AES#8 Apakah sudah siap kehilangan?

"Apakah kamu sudah siap kehilangan?"

Sebuah pertanyaan bodoh yang jawabannya pasti mana ada orang yang siap kehilangan ka! 

Entah pertanyaan tersebut akhir-akhir ini sering muncul. Mendengar kabar duka setiap hari, mendengar serine ambulan dan menyaksikan sendiri prosesi saudara yang berpulang, kemudian mendapati orang tua berjuang melawan virus… rasanya begitu sulit ketika saya harus dihadapkan kehilangan orang terkasih.

Kehilangan selalu dihiasi tangisan (ada yang menjerit, tersendu, dan menangis dalam hati).

Mana ada orang yang siap dengan kehilangan ka! Tanya ku pada diri sendiri. Pernyataan tersebut pun disambut oleh Semesta. Saat scrolling media sosial, saya menemukan tulisan tentang makna Idul Adha. Mendengar cerita asal muasal perintah berkurban sudah sejak lama dan setiap idul Adha khotib/penceramah menceritakan kisah Ibrahim dan Ismail namun ketika membaca tulisan ini dengan kondisi dan rasa yang ada rasanya lebih dalam masuk ke relung hati.

“Setiap kita adalah Ibrahim. Ibrahim punya ‘Ismail’.

Ismailmu mungkin hartamu.

Ismailmu mungkin jabatanmu.

Ismailmu mungkin gelarmu.

Ismailmu mungkin ego mu.

Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini.

Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Islmail. Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa “kepemilikan” terhadap Ismail karena hakikatnya semua adalah milik Allah”.

Njleebbb rasanya… semua milik Allah (tahta, harta, orang tua, anak, bahkan diri sendiri adalah milik Allah).

Secara kasat mata rasanya begitu tidak masuk akal Allah perintahkan Nabi Ibrahim menyembelih Ismail namun begitu Maha Rahmannya Maha Kuasa selalu ada makna dibalik perintahnya.

Manusia dengan segala “atribut” yang melekat nyatanya tak berpunya atas apa-apa.

Di situasi seperti ini, bahkan apapun kondisinya percaya dan ikhlas menjadi dua hal yang tak mudah.

Percaya bahwa segala sesuatu yang menimpa adalah bentuk Rahman RahimNya Allah pada hambanya, percaya bahwa Allah tidak menimpakan sesuatu diluar kesanggupan hambaNya, percaya tidak ada sesuatu yang terjadi sia-sia dengan dibarengi keikhlasan atas apapun yang terjadi tidak mudah.

Berterima sepenuh hati atas kehilangan orang terkasih masih sulit saya hadapi. Apa pertanda begitu melekatnya jiwa pada dunia???

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa