AES#3 : Apa yang berbeda dengan Atomic Essay?

AES#3 : Apa yang berbeda dengan Atomic Essay?

 

Tulisan ke tiga saya untuk Atomic Essay adalah tentang apa yang berbeda dari hal-hal yang selama ini jadi pengalaman selama mencoba menulis / blogging di berbagai platform.

Ini tulisan saya yang ketiga dalam kontek Atomic Essay Smipa. Sudah jam 8 malam, tapi saya masih berhutang tulisan saya. Saya jadi ingat komitmen saya saat menuliskan tulisan yang pertama – bahwa Atomic Essay adalah perkara membangun kebiasaan / tuman. Seperti halnya pengalaman saya melaksanakan waktu hening setiap hari atau bersepeda setiap minggu: rutinitas, disiplin dan konsistensi jadi kata kuncinya.

Sekarang jam delapan malam, saya memutuskan untuk mulai esai yang ketiga ini. Sebelumnya saya berpikir apa yang mau saya tuliskan hari ini. Ada berbagai ide – tapi saya pikir ini saat yang baik untuk menuliskan apa yang saya alami saat menuliskan Atomic Essay. Apa yang berbeda dari proses menulis saya yang sebelum-sebelumnya.

Akhirnya saya berpikir menulis tentang ini... Tulisan saya ketik di Word – untuk bisa mengetahui jumlah word count selagi saya menuangkan apa yang terlintas di kepala ini. Toh kontennya tidak jadi terlalu penting. Yang penting apa yang bisa saya tuangkan ke dalam baris-baris kalimat ke dalam esai pendek ini. Saya juga iseng-iseng menyalakan stop-watch di hape saya untuk bisa memantau berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah atomic essay.

Baru saja melirik ke word count : Angka sudah menunjukkan 221 words... Waktu menunjukkan 7 menit, 53 detik... Ternyata sama sekali tidak memakan waktu lama dan tidak sulit juga mencapai batas kuota 250 kata untuk sebuah atomic essay. Hmm tercapai sudah 250 kata.

Jadi sebagai penutup – buat teman2 yang ingin mencoba memulai – jangan banyak berpikir. Ternyata tidak sampai 10 menit juga waktunya. Dan hari ini saya sudah mencapai target untuk atomic essay saya yang ketiga. Mari mencoba... Tulisan ini saya akhiri dengan hitungan 299 kata... Salam Literasi.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa