AES #21 Tuesdays With... Well, Me!

Pernah membaca memoir yang ditulis oleh Mitch Albom, Tuesdays With Morrie? Kalau belum, harus! Saya membacanya sekitar 2 tahun sesudah buku itu ditulis ketika kebetulan berhenti menghangatkan diri di toko buku Barnes and Nobel pada musim dingin di New York awal tahun 1999. Saat itu saya membaca halaman pertama, dan buku itu tidak pernah saya kembalikan ke rak buku. Saya bahkan membeli beberapa buah lagi dan saya kirimkan ke beberapa sahabat. Ini Memoir tentang seorang profesor yang mengidap ALS dan mengajari bagaimana merayakan kehidupan dengan menghadapi kematian. Very enlightening!

Beberapa minggu terakhir ini saya dihadapkan dengan beberapa peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan kematian, well, mlipir mlipir sedikit gitu. Mungkin berkaitan dengan kematian seorang sahabat, pagi ini tiba-tiba saya terigat kutipan dari buku Mitch Albom itu, "The truth is. once you learn how to die, you learn how to live." Sepertinya ini sangat logis, sering kita menghadapi situasi ketika kita hampir kehilangan sesuatu, kita justru menghargainya lebih dari sebelumnya. Pada saat kita sakit, kita tahu betapa berharganya kesehatan. Ketika kita bangkrut, kita tahu berapa kayanya kita dengan selembar 100 ribuan!

Beberapa waktu yang lalu saya sempat agak khawatir karena masalah kesehatan. Dokter menunggu hasil USG dan mempertimbangkan biopsi. Banyak yang saya pikirkan dan renungkan hanya dalam bebebapa malam. Seperti pada saat ketika akan divaksinasi, kita memperhatikan jarum suntik dan secara otomatis seluruh otot-otot mengejang. Suster akan mengingatkan kita untuk kembali rileks. Antisipasi kadang justru tidak membantu. Saya sulit tidur!

Di sisi lain, kesadaran akan kematian justru memberikan pengertian yang dalam terhadap arti dan nilai kehidupan. Pada saat itu, kita akan berusaha menghargai setiap detik-detik kehidupan tanpa mau membuang-buang waktu dengan sesuatu yang tidak berarti. Hidup menjadi begitu sangat berharga lebih dari segala sesuatu. Yang kemudian menjadi fokus bukanlah yang akan "pergi" tapi yang justru "tinggal" Seperti yang dikatakan Professor Dumbledore terhadap Harry Potter,"Do not pity the dead, pity the living!"

Yang begitu menarik dari pelajaran yang saya peroleh dari Tuesday with morrie adalah ini: "So many people walk around with a meaningless life. They seem half-asleep, even when they're busy doing things they think are important. This is because they are chasing the wrong things. The way you get meaning into your life is to devote yourself to loving others, devote yourself to your community around you, and devote yourself to creating something that gives you purpose and meaning." Jadi pada saatnya, yang akan pergi tidak berarti lagi, melainkan yang tinggal. Sekali lagi, "Do not pity the dead, pity the living"***

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Agreed. One of my favorite books as well. Very inspiring. I guess I need to read it again as it was few years back since I read it. 

    And yes, life is full of paradoxes... Once you realised your time is limited you will value your time so much more. I guess limitation can actually give you more... 
    Nice post Jo  

    • Thanks, Kak.

  • Beautiful reflection, Pak Jo. Para penganut Stoicism secara rutin "mengingat kematian" agar dapat hidup lebih bahagia.

    • Wah saya baru tau ini. Ada bahan buat baca2 😀 terima kasih informasinya 👍

    • Sama-sama, Pak Jo. Stoicism adalah filosofi masa lampau yang sedang trend lagi saat ini. Memang keren sih...Banyak life hacks bermanfaat dari prinsip-prinsip Stoic. Ada dua bahan bacaan yang bagus:

      1. Dari Tim Ferriss (sudah dia buat free PDF-nya):

      https://tim.blog/2017/07/06/tao-of-seneca/

      2. Daily Stoic dari Ryan Holiday (blog post di bawah ini topiknya tentang kematian):

      https://dailystoic.com/14-stoic-quotes-on-death/

      Tao of Seneca – Free PDFs – The Blog of Author Tim Ferriss
      My team and I have been working on this for more than six months, and it's finally finished!   The Tao of Seneca: Letters from a Stoic Master is a sm…
    • Wah mantap ini. Terima  kasih 🙏🙏🙏

    • Sama-sama, Pak Jo. 🙏🙏🙏

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa