AES #9 Sebuah Diskusi Singkat Gender EQUALITY

 

Kemarin, hari Jumat, aku bersama teman-teman salah satu komunitas gerejaku mengadakan pertemuan rutin. Pertemuan tersebut dinamakan pertemuan sel. Biasanya, salah satu agenda kami di dalam pertemuan tersebut adalah berdiskusi mengenai suatu topik tertentu. Topik yang kemarin kami diskusikan adalah tentang kesetaraan gender di dalam kehidupan bermasyarkat dan dalam hubungan antar satu sama lain. Sebenarnya topik tersebut merupakan topik hasil request-an ku. Aku merasa pengen aja, mengetahui gimana pandangan orang lain dan berusaha drawing conclusion yang terbaik tentang bias stigma society yang akhirnya menjadi masalah gender inequality dan bagaimana menyandingkannya dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya memang saling melengkapi (namun sama-sama excel di bidang yang dilengkapinya, bukannya yang satu lebih dianggap atau memiliki akses yang lebih dari pada yang lain), bukannya sama persis.

 

Jadi, all-in-all dari hasil diskusi kemarin, bisa disimpulkan kami setuju, bahwa permasalahan ketidaksetaraan gender yang terjadi sekarang ini (terutama di Indonesia dan mungkin juga di negara berkembang lainnya) sebenarnya didominasi oleh stigma yang masih tertanam di masyarakat itu sendiri tentang ketidaksetaraan gender yang memang terjadi di masa lalu. Sebab, apabila kita melihat ke industri-industri profesional misalnya, kesetaraan gender tidak begitu menjadi masalah. Permasalahan ini juga nampaknya diawali dengan hal yang ditanamkan alias diajarkan kepada kita pada masa kecil serta juga pergaulan kita.

 

Selain itu, kami juga sempat berdiskusi ke ranah kehidupan dan hubungan antar perempuan dan laki-laki pada zaman manusia prasejarah. Kami berdiskusi sedikit berbagi pengetahuan kami (yang juga tidak banyak) tentang hal tersebut. Bagaimana dulu sebenarnya peranan laki-laki dan perempuan mirip-mirip, hingga akhirnya perempuan karena memilki anak dan harus mengasuhnya jadi cenderung mau lebih menetap dan tidak nomaden, sehingga akhirnya menemukan cara bertani dan tidak harus berpindah-pindah terus. Hal itu (katanya) mulai menjadi asal muasal kenapa ada diferensiasi bahwa perempuan kerjanya di dapur, ngurusin rumah dan anak, hingga dibilang tidak memerlukan pendidikan yang tinggi-tinggi, sementara laki-laki boleh berpendidikan tinggi karena harus menafkahi dan memimpin keluarga.

 

Jadi, singkat kata, langsung lompat saja ke kesimpulan. Kami menyimpulkan bahwa akar permasalahan dari kurangnya inklusifitas gender sekarang ini adalah karena stigma yang masih berkeliaran di masyarakat, sehingga kita tertarik ke realita-realita tersebut. Akan tetapi, kami juga masih bingung untuk mendeduksi secara pasti, mana yang harus dirubah, mana yang baik untuk dipertahankan, dan mana yang harus dikembangkan lagi, karena memang susah juga menarik batasan baku di dalam isu ini, sebab berhubungan dengan banyak hal (yang kami juga tidak punya pengetahuan mendalam di ranah tersebut). Dua konklusi yang bisa kami tarik dari hasil diskusi ini adalah kesempatan yang sama merupakan hal utama yang harus diberikan dan menjadi hak orang dengan identitas diri apa pun yang mereka miliki, ekspresikan, atau percayai (either gender, etnis, agama, orientasi seksual, kondisi tubuh, sindrom, atau lain sebagainya). Kedua, solusi yang paling baik dan praktis sepertinya adalah dengan mengajarkan keturunan kita nanti untuk tidak men-judge dengan membeda-bedakan identitas diri yang satu dengan yang lainnya harus seperti apa. Kita harus tetap membentuk keturunan kita dengan nilai yang kita anggap baik (nothing is absolute in this case, it just our representation of things that we experienced that build that reality or absoluteness; but I also believe that our representation is also influenced by the power that is beyond us all: GOD) namun dengan memberikan mereka ruang yang mengakar di dalam diri mereka untuk tidak men-judge satu sama lain berdasarkan dengan identitas diri mereka, melainkan melalui kemampuan, proses, usaha, dan hal-hal lain yang lebih akurat dan lebih objektif.

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa