AES#5 Ibu Pertiwi Sedang Berlinang Air Mata

 

9215827667?profile=RESIZE_710xMembaca tulisan diatas membuat saya ikut merasa geram juga. Kenapa masyarakat adat atau desa selalu dikaitkan dgn kemiskinan? Jika kemiskinan dikaitkan dgn ketahanan pangan, jangan salah! masyarakat adat atau desa lah yang memiliki kemandirian ketahanan pangan. Bagaimana tidak, mereka memiliki persediaan pangan di alam yang dijaga maupun diolah. Di desa tidak ada orang kelaparan mau makan bisa ambil di kebun atau pekarangan. Bagaimana dgn masyarakat urban? jika tidak punya uang, kita tidak bisa membeli kebutuhan pangan. Mereka (masyarakat adat) "tidak bekerja mencari uang" tanpa uang pun mereka sudah bisa mencukupi kebutuhannya, sedangkan masyarakat kota sebaliknya "bekerja mencari uang untuk mencukupi kebutuhan" jadi siapa yg miskin?

Rasanya greget ketika mendengar masyarakat desa di setting menjadi ke-kota-an. Ketika masa penempatan di daerah Bukit Barisan saya menjumpai masyarakat Suku Kubu. Mereka sudah biasa tinggal di hutan dgn segala kebutuhan yang disediakan oleh alam, namun pemerintah membuatkan mereka rumah-rumah panggung yang membuat mereka jauh dari hutan. Lalu apa yang terjadi? Kemandirian ketahanan pangan mereka hilang, akhirnya mereka mengalami kesulitan mencukupi kebutuhan pangannya. 
Saya tidak menutup mata niat baik pemerintah ini, namun alangkah baiknya ketika mereka juga didampingi dengan program yg jelas dan terukur tdk hanya membuatkan rumah panggung lalu sudah. Bukankah itu akan memunculkan permasalahan baru?
9215881291?profile=RESIZE_710x
 
Saya belum pernah dengar hutan rusak karena masyarakat adat. Akhir-akhir ini hati ini makin patah ketika membaca berita bahwa hutan kepulauan Sangihe seluas 42ribu hektar (setengah dari luas kepulauan Sangihe) akan dialihfungsikan menjadi tambang emas. Sediiihhh akutuh. Lalu bagaimana respon masyarakat? masyarakat jelas menolaknya. Pertambangan merusak ekosistem hutan, menyebabkan pencemaran lingkungan, mengundang bencana alam. Belum ada contoh pertambangan yang tidak mencemari lingkungan dan merusak alam. 
 
Ketika banyak negara berlomba lomba melakukan penghijauan, melindungi hutan demi mengurangi perubahan iklim, kenapa negara tercinta ini justru sebaliknyaaa? dan kalau dipikir-pikir kan masyarakat Sanghie tidak meminta pemerintah untuk mencukupi kebutuhannya, alam sudah menyediakan dengan lengkap. Lalu mengapa apa yang sudah tersedia diusik?  Sudah cukup ibu Pertiwi berlinang air mata.
 
Mohon maaf jika tulisan ini sedikit ngegass... bukan menyalahkan pihak tertentu, hanya mengeluarkan apa yang terpendam dalam jiwa dan raga.
Semoga Ibu Periwi kembali tersenyum :) Aamiin
 
 
E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Mantap, Kak Ika. Nggak apa2 ngegas juga...nggak apa2 menyalahkan pihak tertentu juga. Kalau memang salah, ya, salah aja. Kita harus membiasakan cara berpikir saintifik. 

    • Matur nuwun Pak Ahkam.. yang penting ada data yang valid ya pak :)

    • Sami-sami, Kak Ika. 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa