AES#20 Kesetaraan Sosial

Hari ini, aku tidak mau menulis terlalu banyak, hanya ingin membagikan pengalaman yang aku jalani hari ini. Aku berkesempatan mengikuti sebuah kelas yang membahas mengenai kesetaraan gender dengan narasumber yang pernah merasa dikucilkan dan didiskriminasi karena kekurangan atau perbedaan yang dimilikinya. Beberapa narasumbernya merupakan orang keren, tunanetra, tunarungu,transgender dan tunawicara. Senang rasanya bisa berkesempatan berdiskusi dengan mendengarkan pemaparan materi dari mereka.

Mereka menceritakan bagaimana seni menyembuhkan mereka dari pengalaman-pengalaman buruk yang sebelumnya pernah mereka alami. Katanya dengan seni, mereka bisa mengekspresikan perasaan dan menumpahkan segala emosi yang mereka rasakan karena kalau dipendam itu tidak baik. Bahkan menari dan menyanyi di kamar mandipun merupakan salah satu cara meluapkan emosi yang baik loh. Katanya satu seni yang paling jelek adalah saat kita hanya memendam semua perasaan yang kita rasakan, menganggap semuanya baik-baik saja. 

Sempat disebutkan juga bahwa seringkali orang yang paling menjatuhkan kita adalah diri kita sendiri, saat kita berpikir negatif dan menganggap kita tidak mampu melakukan suatu hal. Kita seringkali membuat tembok sendiri, yang membuat kita tidak bisa berkembang. Kalimat itu setelah dipikirkan kembali, ternyata memang benar. Kita sering memikirkan hal buruk yang akan terjadi padahal belum mencobanya. Pikiran negatif dan kemungkinan terburuk selalu datang cepat sebelumn kita melakukan sesuatu.

Ia menyebutkan kita harus berhenti membuat tembok itu, jangan membuat batasan sendiri, yang akhirnya menghentikan diri kita untuk berkembang dan mencoba hal baru. salah satu pembicara juga sempat menyebutkan jangan melihat suatu hal dari 1 sisi saja, lihat dari perspektif yang luas.  Ya, aku setuju dengan kata-kata beliau, kalau tidak mau melihat dengan luas, kita akan terdiam di lokasi yang sama dan akan sulit memaknai hal itu.

Itulah hal yang aku dapatkan dari sesi selama 5 jam yang aku ikuti hari ini, senang rasanya bisa memperluas relasi dan sudut pandangku mengenai kesetaraan gender dan diskriminasi yang masih sering terjadi di Indonesia. Walaupun belum bisa berbuat banyak, tapi setidaknya mendapat edukasi terlebih dahulu, untuk kemudian bergerak dan menghasilkan ide-ide baru.

 

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa