AES042 Makna Keluarga

AES042 Makna Keluarga

Hari ini saya keluarkan satu quotes lagi dari kumpulan tulisan-tulisan bagus yang saya temukan dari berbagai sumber. Tulisan2 ini, quotes yang saya kumpulkan tentunya memanggil saya untuk menyimpannya.

Kumpulan quotes saya jadi menarik saat saya menemukan berbagai momen atau pengalaman yang betul2 terkait dengan quotes tersebut. Artinya kata-kata itu jadi hidup karena saya mengalaminya sendiri. Hari ini kakak2 melaksanakan pembagian rapor kepada rekan-rekan orangtua, buku kecil yang kita sebut buku Cahaya Bintangku. Kali ini untuk ketiga kalinya, kami menyiapkannya dalam bentuk versi digital karena situasi pandemi menjadi kendala buat kita untuk berkumpul. 

Tidak hanya itu, kali ini kita juga dikondisikan untuk melaksanakan perpisahan / pelepasan teman-teman di penghujung jenjang SD dan SMP. Biasanya kita kumpul dalam satu sebentuk perayaan bersama Musik Sore. Semi Palar memang tidak mengenal kata wisuda atau graduation. Momen ini hanya sebentuk pernyataan bahwa kita semua mensyukuri proses pembelajaran yang sudah kita jalani bersama, anak, orangtua dan para kakak di sekolah. Satu tahapan pembelajaran yang selesai kita jalani bersama. Hanya itu... sesederhana itu. Di sisi lain maknanya juga justru sedalam itu. 

Hari ini di ruang digital yang difasilitasi teknologi kami berkumpul untuk pelepasan teman2 kelompok Sisik Naga dan Saffron. Saat setting dipindah ke ruang digital, jujur saya bingung bagaimana menyampaikan pesan dan hal-hal lain yang ingin disampaikan kepada teman-teman yang menuntaskan jenjang belajar dan juga rekan-rekan orangtua yang menjalankan peran pendidikan di rumah sebagai partner para kakak di sekolah. 

Mengalir aja saya pikir, sampaikan apa yang saya rasa perlu sampaikan... Speak from the heart. Di luar dugaan, saya jadi sangat terbawa emosi... Air mata saya menetes, kata-kata saya sulit saya ucapkan, beberapa kali saya harus berhenti... Di kelompok Saffron berbeda lagi, kali ini apa yang disampaikan rekan-rekan orangtua dan apa yang disampaikan Saskia, juga kakak, membuat saya kembali meneteskan air mata haru... 

Saya merasakan betul bahwa kita di Semi Palar adalah bukan hanya sekolah, di mana ada guru, murid dan kepala sekolah, tapi sebuah keluarga. Mungkin belum semua warga Semi Palar sampai di titik yang sama, tapi hal ini nyata terwujud di Semi Palar. Sebagai sekolah yang berpijak pada Pendidikan Holistik, memang kita yang berani masuk dan meleburkan diri dalam proses dan koneksi antar manusianya yang akan bisa merasakannya secara utuh... 

9144599664?profile=RESIZE_584x

9144627284?profile=RESIZE_584xSeperti yang sering kita istilahkan bersama, pelepasan di Semi Palar adalah titik Persimpangan, ada yang masih beproses bersama dan ada yang memilih jalan pembelajaran yang lain, di luar Semi Palar. Tapi ikatan kita sebagai keluarga mudah2an tidak pernah pupus oleh waktu. Pesan itu yang ingin kami sampaikan, mudah2an walaupun sangat sederhana seremonialnya, hal itulah yang bisa ditangkap pesan dan maknanya. Terima kasih sudah menjadi bagian dari proses dan perjalanan di Rumah Belajar Semi Palar. Salam Smipa. Salam kekeluargaan. 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Sebutan "Rumah Belajar" yang Kak Andy pilih untuk Semi Palar, sudah sangat tepat. Rumah adalah tempat berkumpul, berlindung, dan bertumbuh keluarga. Kita adalah sebuah keluarga besar. Smipa is a home where our kids, together with us, learn about the world, about ourselves, and about being humans. Our home sweet home. 🏠❤

    • Tepat sekali bang! Saya setuju! 😍

  • Terima kasih atas sharing-nya kak Andy! Saya pernah mengalami hal yang sama soal perasaan "kekeluargaan" di Smipa yang unik ini. Sepertinya dari berbagai institusi pendidikan yang pernah saya terlibat, Smipa adalah satu-satunya yang membuat semua orang sebagai benar-benar "keluarga". Pendidikan akan bisa berhasil dengan baik jika ada keseimbangan proses dan komunikasi aktif antara "sekolah" di sekolah dan "sekolah" di rumah. Ini sungguh sungguh dinamakan holistik. Kalau holistiknya cuma di sekolah, dan di rumah tidak ada keterlibatan, saya kira belum bisa disebut pendidikan holistik, tapi hanya sekolah yang menggunakan konsep holistik. Ga tau apakah pendapat saya ini make sense hehehe  

    • It totally makes sense. Well said, Pak Jo. 🤓👍

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa