AES#25 Musik Sore, Ruang Belajar Holistik

"Awal adalah akhir, akhir adalah awal" kalimat yang mengawali video Musik Sore 2021 Rumah Belajar Semi Palar yang digelar secara virtual.

Menurut saya, Musik Sore yang disuguhkan penuh dengan kesederhanaan yang memunculkan kekhasan anak-anak. Bisa dikatakan sebagai ruang belajar yang holistik, ruang aktualisasi diri.

Saya pikir, sebetulnya bisa lebih oke lagi jika anak, guru, orangtua mengonsep sedemikian rupa menjadi seperti pagelaran sungguhan, entah menggunakan kostum atau dekorasi, dan lainnya. Tapi setelah dilihat kedua kalinya, konsepnya lebih otentik khas anak-anak, tidak dibuat-buat, mengalir apa adanya. 

Kenapa holistik? Karena didalam prosesnya, ada keterlibatan, kolaborasi, aktualisasi diri, ada proses kreatif dalam berkarya, ada pelibatan, ada kepercayaan, ada ide dan gagasan, respek, dan lainnya.

Di awal video, diperlihatkan keterlibatan orangtua dalam membuat karya bersama anak. Seperti Tara dan Yasha yang memunculkan khas anak-anak, kelompok Miana yang melibatkan anggota keluarga dalam mendukung penampilan salah satu anak. Juga yang tak kalah menarik adalah keterlibatan Kakak, seperti pada penampilan Jed dan Mikel bersama Kak Dita.

Musik Sore juga sebagai ruang aktualisasi diri, memperlihatkan potensi mereka dalam bermain alat musik. Seperti Bellva dengan piano klasiknya, Jed dan Mikel, jago bermain piano dan drum. Beberapa juga sangat piawai memainkan gitar di usia belia, saya sangat terpukau.

Hasilnya bagus, tapi yang paling keren dan paling penting adalah proses dibaliknya.

Walaupun ini kali pertama saya menyaksikan Musik Sore, saya bersyukur mendapat kesempatan terlibat dalam proses diskusi di kelompok Rosella di tengah waktu magang. Kakak memfasilitasi diskusi, anak-anak terlibat aktif memberikan ide dan gagasan sebagai cerminan daya imajinasi mereka.

Proses yang lebih sulit adalah menentukan ide yang mana yang akan diambil dan direalisasikan dari sekian banyak ide, hanya akan diputuskan satu diantara banyaknya ide. Disini dibutuhkan sikap menerima dan legowo, dan ternyata anak usia 9-10 tahunan bisa melakukannya.

Selain itu, ada kepercayaan dalam memberikan dan menjalankan peran, misal anak-anak menentukan siapa yang akan menjadi editor. Bagaimana teman-teman satu kelompok menaruh rasa percaya kepada editor untuk membuatkan ide mereka menjadi sebuah karya yang utuh.

Disini juga ada refleksi, ketika karya selesai, diperlihatkan kepada teman-teman satu kelompok dan diberi apresiasi. Kalau sudah bagus syukur, kalau teman-teman lain merasa kurang puas, ya editor harus mau diberi saran dan memperbaikinya.

5 aspek bintang Smipa tersurat dalam prosesnya.

Belum lagi jika kita bicara pemanfaatan media digital, hasil editan anak-anak super keren, saya mana bisa membuat seperti mereka buat. (@_@)

Menurut saya, ini suatu hal yang luar biasa… Tentu saja tentang pesan yang disampaikan dalam beberapa video, tentang pentingnya menjaga bumi. Ciri khas holistik...

Selamat ya, untuk tim pelaksana, dan tentu saja para penampil di Musik Sore 2021, kalian keren!!!

"Awal adalah akhir, akhir adalah awal"

Begitulah siklus kehidupan pembelajar yang akan terus berulang.

 

Salam,

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Terima kasih kak Fifin untuk ulasannya buat Musik Sore. Semoga hal-hal yang mewujud berpijak dari konsep yang kita usung bersama bisa kita terus jaga dan selanjutnya bisa hadir sebagai enerji kebaikan bagi alam semesta...   

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa