AES #67 Nothing Beats Mom's Cooking!

Saya balas ah, ini buat bang Ahkam! Karena ide ini muncul sesudah membaca esainya abang ini 

Siapa yang bisa mengalahkan masakan ibu? Saya dengan berani bisa berkata, tidak ada! Kenapa begitu? jawabannya cuma satu kata: Memory! Ibu selalu ada sejak hari pertama kita hadir di dunia. Pengalaman merasakan makanan pertama kali ketika otak kita sudah mulai merekam segala bentuk kenangan dalam kehidupan tidak akan jauh dari karakter seorang ibu yang kemudian menjadi sebuah pondasi dan standar penilaian terhadap makanan yang dinikmati di kemudian hari.

Saya berani bertaruh, hampir setiap orang ketika mulai tinggal berjauhan dengan orang tua, pertama kali yang dikangeni adalah masakan rumah, masakan ibu. Bagi penggemar masak, inspirasi yang didapat tidak jauh dari masakan beliau ini. Begitu juga yang terjadi pada saya. Pada saat pulang, yang dicari adalah makanan favorit sejak kecil. Lalu ketika memasak, inspirasi yang terbentuk tanpa sadar sejak masa kecil semakin berkembang dengan imbuhan bumbu pengalaman yang diperoleh selama perjalanan bertualang dalam hidup akhirnya memberikan kekhasan tersendiri.

Sebuah study menemukan bahwa ada hubungan langsung antara taste memory dengan tempat dan waktu ketika merasakan makanan tertentu. Saya ambil contoh dari pengalaman pribadi, sampai sekarang saya sama sekali tidak tertarik dengan bubur lemu. Saya bisa membayangkan rasanya bahkan harumnya, tapi saya sama sekali tidak tertarik bahkan menghindari makanan itu karena memberikan kenangan buruk ketika diopname karena demam berdarah selama 11 hari dan setiap hari saya harus makan bubur lemu! John S. Allen dalam bukunya The omnivorous Mind melihat kaitan yang sangat kuat antara makanan dan memory. Dia mengatakan bahwa bagian dari otak, hippocampus, yang bertanggung jawab atas memory mempunyai hubungan sangat kuat dengan bagian dari otak lain yang memiliki keterkaitan dengan emosi dan penciuman. Makanan sangat erat kaitannya dengan emosi dan bau, jadi makanan jelas-jelas berkaitan dengan memory!

Sekarang pendapat saya, mungkin saja salah loh. Menurut saya memasak juga tidak jauh dari memory entah disadari atau tidak. Pertama kali memasak mungkin masih uji coba dan bermain dengan komposisi bumbu. Hasilnya bisa enak atau bahkan hancur-hancuran. Tapi dengan berjalannya waktu dan banyaknya jam terbang lama-lama terbentuk sebuah memory yang menjadi standard operating procedure (SOP). Dari sana semua menjadi serba otomatis. Tidak ada lagi takar menakar, bahkan kadang tidak perlu mencicipi karena secara otomatis sudah punya feeling bahwa makanan itu sudah "pas"!, seriusan! Sama seperti orang bermain piano, ketika mulai belajar yang namanya tempo metronome itu sangat penting, lalu lama kelamaan memory dalam otak bekerja secara otomatis dan benda yang berbunyi tik tok tik tok itu tidak diperlukan lagi.

Terakhir, kita boleh mencoba makanan apa saja dan di mana saja. Kita boleh berkata bahwa steak paling enak itu di restoran A, bubur ayam paling enak itu di lokasi B. Tapi tetap makanan paling enak adalah makanan rumah, makanan yang dimasak oleh Ibu karena ada kekurangan dari makanan-makanan lain selain masakan ibu, yaitu kenangan indah dan memory kebersamaan yang diciptakan dan dialami selama bertahun-tahun. Satu lagi, memory masa kecil itu sulit dilupakan. Jadi apapun yang terjadi masakan ibu selalu punya kelebihan! ***

 

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Terima kasih banyak, Pak Jo. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼 Very beautiful essay. 😍 Masakan ibu memang paling enak sedunia. 

    Benar juga, saya liat kalo orang yg udah jago masak emang begitu, nggak pake takar2an lagi ya. Udah feeling aja semuanya. Nggak dicicip-cicipi. Tapi rasanya bisa pas dan enak. Tepat banget kata Pak Jo, seperti pianis kawakan yg nggak butuh metronome lagi. 😎👌

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa