AES#6 Ulasan: Taksu Ubud

AES#6 Ulasan: Taksu Ubud

Taksu Ubud sebuah judul teater yang menceritakan ketakutan, kegamangan seorang pemuda bernama Umbara dalam menentukan pilihan. Umbara seorang pemuda yang harus menentukan pilihan antara melanjutkan karir di perantauan atau kembali ke kampung untuk menjaga dan melestarikan adat leluhur.

Dalam perjalanan jiwanya seperti ada yang mengetuk pintu kesadaran jiwa Umbara bahwa “aku harus pulang”.

Dalam perjalanan pulangnya, kegamangan pun terus berkecambuk dalam relung hatinya. Tak mudah memang.

Sesampainya pada tanah leluhur (Ubud), Umbara melihat beragam macam adat istiadat leluhurnya seperti sekelompok seniman sedang latihan gamelan dan tari kecak, anak-anak sedang bermain tradisonal sambil bersenandung, seni lukis, dalang yang sedang mementaskan lakon pewayangan, dan tradisi adat menjaga pohon. Penjelajahan tersebut ternyata meluluhkan rasa keterasingan dan menyentuh kesadaran jiwa Umbara semakin dalam.

Ketika bertemu dengan ibu, keduanya saling memeluk Umbara menceritakan kegamangan yang ada dalam relung hatinya.

“Aku bingung, takut, cemas, dan kurang paham untuk kembali ke tanah leluhur kita” ucap Umbara

“Anakku, sang waktu memakan kita setiap saat. Jangan menyesali masa lalu dan merindukan yang belum datang.  Seperti kamu sedang berkelana pada akhirnya pencaharian mu berakhir juga. Pulang … kembali pada akar mu”. jawab ibu sambil mengusap kepala Umbara

“aku bingung, bagaimana menanggung tanggung jawab adat yang rumit ini?” Tanya Umbara 

“Tidak ada yang rumit anak ku, bila melihat dengan nurani. Ia adalah ulah, budi, dharma”. Jawab ibu

Kegamangan ini tak hanya dialami Umbara. Umbara berhasil mewakili suara hati pemuda yang mengalami kekhawatiran yang sama. Memilih antara kemapaman karir di perantauan atau kembali pulang pada kampung halaman menjadi penerus adat leluhur. Hidup memang pilihan. Semoga pilihan apapun yang sedang dijalani, sebuah putusan yang berasal dari suara hati.

Kisah ini memberikan gambaran bahwa ketika manusia kembali ke akar dan melibatkan nurani dalam melihat berbagai peristiwa mengantarkan manusia pada keseimbangan dan ketenangan menjelma menjadi taksu jiwa. (taksu= cahaya/kekuatan).

Taksu Ubud dapat disaksikan YouTube: Budaya saya sampai tanggal 12 Juli 2021. Saya lampirkan linknya. Selamat menonton meresapi yang tersaji 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • nontooon =D nuhun ka Ika.. 

    • sami-sami Kak Ine

      Selamat menonton kak :)

  •  

    Waah, terima kasih kak Ika, udah lama banget ga nonton teater... Makasi ni esainya asik, topiknya maupun ulasannya. 

    Sekalian aja ngasi workshop ya, untuk menampilkan youtube di dalam posting, tekan tombol ke tiga di toolbarnya. 
    Lalu copykan kode embed youtube yang bisa diakses melalui tombol Share, lalu di dalamnya pilih embed. Akan keluar tampilan seperti di bawah ini. Nah kode yang di sebelah kanan itu yang di copy paste ke blogpost di Ririungan. Nanti tampilan youtubenya akan muncul di dalam post. Selamat mencoba. 

    9219886852?profile=RESIZE_584x

     

    • selamat menonton Kak Andy :)

      waahh makasih kak, workshopnya langsung ika praktekan :)

      matur nuwun kak 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa