AES #4 GIBAH

Gibah baik atau buruk?

Lah ya ndak tahu.

 

Bagaimana kita dapat mengatur diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita agar tetap berada pada batasan-batasan yang benar dan tidak berdampak buruk?

Lah mana saya tahu?! Wo ya jangan tanya saya dong. Kau kira siapa diriku?

 

Eits, jadi apa nih?

Menurutku, gibah alias ngomongin orang memang memiliki sensasi keunikannya sendiri yang membuat manusia (khususnya spesies kita, Homo Sapiens) kecanduan. Fenomena membicarakan orang lain ini tidak semena-mena baik atau buruk. Nyatanya Homo Sapiens dapat lebih bertahan dibandingkan spesies-spesies manusia purba lainnya juga berkat kegemaran gibah ini. Jadi, gibah pastinya juga di satu sisi dapat memberi kita kekuatan yang positif juga. Akan tetapi, memang gibah sering dianggap orang hal yang buruk untuk dilakukan dan juga menjadi dosa. Hal tersebut sebenarnya tidak salah juga, karena ngomongin orang dengan cara atau tujuan tertentu juga bisa membawa dampak negatif bagi beberapa pihak (diri kita, orang lain yang menjadi lawan bicara, orang yang kita omongi, masyarakat, dsb).

So, ya keep in mind aja apa yang baik untuk diomongin dan apakah hal tersebut akan jadi membangun atau malah menjatuhkan diri orang/pihak yang kita omongin (/bahkan diri kita/orang di sekitar)

Enak ga selalu bagus buat diri. Besides, apa & kenapa suatu hal kita anggap enak atau engga? Sepertinya bisa dirubah juga yang ga enak jadi enak, atau malah yang enak jadi ga begitu enak.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa