AES04 Tangis di Ambang Pintu

AES04 Tangis di Ambang Pintu

Akhir 2017 sampai awal 2018 saya tidak melalukan apa-apa. Saya baru saja henti dari pekerjaan dan mengambil jeda. Kurang lebih selama 1 bulan. Mendekam di rumah bersama beberapa buku yang merayu-rayu untuk segera dibaca. Masih saya ingat jadwal harian saya selama 1 bulan itu. Mulai dari bangun pagi menemani bapak dan ibu ngeteh dan sarapan pagi. Selepas bapak berangkat saya menemani ibu berbincang sana-sini. Membaca buku dari siang sampai sore, bahkan kadang sampai malam. Ngobrol bersama bapak dan ibu. Menulis blog (dulu masih rajin). Tidur. Akan berulang sepanjang pekan. Akhir pekan sedikit berbeda, pagi jalan kaki bersama bapak dan minggu kami bertiga ke gereja bersama. Hanya 2 tambahan aktivitas itu, dan hanya 2 aktivitas itu yang membuatku 'keluar' dari (bangunan) rumah.

Selain menikmati hari-hari di rumah aja sebulan itu, saya juga punya misi sederhana tentang bapak dan ibu. Mumpung kedua adik saya sudah merantau semua dan jarang pulang. Kapan lagi saya punya waktu (lagi) bertigaan dengan mereka. Baru sampai usia 3 tahun, adik saya lahir. Menjelang 7 tahun, adik kedua lahir. Setelah itu; bapak, ibu, dan kedua adik saya pindah rumah. Saya sendiri tinggal ikut kakek dan nenek hingga kelas 4 SD. Saat kelas 4 SD kembali bersama mereka, semua sudah berbeda. Tiba-tiba saya sudah (dianggap) bukan anak kecil lagi. Ada kebersamaan yang kurang dan hilang antara saya dan orang tua. Saya justru merasa, saya ini anak kakek dan nenek. Ketika membahas indahnya masa kecil, kenangan bersama kakek dan nenek lebih mudah dicari. Hingga dewasa ini, jejak kakek dan nenek masih terus membayang. Saya bisa mengaitkan segala hal pada kenangan bersama kakek dan nenek.

Setelah tamat SMA, lagi-lagi saya berpisah dengan orang tua. Saya merantau di kota lain. Selesai kuliah, saya masih merantau. Hingga detik ini. Hanya sekitar 1/3 usia saya yang dihabiskan bersama bapak dan ibu.

Tetapi setiap kali saya bilang; "Pak, Bu. Tius (panggilan kecilku) belum bisa pulang." Mereka dengan lembut akan menjawab: "Rapopo mas, sing penting sehat. Wes maem durung?"

Mata mana yang mampu menahan derasnya haru? Kata orang; "rindu itu seperti hutang, harus dibayar." Saya tidak percaya. Kalau itu prinsipnya, saya takkan pernah lunas membayar rindu ini. Bagi saya rindu itu bukan tercipta karena perpisahan atau jarak. Rindu ada karena cinta yang terus bersatu dan tak pernah pergi (dari hati), meski raga berpisah dan berjarak. Rindu-rindu saya selalu lunas setiap kali saya menyadari, ada bapak dan ibu yang bertelut berdoa menyebut nama saya.

Kata mbah Tedjo: "puncak rindu paling dasyat adalah ketika dua orang tak saling telp, wa, dll tapi diam-diam saling mendoakan"

Setelah hampir 1 bulan penuh saya memperdalam perbincangan dengan bapak dan ibu, akhirnya sampai juga harinya. Itu hari pertama pada pekan terakhir bulan Januari 2018, saya mengatakan; "Saya mau jadi guru boleh, kan?"

Di tangan bapak dan ibu ada piring dan sendok yang tertahan beberapa detik ketika mendengar tanya itu pagi-pagi. "Kamu mau jadi guru di mana?"

Setelah saya jelaskan, mereka mengijinkan. Sepanjang 1 minggu sebelum keberangkatan saya, suasana rumah berubah. Entah apa rasanya. Yang teringat saat itu ialah cerita kecil saya yang senang dengan hari sabtu dan benci hari minggu. Sabtu adalah hari bapak dan ibu (dulu) datang menjenguk ke rumah kakek. Minggu ialah hari mereka kembali ke rumahnya. Saya ingat betul, tidak pernah menangis di hari minggu (sebelum bapak dan ibu benar-benar tak terlihat di ujung jalan). Cerita itu kembali menyuar di benak dan batin saya di satu minggu terakhir.

Ini harinya. Pagi itu saya sudah siap dengan semua barang yang dibantu ibu menyiapkan malam harinya. Sekali lagi saya menatap lekat wajah mereka. Saya tidak mau menangis. Saya tidak mau mereka melihat saya menangis, itu maksudnya. Saya pun tahu, bapak dan ibu begitu. Bapak telah siap di motor untuk mengantar ke terminal. Setelah lambaian tangan, motor berjalan. Saya tengok sekali lagi dan menyaksikan ibu menangis di ambang pintu. Saya diam, bapak pun diam sepanjang jalan hingga terminal. Meski tak pernah saya pastikan, apa makna diamnya.

Hari-hari ini saya melihat begitu banyak berita duka tentang keluarga. Setiap hari, bahkan lebih dari 1 atau 2 kali. Ini membuat saya setiap hari rindu rumah.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • terus saling merindu, saling mendoakan ya kak, semoga baik2 keluarga di rumah.. bagus sekali tulisannya kak..

    • Amin. Saya harus terus berdoa agar rindunya terbayar lunas 🙏😊 

      Terima kasih, kak Ine.

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa