AES #69 Kimchi

 

photo: twoplaidaprons.com

 

Sambil kerja dari rumah, iseng-iseng saya coba download Radio.net di TV trus cari KLCBS. Tapi kemudian saya sadar saat ini di Bandung sudah lewat tengah malam, jadi tidak bisa buka. Akhirnya saya memilih lagu-lagu ringan yang mengingatkan masa "muda" hahaha.. saya pilih Album Hitman and Friends-nya David Foster. Benar saja, saya merasa balik ke beberapa dekade jaman masih kurus kering dan sering dikejar-kejar anjing karena dikira tulang berjalan. hahahaha..

 

Lunch Break, berhenti bekerja sebentar. Entah mengapa di kepala saya nongol satu kata, Kimchi! Siapa sih jaman sekarang yang tidak kenal Kimchi? ini adalah semacam acar pedas dari Korea. Saya beruntung bertahun-tahun yang lalu pernah mendapat kesempatan belajar membuat kimchi langsung dari seorang chef asal Korea. Ada berbagai jenis kimchi, malah katanya ada ratusan, tapi yang paling tradisional adalah yang dibuat dari sawi putih, timun atau daikon (lobak korea). Yang saya pelajari dibuat dari sawi putih, atau kalau di Amerika disebuh Napa Cabbage. Bahan-bahannya garam, bubuk cabe yang disebut Gochugaru, udang kecil yang sangat asin (saeujeot), beras ketan yang ditumbuk halus, kecap ikan, bawang putih, jahe, dan sebagainya. Sawi putih dibelah dua lalu digarami, biarkan beberapa saat hingga mengeluarkan air dan agak layu. Sawi kemudian dicuci untuk menghilangkan garamnya dan dibumbui lalu diperam selama berhari hari, berminggu-minggu jika ingin lebih baik lagi bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.

 

Saya merasa sangat beruntung bahwa dalam hidup ini diberi banyak kesempatan untuk bersentuhan dengan banyak sekali orang dari latar belakang budaya dan negara yang beraneka macam. Sejak kecil hingga di perguruan tinggi saya sama sekali tidak pernah mengenal makanan Korea. Jangankan makanan Korea seperti Kimchi ini, yang saya tahu hanya Park Jo Bong musuh bebuyutan Indonesia di pertandingan bulu tangkis! hahaha.. Ya, Makanan Korea baru bersentuhan dengan hidup saya di pertengahan hidup saya yang kedua! Sekarang saya malah sering memasaknya, bukan karena jago, sekali lagi tidak, jadi yang dibilang bang Ahkam engga 100 persen betul hehehe,  tapi sesungguhnya karena jauh lebih murah. Restoran Korea itu di mana-mana mahal! Untuk Korean BBQ saya tinggal beli daging, dibekukan sedikit agar mudah diiris tipis-tipis lalu ngarang bumbu perendam dan saus celupannya yang rata-rata bahan dasarnya kecap. Intinya, kecap, gula, bubuk cabe lalu silahkan membuat variasi masing masing, bisa ditambah air jeruk, parutan jahe atau bawang putih, minyak wijen, Gochujang (Korean fermented chili paste) dan lain-lain. Yang penting disamping daging yang dibakar lalu dicelup saos, harus ada makanan pendamping seperti misalnya Kimchi ini. Biasa saya buat Kimchi entah dari lobak, sawi atau timun, saya juga suka buat sayur toge yang saya campur dengan sedikit bawang putih, jahe, minyak wijen,gula dan garam. Bayam juga sedap sekali dimasak seperti ini. Bayam dan toge cukup disiram air panas agar layu. Tidak perlu penggorengan atau alart masak lainnya. Cukup mangkok untuk mencampur bahan-bahan. Mudah, sehat dan yang jelas enak sekali! Saking cintanya saya pada masakan korea, selama beberapa tahun pada saat Thanksgiving saya bahkan membuat Kalkun ala Korea! Serius! Bahkan stuffing-nya saya isi dengan ketan jadi rasanya mirip sekali dengan bacang! Sumpah, enak sekali!

 

photo: Fabiosalomoni.it

 

Makanan adalah salah satu cara merayakan kehidupan. Menikmati makanan dari berbagai tempat bagaikan merayakan dan menghargai berbagai budaya yang membuat manusia menjadi begitu agung dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya! Begitu indahnya perbedaan sehingga manusia menjadi begitu kaya dengan berbagai keragaman. Begitu kayanya dengan perbedaan, kita diberi kesempatan untuk menikmati berbagai bunga kehidupan yang hampir tidak terbatas, dan itu semua sangat manusiawi. Karena kita manusia maka kita bisa melakukan ini semua. Kita tidak hanya hidup dari rumput dan daun-daunan seperti kambing, atau hanya biji-bijian eperti burung. Sangat manusiawi hingga kita mampu berkreasi, mencipta sebagai bentuk penghargaan akan hidup dan kemuliaan yang diberikan oleh Pencipta Yang Agung! Jadi seperti Andrea Bocelli dalam lagunya Vivere yang di produksi oleh David Foster. Kita diajak untuk  Vivere!  Live! to live, to Experience! Dare to Live! because living is beautiful even if you have never asked for it, Vivere el bello anche se non I'hai chiesto mai!***

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Hehehe, dengerin album David Foster serasa kembali ke masa muda ya, Pak Jo. Ada yang bilang begini: "We’ve already invented a time machine. It’s called music."

    Kimchi ini bagus banget buat kesehatan ceunah ya.

    • Hahahah.. iya. Bikin lupa usia. Oh Kimchi bikin boros nasi dan enak banget buat nasi goreng. 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa