ego sirna. Lalu buru-buru ia menjumput kembali kudapan itu dan memakannya dengan lahap.

 

"Good food is the foundation of genuine happiness."Auguste Escoffier

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Waaah hahahaha... terima kasih! 😀 sekedar informasi, saya ga jago masak tapi memang senang masak dan makan. Soal masakan ibu, katanya ada kaitan antara taste bud dan memory di otak. Nah jadi deh ini sebuah ide nulis essay berikutnya ... terima kasih. Bener kata kak Andy, ririungan ini contoh ideal untuk media sosial!! 

    • Ayo, Pak Jo, ditunggu tulisan berikutnya. Hehehe, iya, semoga ini bisa jadi media sosial yang ideal buat kita.

  • Buat Pak Jo. 🙏😊

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa