AES044 Musik Sore, Pemikiran di Belakangnya

AES044 Musik Sore, Pemikiran di Belakangnya

Menutup pembelajaran TP16, Semi Palar kembali menggelar Musik Sore - walaupun dalam situasi pandemi seperti saat ini, untuk kedua kalinya Semi Palar diselenggarakan secara daring (online). Tahun lalu, ini jadi inisiatif pengurus OSIS SMP tahun lalu (Evan dkk) yang walaupun 3 bulan memasuki masa pandemi berupaya untuk tetap mewujudkan Musik Sore Smipa. 

Di tulisan kali ini saya ingin mencoba menceritakan pemikiran di balik Musik Sore Smipa. Awalnya gagasan ini muncul dari obrolan kakak2 di Smipa. Sudah cukup lama, saya tidak ingat kapan persisnya. Waktu itu masih ada kak Taufan, kak Yudha, kak Sarita, kak Dhila juga... Waktu itu kami juga sempat kedatangan Yala Roesli, sahabat kami dari Rumah Musik Harry Roesli, yang dulu sempat berbincang tentang kegelisahan kami tentang dunia musik. Kenapa gelisah, karena musik juga mulai rusak karena komersialisasi. 

9150559457?profile=RESIZE_400xSaya pikir ini nyambung juga dengan tulisan Ahkam tentang Progres Musik. Kalau ada asumsi kenapa musik dulu jauh lebih berkualitas menurut saya ini bukan asumsi, memang demikian adanya. Gambar di sebelah ini mungkin menggambarkan sedikit situasi itu. Nah nyambung juga dengan posting Rico di esainya yang ke 18, menulis tentang Bohemian Rhapsody

Gambar di sebelah kiri ini sangat jelas kan ya menggambarkan bagaimana industri musik sangat mengikis musikalitas yang ada. Dari lirik lagunya aja udah jelas bagaimana kualitas makna yang dihantarkan lewat musik sudah nyaris hilang. Lalu bagaimana kualitas musik bisa tetap tinggi... 

Ada satu riset juga yang meneliti tentang hal ini yang mudah2an suatu waktu bisa saya ceritakan juga di sini. 

Kembali ke perbincangan saya dengan kakak2 tentang musik. Sebelum musik masuk ranah industri, yang kita kenal adalah di tanah air adalah Musik Rakyat. Kalau teman2 pernah berkunjung ke satu tempat istimewa di Bandung yang namanya CCL (Celah-celah Langit) asuhan kang Iman Soleh, di sana kita bisa berjumpa dengan tempat hidupnya Teater Rakyat. 

Maksudnya bagaimana? Ya musik adalah milik bersama, musik adalah bagian dari kebudayaan masyarakat. Jadi kalau ada panggung musik, yang manggung ya rakyat, yang main musik rakyat, yang nonton juga masyarakat di daerah situ. Semua jadi bagian dari pertunjukkan yang ada, karena musik adalah bagian dari nafas kebudayaan masyarakat setempat. Tidak ada itu yang ngundang artis lalu dibayar... 

Saat pertama saya berkunjung ke CCL dan menonton pertunjukkan teater di sana, saya terkagum-kagum mendengar bahwa aktornya adalah kenek angkot dan penjaga warung di Terminal Ledeng. Ya, CCL memang terletak di sebuah gang kecil di belakang terminal Ledeng. Kita duduk di sana dan mengapreasiasi rakyat memainkan pertunjukkan teater. Keren banget kan? 

Nah Musik Sore Smipa dibangun dari pemikiran ini. Bagaimana panggung adalah milik bersama. Siapapun punya hak untuk memainkan musik di panggung Smipa ini. Ga perlu ngundang2 dan bayar2 artis segala. Toh kita lebih senang kalau musik2 yang hadir ditampilkan oleh warga Smipa, oleh keluarga kita sendiri. Dari kita, Oleh kita, Untuk kita. Music should Connect People... 

Di bincang2 yang di atas saya ceritakan itu, Yala bercerita bagaimana sedihnya dia saat diminta membantu penyelenggaraan PenSi (Pentas Seni) di SMA-SMA favorit di Bandung. Mereka sekarang sudah tidak menampilkan lagi karya atau permainan musik siswanya tapi berlomba menghadirkan artis2 beken. Yang ujung-ujungnya membuat panitia sampai berhutang ratusan juta rupiah walaupun sudah jualan tiket dan cari sponsor ke sana kemarin... Ya itu dia... industri dan komersialisasi jadinya merusak apa yang sejatinya bisa sangat sederhana tapi bermakna. 

Sampai saat ini, Musik Sore Smipa masih hadir dengan konsep tersebut di belakangnya. Yang tampil adalah kita semua, sehingga pertunjukkan yang ada - sesederhana apapun menjadi milik kita. Semoga spirit ini bisa terus kita jaga seterusnya. Salam Smipa.  

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Muantaap bangeeet, Kak Andy. 🤟😝

    Hahaha, saya baru tau bahwa "lirik" lagu ada yang seperti di sebelah kiri itu. Dan lirik mahakarya puitis tersebut ditulis oleh 6 orang. Wow... 🤣

    Betul Kak, industri dan komersialisasi telah mengikis kualitas dan kemurnian hal-hal yang indah dalam kehidupan. Tapi mungkin yang paling murni dan paling indah yang juga mulai ikut terkikis oleh kapitalisme adalah hubungan antar manusia.

    • Iya betul Ahkam... koneksi antar manusia kan lebih fundamental lagi ya... bahkan mungkin paling mendasar, dan paling penting.  

  • Seperti esai saya yang menuliskan bahwa Esai Smipa ini Connecting People, ijin colek Ahkam dan Rico yang tulisannya nyambung dengan tulisan yang ini. Nuhuun. 

    AES031 Connecting People
    Generasi saya pasti tau slogan di atas, Connecting People, marketing tagline yang digunakan salah satu brand Hape terkenal di dunia... Merek itu nama…
This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa