AES068 Pandai Berhitung, Berkah atau Kutukan?

AES068 Pandai Berhitung, Berkah atau Kutukan?

Esai saya yang ke 68. Saya mau menulis tentang angka, numbers... Saat manusia diberi kemampuan untuk menghitung sesuatu, apakah itu sebuah berkah, kebaikan (blessings) atau sebaliknya sebuah kutukan, keburukan (a curse). Kenapa saya berpikir begitu - sederhana aja... Di ruang penulisan ini banyak sudah yang menulis tentang kapitalisme - yang pada dasarnya adalah hitung-hitungan belaka. Karena manusia tau apa yang disebut sedikit atau banyak, kita jadi mengenal juga apa yang disebut keserakahan. 

Sepertinya hanya kita manusia yang punya kamus keserakahan (greed). Makhluk hidup lain walaupun mereka adalah predator puncak - misalnya Singa di savana Afrika atau Hiu Putih Besar di samudera, mereka ini yang kita sebut raja di habitatnya masing-masing tidak punya keserakahan. Saat mereka lapar, mereka berburu, selesai makan, cukup sudah, sampai rasa lapar kembali memicu insting mereka untuk kembali berburu. Tidak demikian dengan manusia. Apa yang menjadikan planet ini begitu rusak adalah bagaimana begitu banyak manusia tidak pernah merasa cukup. Selalu merasa kurang. Kita bingung ya saat ada orang yang berburu kekayaan sebegitunya. 

Dalam blogpostnya Worker Cooperative, di alinea pembuka, Ahkam menuliskan begini : 

Kapitalisme adalah pohon keserakahan yang berbuah kesenjangan sosial. Kelas 1% menguasai peradaban — mengeksploitasi 99% manusia lainnya. Perusahaan-perusahaan di dunia dan juga di Indonesia (yang katanya mengusung ekonomi kerakyatan) berfokus pada pengerukan keuntungan sebesar-besarnya bagi para pemilik modal.

Kembali ke keserakahan... Kalau manusia bodoh dalam pengertian tidak paham konsep banyak sedikit, jangan-jangan kehidupan peradaban manusia jauh lebih baik. Manusia ini sepertinya diberikan intelektualitas yang terlalu tinggi - yang tak mampu dikendalikannya sehingga berbuah sedemikian banyak masalah yang kita lihat saat ini sehari-hari.

Para ahli sekarang sudah bisa memperhitungkan kalau manusia hidup dengan gaya hidup seperti di Amerika (negara yang dijadikan tolok ukur), kita akan butuh 4 planet bumi untuk mencukupi kebutuhan gaya hidup manusia. Padahal saat ini setengah planet kita sudah hancur karena ulah manusia selama ini. Keserakahan manusia kembali jadi penyebabnya. Jadi paham ya kenapa Gandhi (bahkan di masa hidupnya) sudah mengatakan bahwa bumi ini tidak mungkin mencukupi kebutuhan manusia yang didasarkan keserakahan. Saat ini ada 7 milyar manusia yang hidup di atas planet bumi ini. Kalau mereka semua hidup atas dasar keserakahan, tidak terbayangkan apa yang akan terjadi. 

Masih ingat ya bagaimana saat Pandemi di mulai, ada orang-orang yang segera memborong masker dan desinfektan untuk bisa menjualnya kembali dengan harga tinggi. Padahal jelas sekali kita sedang dalam situasi darurat di mana semestinya kita saling membantu... Bahkan ada yang sedemikian (maaf) bodohnya sampai memborong tisu toilet. Saya ga abis pikir di mana logikanya... Kembali lagi, kemampuan manusia berhitung, mengenal banyak sedikit adalah kutukan besar buat umat manusia

Sementara di sekolah-sekolah, Calistung jadi pelajaran yang terpenting. Matematika jadi sorotan, jadi tolok ukur orangtua untuk kepandaian anak-anaknya. Kalau kepandaian berhitung itu kemudian jadi keburukan bagi lingkungan sekitarnya setelah mereka dewasa lalu bagaimana?

Mudah2an tulisan ini juga jadi perenungan kita bersama - terutama dalam konteks kita di Semi Palar sebagai sebuah komunitas pendidikan. Mudah2an kita bisa temukan jawaban atau solusinya suatu waktu nanti...   

 

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Menarik sekali kak. Dari buku Sapiens saya mencoba melihat ini kak. Tapi baru mulai di bagian ini. Menurut Yuval Noah Harari, 'keserakahan' itu dimulai sejak Revolusi pertanian. Menarik sekali ini kak.

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa