AES #29 Faith, Doubt & Virus

Ini mungkin akan menjadi tulisan saya akan akan melahirkan caci maki atau malah dikutuk! hehehe.. tapi ya sudahlah, toh ada yang namanya hak bebas berpendapat dan saya berjanji akan berusaha tidak menyinggung perasaan siapapun. Jika merasa tersinggung, mohon saya dimaafkan, Ini hanya sekedar concerns yang saya ungkapkan. Here you go!

 

Akhirnya, sesudah lebih dari 1 tahun, saya memberanikan diri untuk kembali ke gereja. Saya tidak ingat sudah berapa lama, mungkin terakhir pada saat Natal sebelum Pandemi. Jadi anggap saja, akhir tahun 2019.

Kerinduan untuk duduk dengan khusuk mengikuti ritual keagamaan memang berbeda dengan bentuk kerinduan yang lain. Saya memilih tempat ibadah yang agak konservatif, dimana masih terlihat banyak wanita yang berdoa yang menggunakan kain kerudung putih berenda di atas kepalanya. Ini memang gereja Katolik konservatif yang lumayan vokal dalam menentang gelombang sekularisme dan praktik-praktik yang bertentangan dengan kepercayaan yang juga sangat kuat di Amerika, seperti misalnya LGBTQ,  family plan dan abortion!

Anyway, bukan ini tujuan saya cerita. Tapi ada hal lain yang buat saya agak agak terganggu, terutama ada kaitannya dengan masalah keselamatan dan kesehatan sehubungan dengan Covid 19.

Saat masuk gereja saya memperhatikan hampir semua orang menjaga jarak walau tidak ada yang memakai masker. Sekarang di kota saya tinggal memang penggunaan masker sudah menjadi optional dan tidak diwajibkan lagi, jadi saya tidak protes masalah ini. Sebelum komuni, 2 orang petugas maju ke muka altar dan membasuh tangan dengan disinfektan. Saya merasa lebih aman, nyaman dan memutuskan untuk menyambut komuni.

Komuni di sini umat boleh memilih dengan menerimanya di tangan atau hanya membuka mulut tanpa memegang hosti. Saya lebih suka dengan menyambut di tangan, lalu saya tercengang ketika hampir semua umat memilih minum anggur dan petugas hanya membersihkan piala dengan kain putih!! Saya memilih untuk melewatkan anggur. Nah di sini saya mulai ragu-ragu!

Setelah saya komuni, saya menghadapi semacam konflik dalam diri! Apakah iman saya lemah? Ataukah para umat itu ignorant atau malah, maaf, bodoh? buat apa cuci tangan dengan disinfektan kalo kemudian semua orang berbagi germs dengan minum dari piala yang sama? konflik ini terus bergelut dalam batinku sepagian. Saya yakin bagi mereka yang menerima anggur yang sesuai dengan kepercayaan orang Katolik telah tertransformasi menjadi darah yang sacred and Holy. Otomatis kalau sakral dan kudus maka tidak akan menyebabkan penyakit. Tapi saya punya argumen lain, anggur itu sudah menjadi sakral tapi pialanya tidak! hahahaha..

Maaf saya bukannya menghujat. I am not trying to commit some kind of basphemy! Serius! tidak ada niatan. Hanya mngungkapkan konflik bathin dalam diri saya yang sungguh membingungkan. Satu sisi saya ingin menjadi manusia yang beriman kuat, tapi di sisi lain saya juga sebagai orang yang percaya pada ilmu pengetahuan dan sains. Nah ini gimana jadinya?!

Orang berpendapat bahwa sains itu masih muda dibandingkan dengan konsep Agama. Tapi ini juga masih bisa didebat! Banyak kejadian dalam sejarah bahwa pertentangan antara agama dan sains berakhir menyedihkan. Seperti contohnya teori Heliosentris yang diungkapkan oleh Galileo yang kemudian berakhir dengan house arrest bagi Galileo yang kemudian dikucilkan hingga akhir hayatnya karena bertentangan dengan Kitab Suci. Banyak kasus lain yang berkahir dengan hukuman mati, seperti dipancung, dibakar dan sebagainya yang membuat ngeri! Ini fakta sejarah!

Saya memang mencari aman dengan melewatkan anggur demi keamanan dan kesehatan diri. Saya tidak mengenal sekitar 100 orang yang berdoa bersama saya pagi ini, jadi saya tidak tahu apakah mereka semua sudah divaksin, apakah mereka semua tidak membawa virus, dan sebagainya. Fakta berkata bahwa banyak kaum konservatif di Amerika, terutama mereka yang sangat religius menolak eksistensi covid 19 dan pandemik! Mereka banyak percaya itu adalah konspirasi! Nah sangat logis jika saya harus mempunyai sikap dan bertindak secara hati-hati ketika berada di tengah-tengah kelompok konservatif bukan?

Jika teori konspirasi itu tidak dipercayai oleh 100 orang yang berdoa tadi, kemudian mereka berani menerima anggur karena ketebalan iman mereka dan percaya telah anggur telah bertransformasi, lalu ada apa dengan saya? Saya sekali lagi jadi ragu, apakah iman saya begitu dangkal sehingga takut menerima anggur? apakah saya tidak mempercayai tranformasi anggur itu? Apakah saya tidak percaya pada ekaristi yang kudus? Apakah saya tidak percaya akan kehadiran Tuhan dalam sakramen ini? Dimana saya menempatkan diri antara konflik religiositas dan sains? sebab secara scientific saya yakin bahwa piala itu tidak germ-free! Ada virus di sana walau belum tentu Covid 19! Saya harus bagaimana?

Jawabannya, saya tidak tahu! Dan saya tidak bisa diam saja dengan konflik ini. maka jadilah coretan ini, sebab saya gundah gulana, saya dihadapkan pada pertanyaan esensial tentang keimanan. Dan walau sudah sekian lama bertualang mencari kebenaran, pada saat seperti ini saya masih ragu-ragu!

Hermann Hesse berkata," Faith and doubt go hand in hand, they are complementaries. One who never doubts will never truly believe!"

Mungkin itu benar adanya, tapi kapan saya bisa sampai ke level "believe"? karena kalau believe, I think I will never have this fear! atau saya salah?!***

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Pagi... 

    Kemarin saya dapat ini di salah satu grup WA saya. Dr KH Ahmad Dahlan. 

    SEBUAH RENUNGAN

    Yang disebut agama itu sebenarnya apa, Kiai ?

    Tanya seorang santri kepada KH Ahmad Dahlan

    KH Ahmad Dahlan justru mengambil biola dan memainkan tembang Asmaradhana, hingga membuat para santrinya terbuai.

    Lalu beliau bertanya : Apa yang kalian rasakan setelah mendengar musik tadi ?

    Aku rasakan keindahan Kiai
    jawab Daniel.

    Seperti mimpi rasanya sambung Sangidu.

    Semua persoalan seperti mendadak hilang.
    Tentram tambah Jazuli.

    Damai sekali tukas Hisman.

    Nah, itulah agama, Jawab KH Ahmad Dahlan, Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, rasa tenteram, damai. Karena hakikat agama itu sendiri seperti musik. Mengayomi dan menyelimuti.

    Setelah itu salah seorang santri (Hisman) mencoba biola tersebut dan menghasilkan suara “menderit”
    Bikin pusing pendengarnya.

    Wah, suaranya berantakan ya kiai ? tanya Hisman sambil tersipu malu

    Nah, begitu juga agama. Jika Kita tak mempelajarinya dengan baik, maka agama hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan terganggu
    jawab beliau.

    Oooo begitu
    Jadi untuk bisa beragama dengan Baik itu, kita tidak boleh ikut ikutan, tapi harus mengerti ilmunya juga
    Seperti tadi, hanya karena melihat Kiai bermain biola, jangan langsung berpikir bahwa kita juga pasti bisa main biola. tambah Jazuli..

    Kesimpulan yg bagus jawab beliau..
    Ada kesimpulan lain ?

    Dalam beragama, kita tidak bisa hanya mengandalkan keinginan, hanya karena merasa bahwa keinginan itu baik. Misalnya, tadi saya merasa punya keinginan baik untuk bermain biola, tapi ternyata keinginan saya malah mengganggu saya dan orang lain, ulas Hisman.

    Kesimpulan yang jeli!
    Terima kasih.
    Puji beliau.

    Semoga dengan menjalani agama yang kita imani, kita mampu menghormati orang lain dan membawa kedamaian dalam hidup bersama.


    By.
    Achmad Faiz

    NB.
    Kyai Haji Ahmad Dahlan
    adalah pendiri Muhammadiyah

    Keindahan beragama datang dari qolbu

    Saya bersepakat sama beliau bahwa agama semestinya menghadirkan kedamaian bagi umatnya... 

    Kalau agama bikin gelisah tentu ada sesuatu yg salah... ada ataupun tidak ada COVID 🙏

    Di awal2 pandemi klaster penularan terbesar muncul di tempat ibadah / ritual keagamaan. Contohnya di Lembang dr satu gereja Kriaten dan di Malaysia dari sebuah Tabligh Akbar yg dihadiri ribuan orang. Belum lama ini di India tsunami COVID berasal dr sebuah ritual Hindu di sungai Gangga. 

    Mengutip teman2 di Cokro TV. Beragama juga harus pakai akal sehat... 🙏🙏🙏

    • Wah mencerahkan sekali. Konfilk yang saya alami justru seolah2 keputusan yang saya ambil atas pertimbangan akal sehat mengakibatkan keraguan akan iman. Sepertinya ini merupakan proses perjalanan menuju kedewasaan iman hehehe. Thanks Kak Andy! 

  • Terima kasih buat sharingnya, Pak Jo. Ini topik yang sangat menarik juga untuk kita diskusikan sambil ngopi2 nanti.

    • 😀😀😀 curhat ini sebetulnya hahahah

    • Siaappp... 🤓👌

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa