AES037 Antara Mekanistik dan Holistik

AES037 Antara Mekanistik dan Holistik

Salah satu tantangan terbesar saat mengolah berbagai hal di dalam ranah Pendidikan Holistik adalah bagaimana menemukan titk temu atau koneksi dari berbagai hal yang selama ini dipandang atau dipahami sebagai terpisah atau sama sekali tidak berhubungan. Ini jadi tantangan terbesar buat kami di Semi Palar. Dalam pemikiran holistik kita kenal kalimat-kalimat seperti 'we are all one' atau 'everything is connected'. Fritjof Capra - salah satu pemikir besar soal ini menuliskan hal ini sebagai judul bukunya 'The Hidden Connection'. Judul buku ini - apabila mengacu pada pemikiran Capra, menggaris bawahi bahwa segala sesuatu pada dasarnya memang terkoneksi, problematikanya adalah sering kali, keterhubungan itu tidak kasat mata, alias tersembunyi.  

Dari sini kita bisa memahami apa yang dikatakan oleh Leonardo Da Vinci - seperti tertulis di gambar di atas ini : 

Learn How to See, Realize Everything is Connected to Everything Else

Kalimat ini juga apabila dipahami betul, mengimplikasikan bahwa kita perlu belajar memandang segala sesuatu. Kita mungkin bisa melihat, tapi belum bisa dipastikan, bahwa apa yang kita lihat membawa kita kepada kesadaran (realization) mengenai keterkaitan (connection) antara segala sesuatu. Jadi kita perlu belajar lagi bagaimana melihat segala sesuatu.

Video di bawah ini membahas tentang ini. Tentang bagaimana melihat, tentang sudut pandang, tentang mindset, tentang perspektif. Dialog ini menempatkan dua orang dengan sudut pandang yang sangat berbeda. Yang satu (Sean) adalah seorang saintis, yang berpijak pada sudut pandang yang sangat deterministik. Sangat materialistik, boleh dibilang memang pijakannya adalah fisika newtonian. Sangat jelas dari bagaimana ia memaparkan sesuatu. Dalam sudut pandang ini, hal-hal yang namanya kesadaran (consciousness, awareness atau apapun itu) seakan tidak diakui atau tidak mendapat tempat, karena sains merasa sudah berhasil membedah dan mengetahui sampai komponen terkecil, apa komponen yang membentuk sesuatu - dalam hal ini misalnya, tubuh manusia.  

Di sisi lain, Alan, walaupun sama-sama belajar sains, beliau juga belajar belasan tahun mengenai Budhisme. Jadi keduanya orang barat, tapi sekarang berdiri dengan sudut pandang yang sangat berbeda. Walaupun saya bisa memahami, mengapresiasi cara berpikir Sean, saya lebih nyambung sama cara berpikir Alan yang lebih terbuka.

Saat kita bicara mind, body and spirit, cara berpikir saintifik barat akan kesulitan saat diminta menjelaskan apa itu spirit. Soul atau jiwa sepertinya tidak ada dalam kamus saintifik barat, karena semata-mata tidak ada organ atau komponen tubuh yang terkait dengan keberadaan hal-hal semacam itu. Contoh lain, peradaban timur sangat percaya pada keberadaan cakra atau simpul2 enerji dalam tubuh manusia. Ilmu pengobatan timur, seperti di India atau di Cina bertumpu pada pemahaman mengenai aliran enerji dalam tubuh manusia yang disebut Chi atau Prana. Dalam ilmu kedokteran barat, hal itu tidak diakui karena saat tubuh manusia dibedah, organ-organ yang mewakili simpul enerji atau kanal-kanal yang mengalirkan enerji itu tidak pernah ditemukan. Kedokteran barat hanya tau ada sistem pencernaan, sistem peredaran darah atau sistem syaraf - karena secara material, fisikal, organ-organ itu ada. Semacam itu. 

Jadi sebetulnya kami di Semi Palar terus berhadapan dengan dikotomi tersebut. Ilmu pendidikan di Indonesia-pun banyak datang dari perspektif keilmuan Barat - karena kita selama 350 tahun dijajah Belanda. Di sisi lain sebetulnya kita punya kearifan lokal yang berpijak dari sudut pandang dan kearifan lokal masyarakat Nusantara yang berkembang ratusan tahun sebelum era kolonialisme di Indonesia. Seperti halnya peradaban India, Cina, masyarakat Nusantara sebetulnya punya perbendaharaan keilmuan yang luar biasa. 

Sains pada dasarnya adalah ilmu bagaimana memahami realita di alam semesta ini. Selama ini yang dibilang sains adalah ilmu dari Barat. Padahal peradaban timur juga memiliki ilmu sainsnya tersendiri. Yoga, misalnya, berkembang sejak dua belas ribu tahun silam. Perjalanan sekian panjang membuat Yoga memahami betul bagaimana tubuh manusia bekerja dalam kaitannya dengan alam semesta. Ilmu yang sebetulnya sangat luar biasa... 

Kenapa akhirnya Semi Palar terbawa ke ranah ini, semata-mata karena ini tidak bisa dihindari. Untuk memahami keterkaitan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, kita perlu belajar melihat - seperti kata Leonardo Da Vinci. Dan untuk memandang dan memahami segala sesuatu secara utuh, kita perlu mata, pikiran dan hati yang terbuka. Salam.

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa