AES070 Terapi Musik

AES070 Terapi Musik

Di malam kelabu; di saat kita sedih, merasa tak berguna, ditolak, terhinakan—berpalinglah pada musik rock. Rock itu adalah seorang abang, yang walaupun tak pintar seperti jazz dan musik klasik namun selalu loyal dan dapat diandalkan.

Cobalah mengadu kepadanya. Dalam volume maksimum.

Tapi bukan, …bukan nyanyian rock jenis medium itu. Yang liriknya merayu-rayu penanda gejolak darah muda. Yang dilantunkan sekawanan cowok jantan bersubang, gondrong sebahu, dan ganteng-ganteng.

Melainkan jenis musik cadas paling keras, paling cepat, paling bertenaga. Yang dimainkan lelaki-lelaki murka berambut sepinggang dan bercambang, yang sudah melampaui kategori jantan. Mereka binatang: liar dan buas.

Musik yang keji. Hantaman double-bass pedal drumnya rapat menderu-deru, ditingkahi dentum bas yang bulat dan padat. Ritem gitar meraung dalam distorsi besar, mengiringi solo gitar berkecepatan tinggi yang melengking-lengking di register atas. Liriknya tidak merayu-rayu, tapi memuntahkan sumpah-serapah dalam teriakan-teriakan parau.

Bukan, …bukan dendang penanda gejolak darah muda. Tapi dendang yang berdarah-darah, yang bercerita tentang perang, api, dan setan-setan. Gelap, namun perkasa. Tegar dalam kesendirian.

Hingar-bingar dan carut-marut itu mampu menggedor-gedor kesadaran yang nyaris padam. Mengusap dada yang sesak, mengeringkan mata yang sebak. Meneguhkan lutut yang goyah, menengadahkan dagu yang lemah.

Tapi, setelah segalanya pulih dan siaga, perasaan yang telanjur meletup-letup itu perlu dikendalikan. Ia perlu dikembalikan ke level normal, ke posisi moderat, agar tak bersemai benih-benih dendam.

Tiba saatnya menyimak lagu-lagu tenang dan intelek. Tembang dalam beat pelan yang dibawakan bapak-bapak kalem, arif dan berkaca mata. Debur halus pada snare-drum oleh stik serupa kuas. Dentam bas akustik yang bening. Ritem gitar yang juga akustik dan bening. Suara synthesizer lamat-lamat melatari. Tak ada kata-kata. Hanya dentingan lirih tuts-tuts piano menjadi melodi.

Not-not sejuk dalam tempo lambat itu mampu mengendorkan otot-otot yang marah. Memijat-mijat pundak yang menegak, menepuk-nepuk punggung yang mengencang. Membelai tangan yang mengepal, mengelus paras yang mengeras.

Ia menjadi filter yang memisahkan kebencian dan kebengisan dari harapan dan rasa percaya diri yang telah berdiri kembali. Yang tersisa di hati hanya semangat nan damai. Yang tertinggal di kepala hanya optimisme nan adem. Rencana-rencana baru.

 

"Without music, life would be a mistake."Friedrich Nietzsche

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • wah ini tulisan spesial! Tapi kala sedih dan marah justru saya kebalikannya karena musik berdarah-darah itu seperti bahasa planet lain. Saya lebih memilih musik dimainkan oleh pria dengan topi fedora, kadang pakai kemeja lengan pendek dan memakai vest. Kalau sedang sedih, hati seperti disayat-sayat oleh jeritan sexophone, kejengkelan mengalir keluar dengan ritme piano dengan tempo yang kadang cepat kadang lambat, Lalu memasuki suasana tenang dengan mengikuti beat dari bas betot yang berimprovisasi hahaha... 

    • Duuuhhh...ngaturaken matur nuwun sanget, Pak Jo. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

      Berarti beda, ya, musik yang kita pakai buat terapi... Hehehe. Ndak apa2, ...yang penting kita sama2 terapi dengan musik. 😁

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa